BERIBADAH DENGAN MENGHADIRKAN MURYID SECARA RUHANI


Penulis mengatakan (pada halaman 30):

Apabila dipraktekkan dalam pelaksanaan amal ibadah, maka yang dimaksud dengan ber-yatawalla itu ialah bertawassul atau melaksanakan tawassul orang-orang yang ber-thariqah harus bertawassul kepada Rasulullah saw melalui guru-guru mursyidnya, supaya terjadi hubungan. Dalam istilah lain melaksanakan interaksi ruhaniyah, yaitu menghadirkan gurunya secara ruhaniyah di saat melaksanakan ibadah untuk diajak bersama-sama menghadapkan wijhah atau ber-tawajjuh kepada Allah ta’ala. Hal tersebut dilakukan supaya ibadah yang dilaksanakan lebih terfasilitasi kekhusyu’annya dan terbukanya pintu ijabah Allah Ta’ala.

Kesimpulan

  1. Orang-orang yang ber-thariqah harus bertawassul kepada Rasulullah saw melalui guru-guru mursyidnya, supaya terjadi hubungan.
  2. Menghadirkan gurunya secara ruhaniyah di saat melaksanakan ibadah untuk diajak bersama-sama menghadapkan wijhah atau ber-tawajjuh kepada Allah ta’ala. Hal tersebut dilakukan supaya ibadah yang dilaksanakan lebih terfasilitasi kekhusyu’annya dan terbukanya pintu ijabah Allah Ta’ala.

Bantahan kami:

Tarekat sufi yang dilakoni Kyai Luthfi ini tidak semata bid’ah. Bahkan, di dalamnya terdapat banyak kesesatan dan kesyirikan yang besar, hal ini dikarenakan mereka mengkultuskan syaikh atau guru mereka dengan meminta berkah darinya, berdzikir membayangkan wajah mursyidnya dalam hati agar bisa khusyuk dan penyelewengan-penyelewengan lainnya bila dilihat dari Kitab dan Sunnah

Bertawassul Pada Rasul Melalui guru-guru Mursyid

Tawassul kepada Rasulullah saw melalui guru-guru mursyidnya adalah bid’ah! Ini bisa menyebabkan pada kemusyrikan. Yaitu jika ia mempercayai bahwa Allah membutuhkan perantara. Sebagai-mana seorang pemimpin atau penguasa. Sebab dengan demikian ia menyamakan Tuhan dengan makhluk-Nya. Abu Hanifah berkata, “Aku benci memohon kepada Allah, dengan selain Allah.” [1].

Kesimpulannya bertawassul kepada Rasulullah saw melalui guru-guru mursyidnya adalah syirik. Sebab bertentangan dengan firman Allah : “dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui” (QS. Fathir :13-14)

Membayangkan Mursyid

Kyai Luthfi mengatakan bahwa orang-orang yang ber-thariqah dapat menghadirkan (membayangkan-red) gurunya secara ruhaniyah (didalam hati-red) di saat melaksanakan ibadah untuk diajak bersama-sama menghadapkan wijhah atau ber-tawajjuh kepada Allah ta’ala. Hal tersebut dilakukan supaya ibadah yang dilaksanakan lebih terfasilitasi kekhusyu’annya dan terbukanya pintu ijabah Allah Ta’ala.

Pernyataan yang dikemukakan Kyai Luthfi adalah pernyataan syirik dan bid’ah. Bertentangan dengan sabda Rasulullah :“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia yang melihatmu”.(HR. Muslim). Inilah martabat tertinggi, engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Ketika tidak seorang pun dapat melihat Allah SWT didunia, maka Rasulullah bersabda, sembahlah Allah dengan keyakinan bahwa ia melihatmu, ini merupakan salah satu martabat Ihsan; pengawasan Allah SWT. Sementara para sufi yang tidak mengerti akan hal ini menjadikan para syeikh mereka pengawas dan penuntun, sebagai ganti pengawasan Allah terhadap dirinya. Apa yang mereka lakukan ini merupakan perbuatan syirik dan kesesatan.

Untuk membantah pernyataan Kyai Luthfi, keami akan mengetengahkan pengalaman Syeikh Muhammad Jamil Zainu [2].

Syeikh Muhammad Jamil Zainu menceritakan kisahnya bersama para sufi ketika masih mengikuti kepadanya hingga ia kembali dari keseatan tasawuf dan berjalan menurut manhaj ulama salaf. Ia berkata, “ Ketika saya masih dalam usia muda, saya mendatangi Syeikh Thariqat Naqsyabandiah di masjid. Seorang syeikh memerintahkan orang-orang yang hadir agar memberikan kepada saya wirid Rhariqah an-naqsyabandiyah, mereka memberikan wirid yang harus dibaca pada waktu pagi dan petang, saya menghadiri majelis zikir bersama paman sya yang mereka namakan dengan “khatam” saudara saya meminta saya untuk membaca sepuluh ayat al-Qur’an di pernghujung khatam karena saya hafal al-Qur’an. Dzikir dengan suara pelan, pemimpin khatam memberikan batu-batu kecil, ia membaca tasbih dan ayat sesuai jumlah batu-batu tersebut, dalam majelis khatam ini ada beberapa hal yang saya perhatikan:

  1. Saya mendengar ada yang mengatakan, “Rabithah yang mulia.”, kemudian segera mereka mengangkat suara tinggi dengan mengatakan “hu—hu….,” tubuh mereka bergoncang dan mereka menangis. Saya menanyakan makna Rabithah yang mulia”, mereka berkata kepada saya, “maksudnya adalah, engkau membayangkan wajah syaikh dihadapanmu saat engkau berdzikir”, oleh sebab itu mereka tidak khusyuk ketika membaca tasbih dan membaca al-Qur’an, akan tetapi merka khusyuk ketika mengingat syaikh mereka mulai menangis dan menjerit.
  2. Suatu kali saya bertanya kepada kerabat saya bagaimana cara agar khusyuk dalam shalat dan mengusir was-was, ia berkata kepada saya, “bayangkanlah syaikh dalam shalatmu”. Saya berkata kepadanya, “bagaimana sya membayangkan syikh, apakah saya melaksanakan shalat untuk syaikh atau karena Allah?”
  3. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan, “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Ia yang melihatmu”.(HR. Muslim). Inilah martabat tertinggi, engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Ketika tidak seorangpun dapat melihat Allah SWT didunia, maka Rasulullah bersabda, sembahlah Allah dengan keyakinan bahwa ia melihatmu, ini merupakan slah satu martabat Ihsan; pengawasan Allah SWT. Sementara para sufi yang tidak mengerti akan hal ini menjadikan para syeikh mereka pengawas, sebagai ganti pengawasan Allah terhadap dirinya. Apa yang mereka lakukan ini merupakan perbuatan syirik dan kesesatan.
  4. Saya mengenal seseorang yang bertauhid, dulu ia mengikuti tasawuf, ia menceritakan kepada saya latar belakang dirinya meninggalkan tasawuf. Ia berkata, “Setelah wakil Syikh memberikan wirid thariqat kepada kami, kamipun pergi, kemudian ia memanggil kami semua, ia berkata kepada kami, “Aku lupa mengatakan kepadamu, kamu harus membayangkan syeikh saat kamu membaca wirid ketika berdzikir”. Ketika pemuda ini mendengar ucapan tersebut, ia meninggalkan tasawuf. Ia menjadi bertauhid mengikuti manhaj salafy salafus shaleh. Thariqat pemuda ini bukanlah thariqat yang saya ambil dari syeikh yang melihat saya dimasjid, akan tetapi kebanyakan thariqat. Tasawuf walaupun jumlahnya banyak dan bermacam-macam, akan tetapi mereka sepakat untuk membayangkan syeikh saat melakukan dzikir.
  5. Kerabat saya mengajak saya untuk menghadiri perayaan mauled di rumahnya, ketika saya memasuki rumah, saya mendengar para hadirin membaca syair : “Tunjukkan aku dengan Allah tunjukkan aku, Melalui seyikh tolong tunjukkan kepadaku yang menjauhkan penyakit yang menyembuhkan orang gila”. Saya berhenti dipintu dan saya katakan kepada kerabat saya, “apakah syeikh kamu ini dapat menyembuhkan orang sakit dan gila?”, ia berkata “Ya”, aku berkata, “Mengapa kamu tidak mengatakan dengan Izin Allah, sebagaimana yang dikatakan nabi Isa as. Sedangkan hal itu merupakan mu’jizat yang disebutkan dalam al-Qur’an, tidak seorang pun dapat melakukan apa yang dia lakukan”. Kemudian saya kembali, saya tidak mau memasuki rumah yang diperlihatkan kesyirikan secara nyata. Karena Nabi Ibrahim as menceritakan akidahnya dalam al-Qur’an “…..Dan apabila aku sakit maka Dialah yang menyembuhkan aku”, kalimat ini lebih ditekankan dengan adanya kata ganti terpisah (dhamir munfashil), agar seorang muslim mengetahui bahwa yang menyembuhkan hanyalah Allah saja, bukan selain Dia.
  6. Saya mengunungi kerabat saya pada hari raya, saya melihat gambar syeikh tergantung didinding arah kiblat, saya berkata kepadanya, “Rasulullah saw, melarang gambar di dalam rumah dan melarang seseorang melakukan hal itu.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan). Bagaimana engkau melaksanakan shalat sedangkan gambar yekh berada didepanmu? Apakah engkau shalat karena allah swt atau karena syeikh? Ia tidak dapat menerima walaupun perdebatan telah berlangsung lama, saya meminta agar ia memindahkan gambar syaikh dari dinding yang mengarah kiblat kedinding lain, namun  dia tetap menolak, karena menurut keyakinannya ia hanya dapat khusyuk bila di hadapan Syeikh.
  7. Kemudian tibalah hari raya, saya kembali mengunjunginya karena ia kerabat dekat saya, saya berkata kepadanya bahwa saya mengunjunginya karena ingin memberinya nasehat kepdanya agar saya tidak tidak berdosa dihadpan Allah swt saat mengunjunginya. Saya duduk , saya melihat gambar syeikh, saya ingin mencabutnya dari dinding yang mengarah ke kiblat. Saya katakan pada anak saya yang masih muda, apakah engkau bisa mencabutnya dari dinding, ia melakukannya, kemudian saya memegangnya dan meletakkannya di belakang meja makan, lalu saya katakan kepada anaknya, “Wahai Ahmad, engkau masih muda dan berpendidikan, alumni fakultas syari’ah, ambil gambar ini, sembunyikan dan jangan engkau gantungkan, sesuai dengan perintah Rasulullah saw”. Ia berjanji kepada saya untuk melaksanakan itu dan ia pun tidak menggantungkan gambar itu lagi.
  8. Kerabat saya bangun setiap pagi sebelum fajar untuk berdzikir kepada Allah dengan ribuan dzikir, akan tetapi gambar dan rambut syeikh thariqat berada didalam kantongnya, sebagai sarana meminta pertolongan dan mendapatkan khusyuk.
  9. Saya telah duduk bersama dengan para sufi dan menghadiri majelis dzikir mereka, saya mengetahui banyak thariqat yang bermacam ragam, namun saya belum pernah melihat satu thariqat pun yang sesuai dengan manhaj Islam yang benar, syair dan nasyid mereka di majelis dzikir dan masjid dipenuhi seraun kepada selain Allah. Itu merupakan syirik terbesar yang termasuk dosa besar disisi Allah. Itu merupakan sebab turunnya bala pada umat Islam didunia dan merek kekal dalam siksa pada hari kiamat. Saya pernah mendengar seorang sufi membacakan syair dalam halaqah dzikir, “Wahai orang-orang ghaib, berikanlah kepada kami kekuatan, bantulah kami, selamatkan kami dan tolonglah kami…” dan seterusnya sebagai bentuk istighasah kepada selain Allah. Setalah dzikir berakhir, saya katakan kepada syekh mereka, “bagaimana kamu menyebut majelis ini majelis dzikir, padahal mereka tidak mengingat Allah, tidak berdoa pada Allah, bahkan meminta kepada selain Allah, kepada orang-orang ghaib, siapa mereka orang-orang ghaib?” Apakah mereka adalah orang-orang yang mengetahui segala hal yang ghaib sedangkan mereka telah mati dan hancur, kemudian mreka dimintai tolong untuk menghadapi musuh? Al-Qur’an berkata untuk orang-orang seperti mereka, “Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu”. (QS. Faathir:15) [3]

[1] Demikian seperti disebutkan dalam kitab Ad-Durrul Mukhtaar.

[2] Dia adalah Syeikh Muhammad Jamil Zano, lahir di Syiria, seorang guru yang mengajar mata pelajaran Tauhid di Masjidil Haram Makkah.

[3] Lihat buku “Kesesatan Sufi” karya Ahmad bin Abdul Aziz Al-Hushain dan DR. Abdullah Mushtofa Numsuk. Penergit Pustaka As-Sunnah. Hal 223-226

About these ads

3 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum.wr.wb.
    Menyimak dri komentar2 pruqyah syar’iyah, bhw hmpr seluruhnya m’hujat kyai luthfi MG. Bgaimana mrk bsa sling m’hujat saudaranya ssama muslim? T’utama pruqyah2 syar’iyah, m’klaim bhw dirinya org2 pling bnr. M’bid’ahkan2 ssamanya, pdhl dirinya juga plku bid’ah, dan dri kpintaran ilmu2nya mrka menafsirkan ayat2 dn hadits2 nabi saw secara harfiyah lafdiyahnya saja, yg paling parah mmbuat p’nyataan sesat bgi ulama2 dn org2 yg mnempuh jl syufi. Wahai saudara2ku sdr lah sblm kita mmbuat p’nyataan untk pemahaman tntang agama apalagi mnyampaikan dalil2 ayat2 alqur’anul kariim itu lepas dri dorongan nafsu2 kalian? Jgn2 apa smpaikan b’dasarkan nafsu syaithon la’natulloh. Jg kalian jdikan faham2 syaikhul islam ibnu taimiyah sbgai referensi dn sandaran akal2 kalian, bandingkan dn pahami dg faham imam2 yg lain, klau kalian btl2 penganut sunah wal-jama’ah, klw sgla sesuatu tntang islam dan hukum islam kalian tafsirkan m’gunakan akal2 kalian saja, maka tdk menutup kemungkinan kalian akan mmpunyai faham spt faham2nya kaum mu’tazilah. Taubatlah dn istigifarlah dri dosa2 mmbenci dn mhujat sdr2amu ssama islam.

    • kalo anda mengaku islam buka al quran&as sunah….sudah cukuplah akal anda bisa menafsirkan….per ayat dan per hadist…
      Kita dituntut untuk belajar…..dr 1 hal sudah cukup*khadam malaikat???buset Naudzu…sehebat itukah beliau…..aq yakin…beliau dibacakan ayat ruqyah syari…bakal…kyk orang gila…dah bnyk penganut sufi…yg tdk sadar…mrk berkhadam jin……mrk bisa mengusir jin..dng cuma memegang…….dah pasti JIN DILAWAN JIN…it fakta…
      malaikat jibril bertemu rasulullah…aj aras ijin Allah…apalah daya seorang lutfi…dng dzikir.bidah…
      kita harus tegas….melawan pembodohan…mrk sll takjub dng kesaktian…..bak seorang wali…

  2. anda blm tau praktek sufi…dng dzikir2..bidah..yg datang malah khadam jin…bukan malaikat…
    ustadq…keturunan yaman hadramaut…beliau mengamalkan dzikir2…bidah wirid…2…sprti alirn sufi….yg membuat sakti..malah khadam jin5000thn….mknya sy ketawa dng buku tsb..sungguh kemunduran akal…bukan wali Allah tp Wali setan…..Pd akhirnya ustadq..sadar dan bertaubat…dl bisa mngusir jin…..dngan cuma memegang…sakti..dgn segala kemampuan tdk masuk akal…Alhamd…sekarang sudah taubat…dan menyebarkan syiar di solo…..
    Alhamd..skrng dtngan ustadq..bnyk orang NU berhijrah ke..ahlussunah…dng sandaran Alquran dan sunah…
    sy setuju..dng para perugyah…ahli bidah hrus dilawan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: