RUQYAH HANYA UNTUK ORANG KESURUPAN


Dibawah ini akan saya tunjukkan pernyataannya yang intinya hendak menekankan bahwa ruqyah adalah khusus bagi orang yang tidak sadar (kesurupan) saja. Sedangkan meruqyah orang yang sadar tidak boleh dilakukan sebab dapat membuat orang kesurupan jin. Penulis telah berkata (halaman 3) :

Ruqyah tidak dilakukan kepada orang yang sehat wal afiat dan sadar karena alasan-alasan tertentu yang kemudian menjadi hilang ingatan atau  kesadarannya karena dikuasai makhluk jin, sebagaimana yang setiap saat dapat kita lihat dari apa yang ditayangkan televisi akhir-akhir ini.

Kita perlu bertanya : mengapa orang dibacakan ayat-ayat al-Qur’an al-Karim bisa kehilangan kesadaran dan kesurupan jin …? Dan yang dikatakan oleh para pelaku “ruqyah” tersebut malah mengeluarkan jin….? Benarkah itu … ?

Dilanjutkan kembali oleh penulis (dihalaman 7) :

Yang menjadi pokok permasalahan di dalam pelaksanaan “ruqyah” adalah ketika orang yang asalnya sadar hanya khawatir barangkali ada jin di dalam tubuhnya, dengan tanda-tanda yang kesannya dibuat-buat sebagaimana yang mereka ajarkan maka kesadarannya dipertaruhkan. Mereka minta di ruqyah, ketika di ruqyah, mereka menjadi tidak sadar dan bahkan sampai muntah-muntah dan kencing di tempat.

Mengapa yang demikian dikatakan mengeluarkan jin dari tubuh manusia ? Seharusnya yang dikatakan mengeluarkan jin itu adalah mengeluarkan jin dari wilayah kesadaran manusia yang sudah terlanjur dikuasai jin, yaitu ketika manusia sedang hilang ingatan akibat gangguan makhluk jin dan dibacakan ayat-ayat suci  al-Qur’an kemudian menjadi sadar seperti semula. Bukannya dengan dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an orang yang asalnya sadar menjadi tidak sadar.


Dijelaskan lagi oleh penulis (Halaman 8-10).

…….Seharusnya orang yang sedang tidak sadarkan diri itulah yang diruqyah agar menjadi sadar, bukan malah sebaliknya. Orang yang sedang sakit akibat gangguan jin diruqyah menjadi sembuh, bukan yang sembuh malah menjadi terluka[1] akibat tusukan jin pada wilayah kesadarannya yang bahkan kadang-kadang berakibat sakit yang berkepanjangan.

Untuk itu kita renungkan lagi tentang kegiatan yang mereka katakan ruqyah itu. Bukanlah yang diruqyah adalah orang yang sadar kemudian menjadi tidak sadar ? Ketika tidak sadar, maka para pelaksana ruqyah tersebut bersusah payah mengeluarkan jin yang terlanjur menguasai kesadaran itu, bahkan dengan tenaga dalam (katanya) sampai-sampai mengeluarkan keringat segala ? Kalau yang asalnya sadar kemudian menjadi tidak sadar dan kemudian disadarkan lagi, bukanlah yang demikian itu berarti memasukkan jin ? Inilah pokok pembahasan yang paling utama.

Kesimpulan :

Kyai Luthfi intinya hendak menekankan dalam opininya bahwa, ruqyah adalah khusus bagi orang yang tidak sadar (kesurupan) saja. Sedangkan meruqyah orang yang sadar tidak boleh dilakukan sebab dapat membuat orang kesurupan jin.

Bantahan Kami :

Wahai Kyai Luthfi, tunjukkan dalil pada kami jika yang anda katakan bahwa ruqyah hanya untuk orang yang kesurupan jin dan bukannya untuk orang yang sadar dan sehat wal afiat. Sesungguhnya orang yang sehat wal afiat tetaplah perlu ruqyah syar’iyyah untuk menjaga dirinya dari semua penyakit dan segala mara bahaya termasuk gangguan jin dan sihir.

Diantara tindakan ruqyah preventif (tidak perlu menunggu kesurupan dulu baru diruqyah) agar selalu terlindungi dari segala mara bahaya adalah memelihara seluruh kewajiban dan menjauhkan diri seluruh hal yang diharamkan, bertaubat dari semua kejahatan dari semua kejahatan. Serta membentengi diri dengan doa-doa ruqyah syar’iyyah seperti dzikir, dan bacaan ta’awudz yang disyari’atkan seperti dengan membaca:

بِسْمِ اللهِ الَّذِ يْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْ ءٌ فِي ْالأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَا ءِ وَهُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

“Dengan  nama  Allah Yang  karena  bersama nama-Nya tidak ada sesuatu apapun dilangit atau di bumi mampu mendatangkan  bahaya, dan Dialah Maha Mendengar  lagi Maha Mengetahui.”

Doa ruqyah ini dibaca tiga kali, pagi dan sore. [2]

Membaca ayat Kursi sehabis shalat, ketika menjelang tidur, pada pagi hari dan sore hari. [3]

Membaca surat Al-Ikhlas dan Mu’awwidzatain (surat Al-Falaq dan An-Nas) tiga kali pada pagi dan sore hari, serta menjelang tidur. Setelah itu membaca :

لاَإِ لَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْ ءٍ قَدِ يْرٌ

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata ,tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya seluruh kekuasaan dan segala pujian, dan Dia maha Kuasa Atas Segala sesuatu” Dibaca seratus kali, setiap hari. [4]

Membaca secara rutin dzikir-dzikir pagi dan sore, dzikir-dzikir setelah shalat, menjelang dan setelah tidur, masuk dan keluar rumah, naik kendaraan, masuk dan keluar masjid, masuk dan keluar WC dan dzikir-dzikir yang disyari’ahkan lainnya.

Selain itu kami akan membantah dan menanggapi talbis[5] yang dilancarkan Muhammad Lufhti Ghozali, bahwa ruqyah yang dibacakan pada orang yang semula sadar (sehat wal afiat) menjadi malah tidak sadar adalah sebuah tindakan memasukkan jin dan tidak akan menyembuhkan penyakit adalah sebuah keyakinan bathil.

Kyai Luthfi begitu mudahnya hanya melihat sekilas tanpa meneliti lagi sebab musabab orang ketika diruqyah (dengan ruqyah syar’iyyah) bereaksi keras seperti kesurupan maka langsung disangkanya bahwa ruqyah itu memasukkan jin.

Seharusnya Kyai Luthfi melihat terlebih dahulu latar belakang kehidupan mereka, mendengarkan dan mendiagnosa keluhan-keluhan para pasien yang akan diruqyah. Bukannya langsung membuat sangkaan dan fitnah. Yang sering kami temui mereka yang bereaksi keras ketika diruqyah, adalah mereka yang sebelumnya pernah belajar ilmu sihir, terkena sihir atau guna-guna, atau sebab lain yang membuat syetan berada dalam tubuh pasien tersebut walaupun secara kasat mata mereka terlihat sehat wal afiat dan sadar ketika belum diruqyah.

Wahai Kyai Luthfi berhati-hatilah dengan sangkaan anda! Tidakkah Kyai Luthfi membaca firman Allah Ta’ala : “dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu Telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa.”(QS. Al-Fath :12).

Hati-hatilah wahai Kyai Luthfi! Jika sangkaan atau fitnahan anda bisa kami bantah dengan penjelasan yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi dan telah sepakati kebenarannya berdasarkan ilmu dan pengalaman para ulama. Maka ketahuilah wahai Kyai Luthfi, syaitan telah menjadikan anda memandang baik dalam hati anda persangkaan itu dan anda telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan anda akan menjadi orang yang akan binasa!

Sungguh! Kejahilan Kyai Muhammad Lufhti Ghozali akan ruqyah syar’iyyah begitu besarnya dan  Kyai “sufi” ini sama sekali tidak membaca atau mengkaji kitab-kitab ruqyah para ulama salaf (yang sudah banyak diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia).

Dalam kitab-kitab ruqyah syar’iyyah yang ditulis para ulama salaf. Banyak sekali yang menjelaskan bahwa jika ada unsur syaithan atau penyakit fisik dan psikis dalam tubuh pasien (walaupun sebelumnya tidak mengalami kesurupan) setelah dibacakan Al-Qur’an dan doa-doa baik secara pribadi atau massal akan menunjukkan reaksi keras atau lembut sebagai efek dari penyembuhan dari penyakit ataupun sebagai efek pembersihan dari kotoran-kotoran syaithaniyah.

Ketahuilah wahai Kyai Luthfi, khasiat ruqyah syar’iyyah selain memberikan efek ketenangan dan menyembuhkan penyakit jiwa[6], mungkin beberapa pasien akan mengalami suatu keadaan tazkiah (pensucian fisik dan jiwa) untuk menghilangkan atau melenyapkan segala kotoran dan najis yang terdapat dalam dirinya secara fisik, psikologis dan rohaniyah. Dimana dapat terjadi kondisi  unconscious (ketidaksadaran) seperti memuntahkan penyakit dalam diri seeorang, menangis tanpa terkendali yang mengeluarkan semua ketegangan dalam dirinya bahkan gerak tubuhnya menjadi tidak terkendali (yang akan langsung ditangani khusus oleh Ustadz yang meruqyah) jika dalam dirinya sudah sangat banyak  kotoran-kotoran dosa dan kemaksiatan dalam jiwa, qalb, akal fikiran, inderawi dan fisik  yang tercemari sifat-sifat dan unsur-unsur syaitaniyah.

Pengalaman dan Pendapat Para Ulama Ahli Ruqyah

.Untuk lebih meyakinkan para pembaca sekalian dan membantah keyakinan bathil Kyai Luthfi. Dibawah ini kami akan memberikan bukti nyata berbagai pengalaman dan kisah para Ulama yang akan membantah keyakinan sesat Kyai M.Luthfi Ghozali.

Pertama, Syaikh Wahid Abdul Salam Baali menjelaskan reaksi keras pembacaan ruqyah pada orang yang semula sadar menjadi tidak sadar (kesurupan) sebagai akibat jin yang berada dalam tubuhnya menampakkan eksistensinya karena fadhilah bacaan ruqyah syar’iyyah.

Beliau menjelaskan [7]: “ Setelah membaca ayat-ayat ruqyah di telinganya dengan suara yang kuat, maka akan terjadilah satu dari tiga hal berikut ini.

1. Korban sihir itu akan meraung-raung dan jin yang merasukinya akan berbicara dengan perantaraan si korban…..

2. Sekiranya korban sihir merasakan penderitaan ketika dibaca seperti kepalanya amat pening atau dadanya sesak, tetapi tidak menjerit, maka ulangi membaca ayat tadi sebanyak 3 kali…..

3. Jika korban sihir tidak merasakan penderitaan ketika dibacakan ayat-ayat tadi, maka ajukanlah pertanyaan kepadanya sekiranya terdapat tanda-tanda penderitaan sekali lagi…….”

Syaikh Wahid menjelaskan : [8]“ Bacakan ayat-ayat seperti biasanya, jika dia menjerit, teruslah membacakan ayat-ayat itu. Jeritan itu pertanda telah terjadi respon dari jin yang merasuki tubuh wanita”

Syaikh Wahid Abdul Salam Baali juga menjelaskan [9]bahwa “Jampi-jampi (ruqyah) ini berpengaruh pada jin sehingga akan mengusir dan menjauhkannya atau menarik dan menghadirkannya. Mengusir dan menjauhkan, yakni mengusir jin dari jasad sebelum dia berbicara (melalui perantara orang yang dimasukinya) sehingga Allah telah menghindarkan anda dari kejahatannya. Menarik dan menghadirkan, yakni mengguncang jin dalam jasad (penderita) dan memaksanya untuk berbicara dengan anda”

Pada berbagai contoh kasus pengobatan yang dilakukan Syaikh Wahid yang telah ditulis dalam bukunya bisa kita lihat bahwa ketika para pasien mendatangi syaikh Wahid dalam keadaan sadar dan terlihat sehat secara fisik. Namun ketika dibacakan baru mereka menjadi tidak sadar seperti menjerit, menangis, berguling-guling sebab jin yang menguasai tubuh pasien (baik sudah disadari atau tidak disadari) terbakar dengan ayat-ayat Ruqyah.

Kedua, Syaikh Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin, [10]mengatakan: “ Setelah dibacakan ayat-ayat ruqyah ini, maka ada tiga kemungkinan yang terjadi:

1. Penderita akan tersungkur (akibat bacaan ruqyah) dan jin yang merasuk ke dalam tubuhnya akan berbicara.

2. Penderita tidak tersungkur, namun terlihat gejala-gejala kerasukan jin.

3. Tidak terjadi sesuatu padanya dan keadaan ini bisa jadi penyakit yang diderita adalah penyakit boasa atau penyakit kejiwaan”.

Ketiga, Syaikh Ali Murtadha As-Sayyid menjelaskan, untuk mengetahui apakah ada jin dalam tubuh seseorang (walau zahirnya dia terlihat sadar) adalah dengan cara meruqyahnya.

Berikut ini penjelasan Syaikh Ali Murtadha As-Sayyid [11] :”…..Kita akan mulai jawaban tersebut dengan memahami tanda-tanda kesurupan dan kedatangan jin kepada orang yang menderita (setelah diruqyah).

1. Bergetar pada pengujung tubuh.

2. Tanda perubahan pada muka, berbalik mata dan mulut.

3. Kadang-kadang jin berbicara melalui lisan orang yang kesurupan dengan dialek atau bahasa yang berbeda-beda.

4. Kadang-kadang muncul kekuatan yang luar biasa yang berbeda dengan ondisi biasa.

5. Kadang-kadang hanya dengan mengeluarkan air mata atau meletakkan jari-jarinya pada telinga agar tidak mendengarkan Al-Qur’an

6. Kadang-kadang berteriak dengan keras, menyepak dengan kedua tangan dan kakinya. Hal semacam ini tidak perlu ditakuti karena aksi jin dalam badan itu terbatas dengan kekuatan yang ada pada manusia.”

Keempat, Syaikh Ibrahim Abdul Alim, menceritakan contoh nyata kasus orang yang semula terlihat sadar secara fisik namun setelah diruqyah terjadi reaksi keras. Berikut ini Syaikh Ibrahin menceritakan kisahnya[12]: “ Ada seorang gadis yang tiap kali dilamar oleh seorang pemuda, maka dia terkena berbagai penyakit dan menolak pinangan tersebut tanpa sebab yang jelas. Ketika peminang tersebut telah pergi maka perempuan itu pun sehat kembali. Dan ketika keluarganya bertanya kepadanya sebab penolakannya, ia berkata “aku tidak tahu, seolah-olah ada yang mendorongku melakukan hal itu”. Setelah hal ini terjadi berulang-ulang keluarganya curiga akan keadaan ini, lalu mengirimnya padaku. Setelah memeriksa keadaannya jelaslah bagiku ia telah terkena sihir penunda pernikahan. Lalau saya dudukkan dia, dan aku mengucapkan seruan (doa-doa ruqyah) pada telinganya. Beberapa saat kemudian aku temukan badannya bergetar dan sebelum selesai seruan tersebut, jin yang ada didalam tubuhnya berbicara dengan menggunakan lisan wanita tersebut………”

Kelima, Syaikh Khil bin Ibrahim Amin dan Syaikh Jamal al-Shawali, menjelaskan persiapan sebelum diruqyah untuk orang yang dicurigai memiliki gangguan jin dalam dirinya. Mereka telah mendiagnosa pasien sebelum ruqyah dilaksanakan. Lalu menjelaskan juga tekhnik menghadapi jin yang muncul pada saat dibacakan ayat-ayat ruqyah. Berikut ini penjelasan dari Syaikh Khil bin Ibrahim Amin dan Syaikh Jamal al-Shawali [13]: “Setelah memperoleh jawaban ( Peruqyah sudah mengetahui keluhan pasien yang akan diruqyah), tabib melakukan terapi dengan membacakan ruqyah kepada pasien. Bacaan-bacaan ruqyah yang dibaca adalah sebagai berikut :

  1. 1. Membaca surah al-Fatihah.
  2. 2. Membaca ayat Kursi
  3. 3. Membaca surah al-A’raf dalam ayat 117-122
  4. 4. Membaca surah Yunus ayat 81-82
  5. 5. Membaca surah Thaha ayat 69
  6. 6. Membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas

Setelah membaca ruqyah, tabib meniupkan bacaan itu kepada pasien (yang diruqyah) dan berbicara (setelah terjadi reaksi keras yang menunjukkan jin sudah menampakkan eksistensinya dengan menggunakan tubuh pasien) kepada jin yang menjadi pelayan sihir, lalu bertanya kepadanya tentang siapa namanya, kepercayaannya apa, dan tempat sihirnya dimana. Setelah itu ia diberi tahu bahwa sihir adalah perbuatan zalim dan penyihir adalah kafir dan tidak boleh bergaul dengannya.”

Keenam, Syaikh Muhammad ash-Shaayim mengatakan  [14]: “Ketika ayat-ayat al-Qur’an dibacakan, terutama pada permulaannya, biasanya wajah si penderita akan memerah, tubuhnya akan berontak bergerak kesana kemari dan matanya melotot tertuju pada penyembuh……”

Syaikh Muhammad ash-Shaayim juga menceritakan bahwa beliau diundang oleh seorang laki-laki yang merasakan keanehan pada rumahnya sebab keluarganya yang tinggal dirumah sering merasa sumpek dan sering mencium bau-bauan yang tidak sedap. Maka Syaikh Muhammad ash-Shaayim mulai menanyai seluruh anggota keluarga laki-laki tersebut. Ketika Syaikh Muhammad ash-Shaayim mulai mengadakan wawancara terhadap istri laki-laki tersebut yang semula tampak sehat dan sadar tiba-tiba menunjukkan reaksi adanya jin dalam tubuh wanita tersebut. Berikut kisah yang diceritakan Syaikh Muhammad ash-Shaayim: “ Istri pemilik rumah itu aku dudukkan disebelah kananku. Ketika aku menatapnya untuk menanyai beberapa pertanyaan khusus tentang keadaan yang dirasakannya karena sihir, wajahnya langsung memucat dan gemetar hingga keringatnya bercucuran. Ketika itulah aku membacakan ayat-ayat pengusir setan. Kemudian aku mendengar suara jin yang berbicara “aku akan keluar….aku akan keluar….lepaskan aku….aku akan keluar…”[15]

Ketujuh, Ustadz Yuyu Wahyudin Kusnadi, Lc, telah menceritakan pengalamannya bahwa dia merasakan ada keanehan dalam dirinya, dia ketika hendak tidur merasakan ada yang menindih dan menyikut tubuhnya, lalu ia sering merasakan sakit pada tubuhnya (Ustadz Yuyu Wahyudin Kusnadi, Lc hanya merasakan sakit namun sama sekali tidak ada reaksi ketidaksadaran seperti kerasukan jin) namun setelah beliau mendatangi seorang Ustadz di asrama mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di bilangan Bukit Duri Tanjakan Jakarta Selatan untuk diruqyah, ternyata yang menyakiti tubuhnya dan yang selalu mengganggu tidurnya adalah akibat dari sihir. Sebab sewaktu diruqyah ada reaksi keras dari jin sihir yang ada dalam tubuhnya. Alhamdulillah setalah diruqyah, Ustadz Yuyu Wahyudin Kusnadi, Lc terlepas dari penyakitnya selama ini.[16]

Kedelapan, Ustadz M.H.M Hasan Ismail, menjelaskan efek yang terjadi dalam ruqyah, baik ruqyah secara massal atau ruqyah individu yang dijelaskan sebagai berikut :[17]

  1. gerakan fisik, gerakan tangan, kepala, raut muka, mata berkedip cepat
  2. Gerakan-gerkan jurus bela diri dsb
  3. Suara atau ucapan, teriakan, menangis, kesakitan, marah dsb
  4. Batuk-batuk keras (seperti ada yang hendak dikeluarkan)
  5. Bersendawa terus-menerus, bersin-bersin

Ustadz M.H.M Hasan Ismail lalu menjelaskan: ”Lakukan ruqyah secara intensif secara individu, ajaklah jin untuk berbicara, dida’wahi, diajak bertaubat, lantas diperintahkan untuk keluar”.

Kesembilan, Ustadz Yusuf Abdussalam, mengatakan : “Apabila penderita memang digangggu jin maka Insya Allah cepat atau lambat akan terlihat reaksi dari tubuhnya. Bisa berupa gerakan-gerakan tak terkontrol, atau yang paling keil adalah gemetar. Teruskan bacaan sampai ia berteriak atau mengeluh kesakitan. Tak perlu ragu bahwa yang kesakitan itu bukanlah penderita meski seolah-olah penderita yang kesakitan atau kepanasan. Jin akan merasa panas bila mendengar ayat-ayat al-Qur’an. Dia akan meminta-minta untuk dihentikan atau berbuat agar kita kasihan kepada penderita.” [18]

Kesepuluh, Ustadzah Ummu Maryam menjelaskan reaksi dalam terapi ruqyah yang dapat terjadi pada seseorang yang dicurigai disihir atau memiliki jin dalam dirinya (walau sebelunya belum pernah kesurupan) [19] :

Reaksi (kerasukan) yang terjadi setelah dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an pada seseorang yang memiliki jin dalam dirinya adalah :

  1. Gelisah, hal ini biasanya tampak ketika membaca atau mendengarkan ayat-ayat ruqyah.
  2. Bertambahnya rasa pusing dan sempit pada dadanya saat dibacakan ruqyah syar’i.
  3. Gemetar pada ujung-ujung jari si sakit dan debatan hebat di jantungnya disertai ketakutan yang sangat pada beberapa keadaan disela-sela pembacaan ruqyah.

Kesebelas, Syaikh Majdi Muhammad asy-Syahawi, telah menulis surat kepada Syaikh ‘Abdul’Aziz ibn Baz, ketua umum Badan Riset Ilmu, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan Agama, Kerajaan Saudi Arabia, untuk menanyakan kepadanya tentang hakikat masalah kerasukan jin, hukum syari’atnya, serta dalil-dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah. Alhamdulillah. Syaikh ‘Abdul’Aziz ibn Baz menanggapinya dengan baik dan mengirimkan sebuah surat balasan kepada Syaikh Majdi Muhammad asy-Syahawi yang berisi fatwa-fatwa dari Badan Riset Ilmu, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan Agama menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang Syaikh Majdi Muhammad asy-Syahawi ajukan, di antaranya adalah tentang kerasukan Jin dan hukumannya menurut Islam, yang bunyi teks aslinya adalah sebagai berikut :[20]

Teks Asli dari Fatwa Badan Riset Ilmu, Dakwah, dan Bimbingan Agama, Kerajaan Saudi Arabia

Bismillahirrahmanirrahim

Kerajaan Saudi Arabia

Ketua Umum Badan Riset Ilmu, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan Agama

Kantor Pimpinan Umum

Penjelasan Tentang Kebenaran Kerasukan Jin dan Bantahan Terhadap Orang-orang yang Mengingkarinya

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, sahabat-sahabat, dan orang-orang yang setia mengikuti petunjuknya.

Amma Ba’du

Pada bulan Sya’ban tahun 1407 H ini, sebagian Koran, baik Koran-koran dalam negeri maupun luar, telah memberitakan secara ringkas atau pun terperinci tentang seorang jin yang menyusup ke dalam tubuh seorang perempuan yang mempersaksikan ke-Islamannya di hadapanku, di Riyadh. Sebelumnya, ia telah mempersaksikannya juga dihadapan Saudara Abdullah ibn Musyrif al-Umri yang bermukim di Riyadh, yaitu setelah ‘Abdullah itu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepadanya dan berdialoq dengannya serta mengingatkannya kepada Allah dan memberikan pengajaran-pengajaran kepadanya. Ia juga telah mengkabarkan kepadanya bahwa kezaliman itu adalah haram dan merupakan salah satu dosa besar, lalu mengajaknya keluar dari agamanya dan masuk ke dalam agama Islam. Ajakan ini timbul darinya setelah ia tahu dari pengakuan jin itu sendiri bahwa ia adalah beragama Budha. Jin itu bersedia memenuhi ajakan tersebut lalu mempersaksikan keislamannya kepadanya.

Kemudian, ia (Abdullah) beserta kerabat perempuan itu berkeinginan untuk membawakan perempuan itu ke hadapanku dengan maksud agar aku pun ikut mendengar persaksian jin tersebut. maka hadirlah mereka bersama perempuan itu ke tempatku, lalu aku tanyakan kepada jin yang ada di dalam tubuhnya itu mengapa ia sampai mau masuk Islam. Dia pun menjelaskannya kepadaku, tapi dengan suara yang mirip suara laki-laki, bukan suara perempuan, padahal, secara zahir, yang berbicara adalah perempuan itu. Saat itu, perempuan itu duduk di kursi yang terletak di sampingku, disaksikan oleh saudara laki-laki dan saudara perempuannya serta Abdullah sendiri dan beberapa orang syaikh.

Jin itu pun menjelaskan bahwa sebenarnya ia adalah berasal dari India dan beragama Budha, lalu menyatakan masuk Islam dengan suara yang jelas. Maka itu aku nasehati ia dan aku wasiatkan kepadanya agar bertaqwa kepada Allah dan keluar dari tubuh perempuan ini serta tidak mengganggu dan menyakitinya lagi, dan ia pun menyanggupinya. Di samping itu, aku juga mewasiatkan kepadanya agar mengajak teman-temannya untuk masuk Islam setelah ia sendiri diberi hidayah oleh Allah SWT. Ia berjanji untuk melaksanakannya, lantas keluar dari tubuh perempuan itu. Kata-kata terakhir menjelang ia keluar adalah ‘Assalamu’alaikum’.

Begitu jin itu keluar, perempuan itu langsung bisa berbicara seperti biasa dengan suaranya yang asli.

Beberapa hari kemudian, perempuan itu datang lagi kepadaku bersama dua orang saudara laki-laki, seorang saudara perempuan, dan seorang pamannya, lalu mengabarkan kepadaku bahwa ia baik-baik saja dan jin itu tidak pernah lagi berada datang kepadanya. Saat aku tanya perasaannya ketika jin itu berada di dalan tubuhnya ia menjawab, “Aku menjadi berpikiran kotor yang bertentangan dengan syari’at dan cenderung kepada agama Budha serta berkeinginan untuk mempelajari kitab-kitab agama Budha tersebut. Setelah sembuh darinya, dengan izin dan karunia Allah, pikiran-pikiran kotor tersebut hilang dariku sama sekali.”

Telah sampai kepadaku bahwa Syaikh ‘Ali Thanthawi telah mengingkari kebenaran kejadian seperti ini, dan menyebutkan bahwa itu hanyalah penipuan dan kebohongan, dan boleh jadi suara itu hanyalah suara rekaman yang telah direkayasa sebelumnya, bukan suara perempuan itu sendiri.

Bagaimana mungkin suara itu adalah suara rekaman, padahal aku menanyakan kepada jin itu berbagai pertanyaan yang langsung dijawabnya. Bagaimanakah seorang yang berakal akan berpikiran bahwa sebuah kaset akan bisa ditanya dan menjawab seketika ? Ini adalah kekeliruan yang amat fatal dan kebatilan yang luas biasa.

Syaikh itu juga mengklaim bahwa Islamnya seorang jin di tangan seorang manusia bertentangan dengan firman Allah SWT  tentang kisah Nabi Sulaiman yang berbunyi, “…..dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku.” (QS. Shad [38] : 35)

Tidak diragukan lagi bahwa pemahaman ini adalah keliru dan batil. Keislaman seorang jin di tangan seorang manusia tidaklah bertentangan sama sekali dengan doa Nabi Sulaiman tersebut. Betapa banyak jin yang masuk Islam di tangan Nabi Muhammad saw. Hal ini diterangkan secara jelas oleh Allah SWT di dalam surah al-Ahqaf dan surah al-Jin, disamping di dalam shahihain disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setan telah datang menggangguku untuk memutuskan shalatku, namun Allah SWT memberikan kemampuan kepadaku untuk melawannya, maka ia pun aku cekik lehernya. Lalu aku berkeinginan mengikatnya di pinggir jalan agar kalian bisa juga melihatnya sepertiku, namun aku teringat perkataan doa Nabi Sulaiman yang berbunyi, “dan anugrahkanlah kepadaku, kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku,” sehingga ia aku lepaskan kembali dari tanganku dan Allah mengembalikan setan itu dalam keadaan merugi.” (HR. al-Bukhari dari abu Hurairah)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau saw bersabda, “Sesungguhnya jin ‘Ifrit telah datang menggangguku untuk memutuskan shalatku, namun Allah SWT memberikan kemampuan kepadaku untuk melawannya, maka lehernya pun aku cekik. Lalu aku berkeinginan mengikatnya di halaman masjid agar kalian bisa juga melihatnya sepertiku, namun aku teringat perkataan doa Nabi Sulaiman tersebut sehingga ia aku lepaskan kembali dan Allah mengembalikan setan itu dalam keadaan merugi.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

An-Nasa’I meriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika Nabi Muhammad saw sedang shalat, datanglah seorang setan mengganggunya agar ia memutuskan shalatnya. Maka beliau saw membanting setan itu lalu mencekik lehernya. Setelah itu beliau saw berkata, ‘Kalau bukanlah karena doa Sulaiman, aku ikat setan ini supaya bisa dilihat oleh manusia.”

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari abu Sa’id bahwa Rasulullah saw berkata, “aku cekik lehernya hingga air liurnya keluar mengenai jari-jariku.”

Al-Bukhari menyebutkan di dalam kitab Shahihnya bahwa Abu Hurairah berkata ; Rasulullah saw telah mengamanahkan kepadaku untuk menjaga harta zakat fihrah di tempat penyimpanannya. Pada suatu malam, seorang laki-laki datang ke tempat itu lalu mencuri sebagian makanan darinya. Orang itu pun aku tangkap dan aku katakan kepadanya, ‘Demi Allah, sungguh akan aku hadapkan engkau kepada Rasulullah.” Saat itu ia meminta belas kasihan kepadaku agar aku melepaskannya. Ia berkata, “(tolong lepaskan aku) karena aku hanyalah seorang yang faqir dan mempunyai tanggungan (keluarga), kami sangat membutuhkan makanan. “Mendengar alasannya itu, ia pun aku lepaskan malam itu. Keesokannya, setelah aku laporkan kejadian itu kepada Rasulullah saw, beliau berkata kepadaku,”Apakah yang engkau perbuat terhadap tawananmu, wahai Abu Hurairah ?” Aku jawab, “wahai Rasulullah, sungguh ia mengadu kepadaku dengan begini begitu, sehingga aku pun menjadi kasihan kepadanya dan ia aku lepaskan.” Beliau saw berkata, “Ketahuilah bahwa ia telah berbohong kepadamu, dan akan kembali lagi mencuri nanti malam.” Mendengar perkataan beliau itu, aku pun berniat untuk mengintip orang itu lagi pada malam harinya.

Rupanya memang benar, orang itu datang lagi dan kembali mencuri seperti kemarin, sehingga ia aku tangkap lagi. Namun, kejadian malam sebelumnya terulang kembali pada malam itu, dimana ia meminta belas kasihan kepadaku dan akhirnya ia pun aku lepaskan kembali setelah ia berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya tersebut. Dan ketika aku laporkan kembali kepada Rasulullah saw, beliau tetap mengatakan perkatannya yang kemarin kepadaku.

Kejadian ini berulang kembali pada malam berikutnya, namun pada saat orang itu aku tangkap lagi, ia berkata kepadaku, “Lepaskanlah aku! Jika engkau melepaskanku, maka aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang sungguh berguna bagimu.” Setelah ia aku lepaskan, ia berkata lagi”, Jika engkau berbaring di atas tempat tidur (takni akan tidur), bacalah ayat kursi, niscaya seorang penjaga dari Allah (yakni malaikat) akan selalu bersamamu dan setan tidak akan mendekatimu sampai paginya.”

Ketika aku laporkan hal ini kepada Rasulullah saw, beliau berkata, “Ketahuilah bahwa kali ini ia benar, tahukah engkau siapakah orang itu, wahai Abu Hurairah ?” Aku jawab,”Tidak, ya Rasulullah.” Beliau saw berkata lagi, “Orang itu adalah setan”.

Rasulullah saw juga bersabda, “Sungguh setan itu menjalar di dalam tubuh Bani Adam seperti menjalarnya darah di dalam tubuhnya.”(HR.al-Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah) Di dalam kitab Musnad-nya, Imam Ahmad meyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Utsman ibn Abu al-Ash bahwa ia berkata kepada Rasulullah, “wahai Rasulullah ! Sungguh setan telah menghalangiku dari shalat dan bacaaku.” Beliau saw berkata, “Itu adalah setan Khanzab, jika engkau merasakan keberadaannya, maka berlindunglah kepada Allah dan hembuskanlah nafas ke arah kiri engkau sebanyak tiga kali.” “Maka aku mengamalkannya sehingga Allah menjauhkan setan itu dariku,”kata Utsman.

Telah sahih juga dari Rasulullah saw bahwa masing-masing manusia mempunyai seorang qarin (teman) dari kalangan malaikat dan seorang qarin dari kalangan setan, termasuk juga diri beliau sendiri. Cuma saja, Allah SWT telah menolongnya sehingga qarin-nya itu tidak menyuruhnya melainkan kepada kebaikan.

Dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ Tentang Kerasukan Jin

Tentang kebenaran perkara ini bahwa jin bisa menyusup ke dalam tubuh manusia lalu mengganggunya telah didukung oleh dalil-dalil yang terpercaya, baik dari Allah dan Rasul, maupun ijma’ulama, sehingga tidak ada alasan untuk mengingkarinya. Namun demikian, sebagian orang, dengan tanpa ilmu dan hidayah, tidak mempercayainya. Berikut ini aku sebutkan perkataan ahli ilmu tentang perkara ini.

Perkataan Para Mufassirin (ahli tafsir) tentang ayat Allah yang berbunyi,”Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.”(QS.al-Baqarah [2]:275)

Abu Ja’far ibn Jarir, tentang tafsir ayat ini, mengatakan, ‘Mereka akan dibuat gila di dunia ini oleh setan.” Kata al-Mass di dalam ayat ini, menurutnya, adalah kegilaan. Al Baghawi juga mengatakan demikian.

Ibnu katsir mengatakan, “maksudnya, mereka tidak akan berdiri dari kubur mereka pada hari Kiamat melainkan seperti berdirinya orang-orang yang sedang digilakan oleh setan.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan,”Orang yang makan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam kedaan gila dan leher tercekik.”(HR.Ibnu Hatim)

Al-Qurthubi, di dalam tafsirnya, mengatakan, “Ayat ini menjadi dalil atas kelirunya pendapat yang mengingkari  adanya kerasukan jin dan mengklaim bahwa hal itu hanyalah sebuah kewajaran dan bahwa setan tidak dapat mengganggu manusia sama sekali.”

Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah, di dalam Majmu’al-Fatawa, bab Idhah ad-Dilalah fi Umum ar risalah li ats-Tsaqlain, jilid19, hal.6-65, mengatakan, “Karenanya, sebagian orang-orang Mu’tazilah, seperti al-Haba’I dan Abu Bakar ar-Razi, walaupun mereka menyakini akan kebenaran keberadaan jin, mereka  mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh manusia. Sebab, menurut mereka, tidak ada dalil sunnah yang menyatakannya, tidak seperti masalah keberadaan jin yang dengan jelas diterangkan oleh Rasulullah saw. Walaupun pendapat ini keliru, namun mereka tetap memakainya. Dan ‘Abdulah ibn Ahmad ibn Hanbal berkata kepada ayahnya, “sungguh sebuah kaum telah mengingkari kebenaran masuknya jin kedalam tubuh manusia. “Dijawab oleh ayahnya, “Wahai anakku ! Sungguh mereka telah berbohong. Bukanlah dia (Nabi Muhammad saw) telah menjelaskan perkara itu dengan lisannya sendiri.”

Ia (Ibn Taimiyah) juga menyebutkan di dalam Majma’al Fatawa-nya, jilid 24, hal. 276-277, “Keberadaan jin telah disebutkan oleh Allah dan Rasul, ulama-ulama salaf pun telah sepakat mengenai hal ini, begitu juga dengan masalah masuknya jin ke dalam tubuh manusia. Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.”(QS.al-Baqarah[2]:275) Rasulullah saw juga bersabda, “Sungguh setan itu menjalar di dalam tubuh bani Adam seperti menjalarnya darah dalam tubuhnya.”(HR.al-Bukhari dan Muslim dari Shafiyyah)

Imam Ibn al-Qayyim didalam bukunya yang berjudul Zad al-Ma’ad fi huda khair al-I’bad, juz 4, hal. 66-69, mengatakan, “Gangguan jiwa itu ada dua gangguan jiwa biasa dan gangguan jiwa yang berasal dari roh-roh jahat lagi keji (jin/setan). Gangguan jiwa yang pertama menjadi objek pengkajian dan pengobatan bagi bagi para dokter. Sedangkan gangguan jiwa kedua hanya ditangani oleh ulama-ulama dan orang-orang “pintar” yang mengakui keberadaan penyakit ini dan tidak mengingkarinya. Yaitu orang-orang mengakui bahwa pengobatannya adalah dengan jalan mempertemukan roh-roh yang baik, mulia, dan tinggi dengan roh-roh jahat lagi keji tersebut, sehingga roh-roh yang pertama akan mendepak pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh roh-roh kedua, menentang aksinya dan membatalkannya.

Hal ini diakui dan disebutkan oleh Baqrath (seorang dokter ahli di bidang penyakit jiwa) di dalam bukunya. Dia mengatakan, “Pengobatan yang saya sampaikan ii hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang terkena penyakit kejiwaan biasa, bukan penyakit kejiwaan yang berasal dari roh-roh jahat lagi keji (jin/setan).”

Adapun “dokter-dokter rendahan” dan orang-orang yang percaya kepada zandaqah (kekufuran), maka mereka mengingkari kenyataan ini dan dan tidak mengakui kebenarannya. Kesimpulan mereka bahwa hal itu bukanlah disebabkan karena jin, melainkan oleh depresi mental atau gangguan kejiwaan semata adalah benar (berlaku) untuk sebagian saja, bukan untuk keseluruhan. mereka (dokter-dokter zindiq) itu tidak mengakui selain depresi mental atau gangguan kejiwaan saja, sebuah kesimpulan bodoh yang orang-orang berakal dan mempunyai ma’rifat menjadi tertawa dibuatnya.

Mengenai cara pengobatan bagi penyakit jenis ini, harus dilaksanakan pada dua sisi, pertama dari sisi orang yang diobati, dan kedua, dari sisi orang yang mengobati. Sebab, ibarat berperang, seseorang tidak hanya diharuskan memiliki senjata yang tepat/cocok untuk berperang, melainkan juga harus mempunyai pendamping/pembantu yang kuat dalam peperangan itu. Kedua faktor ini harus dimiliki, yang jika kurang salah satu dari keduanya, maka tidak akan mendatangkan hasil yang diharapkan, apabila jika kurang kedua-duanya.

Pada sisi pertama, orang yang akan diobati itu harus membersihkan dan menguatkan jiwanya, benar-benar menghadapkan wajahnya kepada Sang Pencipta dan Penguasa jin/setan itu, dan berta’awwuzh (berlindung) kepada Allah SWT melalui hati dan lisannya sekaligus. Jika hatinya rusak (tidak bertauhid, bertaqwa, bertawakal, dan bertawajjuh (menghadap) kepada Allah, maka berarti ia tidak mempunyai senjata dalam berperang melawan musuh (jin). Sedangkan pada sisi kedua, yaitu pada orang yang bertindak mengobatinya, juga harus memiliki kedua faktor di atas. Semakin kuat kedua faktor ini pada dirinya, maka semakin mudahlah baginya untuk melaksanakan penyembuhan, bahkan ada yang hanya dengan mengatakan,”Keluarlah wahai jin!””Bismillah”, atau, “Lahaula wa la quwwata illa billah (tiada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah).” Rasulullah saw mengucapkan, “Keluarlah wahai musuh Allah ! Aku adalah Rasulullah,”saat mengobati.

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “Aku sendiri menyaksikan guruku yakni Syaikhul Islam, Ibn Taimiyah, menyuruh jin yang berada di dalam tubuh seseorang untuk keluar darinya, dengan mengatakan kepadanya, “Keluarlah kamu dari tubuh orang ini, karena tidak halal bagimu bercokol di sana.’Karena jin itu tidak mau keluar, maka ia memukulnya dengan cara memukul tubuh orang itu dengan sebuah tongkat. Setelah itu, barulah jin itu keluar darinya, dan sembuhlah orang itu dari sakitnya, ia tidak merasakan sakit sama sekali sewaktu tubuhnya dipukul oleh Ibn Tamiyah. Kami, dan orang-orang lain selain kami, telah beberapa kali menyaksikan kejadian itu secara langsung darinya, sampai Syaikh ini berkata,’Ringkasnya, hanya orang-orang yang kurang ilmu akalnya dan ma’rifat saja yang mengingkari penyakit ini serta pengobatannya. Dan kebanyakan penderita penyakit ini adalah disebabkan oleh kurangnya agama pada diri mereka dan rusaknya hati serta lisan mereka akibat tidak tersentuh oleh dzikir, ta’awwuzh, dan ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga jin-jin jahat itu dengan mudah bercokol di tubuh mereka karena tidak bersenjata sama sekali.

Dari penjelasan di atas, tahulah kita bahwa apa yang dituliskan oleh Koran an-Nadwah pada edisi 14/10/1407 H, hal. 8, dari Dr. Muhammad irfan bahwa kata junun (gila) tidak terdapat di dalam kamus kedokteran, dan bahwa dakwaannya yang menyatakan bahwa masuknya jin ke dalam tubuh seseorang lalu berbicara dengan lidah orang itu adalah keliru seratus persen secara ilmiah, itu semua adalah sebuah kebatilan yang timbul akibat ketidaktahuannya terhadap syariat Islam dan ketetapan-ketetapan para ulama Ahlussunah wa al-Jamaah. Ketidaktahuan kebanyakan dokter tentang hal ini tidak ada, justru menunjukkan kebodohan besar dari mereka terhadap apa-apa yang diketahui oleh dokter-dokter / ulama-ulama yang terkenal amanah, jujur, dan mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang agama.

Masalah ini sudah menjadi ijma (kesepakatan) para ulama Ahlussunnah wa al-Jamaah sebagaimana disampaikan oleh Ibn Taimiyah dari sekalian ahli ilmu (ulama). Ia (Ibn Taimiyah) juga menerima berita ijma ini dari Abu al-Hasan al-Asy’ari yang didapatkannya dari para ulama Ahlussunnah wa al-Jamaah. Guru besar Abu Abdulah Muhammad ibn Abdullah asy-Syalabi al-Hanafi (w.769 H), di dalam bukunya yang berjudul Akam al-Marjan fi Garaib al-Akhbar wa ahkam al-Jan, bab. 51, juga menerimanya dari Abu al-Hasan al-Asy’ari.

Di atas juga telah aku sebutkan perkataan Ibn al-Qayyim bahwa dokter-dokter terkemuka dan orang-orang pandai telah mengakui kebenaran perkara ini dan bahwa mereka-mereka yang bodoh saja yang mengingkarinya. Maka renungkanlah, wahai pembaca, dan berpegang teguhlah dengan kebenaran ini! Janganlah sampai berperdaya oleh dokter-dokter yang bodoh dan orang-orang seumpama mereka, juga oleh orang-orang yang berbicara tanpa ilmu tentang masalah ini, juga oleh sebagian orang-orang ahli bid’ah dari kalangan kelompok Mutazilah dan kelompok-kelompok lainnya.

Catatan :

Hadits-hadits sahih dan perkataan-perkataan ulama yang telah saya sebutkan di atas menunjukkan bahwa berdialog dengan jin, memberi pelajaran kepadanya, mengingatkannya, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam Islam serta responnya terhadap itu semua, tidaklah bertentangan dengan firman Allah SWT di atas tentang doa Nabi Sulaiman. Begitu juga dengan tindakan menyuruhnya kepada kebaikan dan melarangnya berbuat kemungkaran serta memukulnya jika tidak mau keluar dari tubuh seseorang yang dihinggapinya, tidak bertentangan dengan ayat tersebut. bahkan, itu adalah sebuah kewajiban sebagai upaya pencegahan baginya dan perlindungan/pertolongan bagi manusia yang diganggunya. Di atas telah saya sebutkan bahwa Nabi saw telah mencekik leher setan hingga keluar air liurnya dan mengenai jari-jarinya, lalu beliau saw berkata, “Kalaulah bukan karena teringat kepada doa Nabi Sulaiman, sungguh telah aku ikat dia agar bisa dilihat oleh manusia.”

Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda, “Sungguh musuh Allah, iblis. Telah datang kepadaku membawakan sebuah percikan api untuk dilemparkan ke wajahku, maka aku mengucapkan “Audzu billahi minka (aku berlindung kepaada Allah dari kejahatanmu)”sebanyak tiga kali, dan “Al’anuka bi lanatillah al-ammah (aku laknat engkau dengan laknat Allah yang umum)”. Kemudian, kalaulah bukan karena teringat kepada doa Nabi Sulaiman, sungguh telah aku ikat dia agar bisa dipermain-mainkan oleh anak-anak Madinah.” (HR.Muslim dari Abu Darda)

Akhirnya, aku berharap kiranya semua yang telah saya sebutkan ini dapat memuaskan penanya, dan kepada Allah saya meminta melalui Asma’al-Husna-Nya agar Dia membantu kita, sekalian orang Islam, untuk memahami agama dan istiqamah di dalamnya, dan semoga Dia menuntun kita semua kepada perkataan dan amal perbuatan yang benar,  terjauh dari perkataan sia-sia tanpa ilmu dan perbuatan-perbuatan mungkar, tanpa kita sadari. Sungguh Dia Maha mampu melakukannya. Kemudian salawat dan salam kepada nabi kita, Nabi Muhammad saw, sahabat-sahabat, dan orang-orang yang setia mengikuti petunjuknya.

Abdul ‘aziz ibn ‘abdullah bin ‘Abdurrahman Ali Baz

Kepala Dewan Pendiri Rabithah ‘Alam Islami di Makkah al Mukarramah

dan Ketua Umum Badan Riset Ilmu, Fatwa, Dakwah, dan Bimbingan

Agama Kerajaan Saudi Arabia

Dikeluarkan pada tanggal 21/1/1407 H

Kesimpulan dari hasil penjelasan dan pengalaman para ulama yang telah menulis dalam kitab-kitab ruqyah syar’iyyahnya. Para ulama sependapat dan berkesesuaian bahwa :

  1. Ruqyah yang dilakukan pada orang yang dicurigai memiliki jin dalam dirinya (setelah dilakukan diagnosa) dapat menimbulkan reaksi keras yaitu gerakan dan ucapan yang tidak terkontrol karena syetan dalam diri pasien itu menampakkan dirinya karena tidak kuat menahan fadhilah ayat-ayat suci al-Qur’an.
  2. Reaksi keras ketika dibacakan ruqyah syar’iyyah bukanlah akibat jin dari luar (tubuh pasien) yang masuk kedalam tubuh seseorang. Melainkan karena jin yang memang sudah ada dalam tubuh seseorang itu “terguncang” hingga terpaksa menampakkan eksistensinya melalui sarana tubuh orang yang dirasukinya karena  tidak kuat menghadapi fadhilah ayat-ayat Allah.
  3. Ruqyah adalah sarana untuk membersihkan dirinya dari segala kotoran syaithaniyah dan dapat menyembuhkan dari segala penyakit fisik maupun psikis.
  4. Setelah jin dalam tubuh seseorang itu berbicara melalui lisan orang yang dirasukinya, kita dapat menda’wahi jin tersebut agar mendapat hidayah Allah dan keluar dari tubuh orang yang dirasukinya.
  5. Seorang peruqyah dapat menyiksa atau membakar jin yang ada dalam tubuh seseorang dengan bacaan ayat suci al-Qur’an.

[1] Setelah dilaksanakannya terapi ruqyah

[2] Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Lihat Shohih Ibni Majah II/332.

[3] Hakim, ia menshohihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi I/562 dan Shohihu ‘t-Tarhib, Al-Albani I/273 no. 658.

[4] Bukhori IV/95 dan Muslim IV/2071.

[5] Pencampuran hak dan bathil

[6] Dalam Al-Qur’an banyak diutarakan ayat-ayat mengenai obat (syifa’un) bagi manusia yang disebut dalam Al-Qur’an, diturunkan untuk mengobati jiwa yang sakit, seperti pada ayat-ayat Al-Qur’an berikut :

“Hai manusia!Telah datang nasihat dari Tuhanmu sekaligus sebagai obat bagi hati yang sakit ,petunjuk serta rahmat bagi yang beriman.” (QS.Yuunus:57)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Kami turunkan dari Al-Qur’an ini, yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang mukmin.”(Al Israa’:82)

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Mereka itu orang yang beriman, yang berhati tenang karena ingat kepada Allah. Ketahuilah, dengan ingat kepada Allah hati menjadi tenang.”(QS.Ar Ra’d:28)

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

“….Katakanlah Muhammad,”Bagi segenap orang-orang yang beriman Al-Qur’an menjadi petunjuk dan juga obat.”(QS.Fushshilat:44).

[7] Lihat buku yang berjudul “Membentengi Diri Melawan Ilmu Hitam” Penerbit Lintas Pustaka Publisher. Halaman 77-81

[8] Lihat buku yang berjudul “Membentengi Diri Melawan Ilmu Hitam” Penerbit Lintas Pustaka Publisher. Halaman 126,

[9] Lihat buku yang berjudul “Dialog dengan Jin Muslim” yang diterjemahkan oleh Abu Maulana Hakim Al-Ghifari) halaman 81-82

[10] Lihat buku yang berjudul “Pengobatan Syar’iyah dari gangguan Jin, Sihir dan Penyakit Jiwa” Penerbit Pustaka Progressif. Halaman 82

[11] Lihat buku yang berjudul “Bagaimana Menolak Sihir dan Kesurupan Jin” Penerbit Gema Insani. Halaman 140.

[12] Lihat buku yang berjudul “Rujukan Lengkap Masalah Jin dan Sihir” Penerbit Pustaka Al-Kautsar. Halaman 155

[13] Lihat buku yang berjudul “Sihir dan Pengobatannya” Penerbit Karya Agung Surabaya. Pada halaman 33-35

[14] Untuk lebih jelas silahkan baca buku “Wawancara dengan Setan” Penerbit Pustaka Hidayah halaman 43

[15] Untuk lebih jelas silahkan baca buku “Wawancara dengan Setan” Penerbit Pustaka Hidayah, hal. 111

[16] Untuk mengetahui lebih jelas kisahnya, anda bisa memiliki buku karangannya yang berjudul“ Rahasia Keagungan Ruqyah Syar’iyyah” Penerbit Alsina Press. Halaman 122-129.

[17] Lihat bukunya “ Ruqyah dalam Shahih Bukhari” Penerbit Aulia Press. Halaman 105.

[18] Lihat buku yang berjudul “Ruqyah Syar’iyyah” Penerbit Media Insani. Halaman 120

[19] Lihat buku yang berjudul “ Panduan Praktis Terapi Penyembuhan Syar’i”. Penerbit Pustaka At-Tibyan. Hal 51.

[20] dalam bukunya “Cara Islam Mengobati Sihir dan Gangguan Jin” Penerbit Sahara Publisher. Halaman 56-67.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: