BERAKIDAH QUBBURIYYUN


Benarkah Kyai M. Luthfi Ghozali seorang qubburiyyun? Untuk mengetahui ciri-ciri seorang yang berakidah qubburiyyun, maka sekali lagi silahkan para pembaca sekalian sekali lagi mengkaji tulisan saudara Luthfi yang penuh syubhat.

Kyai Luthfi mengatakan (pada halaman 229-232) :

Ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amatlah dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin), yaitu orang yang selalu berdoa sendirian maupun berjama’ah, baik di rumah maupun di majelis-majelis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Di situlah letak sasaran yang diharapkan, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat terus menerus memancar, sehingga usaha seorang hamba akan mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah ta’ala berkat doa-doa mereka. Karena keberadaan mereka (al-muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah ta’ala bagi daerah sekelilingnya.

Dari doa-doa yang mereka panjatkan setiap pagi dan petang sebagai bentuk keprihatinan hati untuk umatnya, akan menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang didoakan. Hal itu menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitanya. Demikianlah yang terjadi dimana-mana. Di tempat tinggal mereka yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan mereka beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka sebagai anugrah dan buah pengabdian yang hakiki, daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah. Orang-orang berdatangan untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyakit yang diderita, baik penyakit lahir maupun penyakit batin.

Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam mereka, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri bahwa keberkahan Allah ta’ala telah mampu menghidupi orang melalui kehidupan orang yang sudah mati walau di mana-mana bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.

Kalau sekedar minta kepada kuburan …! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal yang demikian itu perbuatan syirik …? Kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari dating ke kuburan para waliyullah itu berbuat syirik…? Sekarang ada pertanyaan “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang yang berbuat syirik itu menziarahi kburan kita …? “, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad oara waliyullah itu …? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati…? Mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang banyak hingga tiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarukan, sedang jasad kita tidak …?

Barangkali ada sudut pandang yang agak berbeda, sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertaya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang ke kuburan orang yang sudah mati …?”. Jawabannya gampang sekali, karena mereka itu adalah orang-orang yang bodoh sehingga mampu berbuat yang tidak masuk akal. Masak tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit :”Ada apa di kuburan orang itu …?, Mengapa  setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh, didatangkan oleh Allah ta’ala ke sana …? Mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita…?,maka jawabannya agak sulit, karena ia membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang panjang, kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada inayah dari Allah ta’ala sehingga nur imanya mampu menyinari perbendaharaan ilmu yang ada di bilik akalnya.

Bukanlah semua orang tahu, apa saja yang terjadi, pasti karena takdir Allah Ta’ala. Pertanyaannya : mengapa orang-orang itu tiap hari datang dari jauh ditakdirkan Allah ta’ala ke kuburan kita…? Apa rahasia di balik itu …? Kalau semacam itu pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun akan dapat menemukan jawabannya asal dilontarkan dengan hati yang selamat. Kalau tidak, berarti hati kita yang perlu diteliti, barangkali sudah tercemar oleh penyakit-penyakit yang dimasukkan oleh setan jin di dalamnya.

Jawabannya adalah sesungguhnya yang demikian itu adalah buah ibadah para waliyullah itu sekarang sudah menuai bibit yang dahulu mereka tanam. Mereka menanam bibit kasih saying kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan doa-doa mereka. Mereka manuai hasil keprihatinan hatinya kepada keselamatan orang lain yang bukan apa-apa mereka. Sekarang panen itu adalah bahwa mereka didoakan oleh manusia-manusia yang tahu berterima kasih terhadap jasa-jasa mereka. Mereka didatangi dan didoakan orang-orang yang telah merasakan kenikmatan iman yang ada di dalam hatinya atas hasil jerih payah yang dahulu mereka kerjakan. Hal itu sebagai bentuk dzikir Allah ta’ala kepada mereka karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah ta’ala melalui keperihatinan hatinya kepada umat manusia sepanjang hidupnya.

Kesimpulan dari tulisan Saudara Luthfi :

  1. 1. Memperbolehkan berziarah dengan berdoa dan ber-tabarruk pada kuburan wali atau orang shaleh
  2. 2. Memperbolehkan mengambil berkah dan ber-tawwasul pada para nabi, wali atau orang-orang shaleh yang telah meninggal.
  3. 3. Dia mengklaim tidak meminta pada kuburan, batu nisan melainkan hanya meminta berkah melalui perantaraan para nabi, wali atau orang-orang shaleh yang telah meninggal.

Untuk menjawab syubhat saudara Luthfi, maka kami akan memberikan jawaban telak untuk siapa saja yang menjadi penganut qubburiyyun. Berikut ini jawaban telak kami!

JAWABAN TELAK UNTUK QUBBURIYYUN[1]

Segala puji bagi Alloh Rabbul ‘Alamiin. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rosululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du:

Ketahuilah! Semoga Alloh merahmati kita semua bahwa jalan menuju ridho Alloh memiliki musuh-musuh yang pandai bersilat lidah, berilmu dan memiliki argumen. Oleh karena itu kita wajib mempelajari agama Alloh yang bisa menjadi senjata bagi kita untuk memerangi syaitan-syaitan ini, yang pemimpin dan pendahulu mereka (baca: iblis) berkata kepada Robb-mu ‘azza wa jalla:

“Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau akan mendapati mereka kebanyakan tidak bersyukur (ta’at)” (QS Al A’raaf: 16-17)

Ketahuilah, sesungguhnya tentara Alloh akan senantiasa menang dalam argumen dan perdebatan sebagaimana mereka menang dengan pedang dan senjata. Seorang muwahhid (orang yang bertauhid) yang menempuh jalan (Alloh) namun tanpa senjata (ilmu untuk membela diri) amatlah mengkhawatirkan.

Alloh ta’ala telah memberi nikmat kepada kita dengan menurunkan kitab-Nya yang Dia jadikan:

تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Sebagai penjelas atas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin”. (QS An Nahl: 89)

Tidak ada seorang pun pembawa kebatilan datang dengan membawakan hujjah (demi membela kebatilannya) melainkan di dalam Al Quran terdapat dalil yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman Alloh ta’ala,

وَلاَيَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّجِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

‘Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang (ganjil), melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.’ (QS Al Furqon: 33)

Termasuk ahlul bathil adalah ahlul bid’ah dan para quburiyyin yang sesat mereka tinggalkan kewajiban ikhlas dalam beribadah kepada Alloh dan menyekutukan Alloh dengan selain-Nya yaitu para nabi dan wali. Mereka memiliki dalih-dalih. Untuk menjawabnya dapat ditempuh dua metode, secara global dan rinci.

Jawaban Global

Alloh ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ ءَايَاتُُ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتُُ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغُُ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللهُ

“Dialah yang menurunkan Al Quran kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihaat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutsyabihaat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Alloh”. (QS Ali Imron: 7) [2]

Dalam hadits shohih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذرهم

“Jika engkau melihat ada orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabih dari Al Quran, maka mereka itulah yang disebutkan Alloh (dalam ayat itu), maka jauhilah mereka.” (HR. Bukhari 4547 dan Muslim 2665)

Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita agar menjauhi orang yang mengikuti ayat mutasyabih dari Al Quran atau sunnah kemudian membungkus kebatilannya dengan hal itu. Mereka inilah yang Alloh sebutkan dalam firman-Nya:

‘Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada zaigh (condong kepada kesesatan)’

Sebab peringatan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekhawatiran beliau andai mereka menyesatkan kita dari jalan Alloh disebabkan mengikuti ayat mutasyaabih, maka beliau memperingatkan kita untuk menjauhi mereka dan menjauhi jalan mereka.

JAWABAN RINCI

1. Syubhat Pertama

“Kami tidaklah menyekutukan Alloh. Kami bersaksi bahwasanya tidak ada yang dapat menciptakan, memberi rezeki, memberi manfaat dan menimpakan bahaya melainkan Alloh semata tidak ada sekutu baginya. Kami juga bersaksi bahwa Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat memberi manfaat dan mencegah bahaya bagi dirinya. Akan tetapi kami ini adalah orang yang bergelimang dosa, dan orang-orang shalih ini memiliki kedudukan di sisi Alloh, maka kami memohon ampunan Alloh dengan perantara mereka”

Jawaban:

Sesungguhnya orang-orang yang diperangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam darahnya boleh ditumpahkan dan wanita-wanitanya boleh diperbudak, mengakui hal tersebut. Mereka mengakui bahwa berhala-berhala mereka tidak dapat mengatur sesuatu pun. Tetapi mereka hanya menginginkan jah (kedudukan) dan syafaat mereka. Ternyata tauhid ini tidak berguna sedikit pun bagi mereka.

Dan Alloh ‘azza wa jalla mengatakan dalam kitab-Nya:

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak melainkan Aku, maka sembahlah Aku (semata).” (QS Al Anbiyaa’: 25)

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (semata).” (QS Adz Dzaariyaat: 56)

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Alloh menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak selain Dia. Dan para malaikat, orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) dengan keadilan. Tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (QS Ali Imron 18)

وَإِلاَهُكُمْ إِلَهُُ وَاحِدُُ لآَّإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحَمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang hak melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqoroh 163)

فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونَ

“Maka sembahlah aku semata.” (QS Al Ankabut: 56)

Masih terdapat berbagai ayat lain yang menunjukkan kewajiban mengesakan Alloh ‘azza wa jalla dalam ibadah dan tidak beribadah kepada seorang pun selain-Nya.

2. Syubhat Kedua

“Ayat-ayat yang telah disebutkan itu diturunkan kepada mereka yang beribadah/menyembah patung/berhala. Sedangkan orang-orang yang kami maksudkan adalah para wali bukan patung/berhala.” [3]

Jawaban:

Seorang yang beribadah kepada selain Alloh maka dia telah menjadikan sesembahannya tersebut watsan (berhala). Maka apakah perbedaan antara orang yang beribadah kepada patung-patung dengan yang beribadah kepada para nabi dan wali?!

Di antara orang-orang kafir terdapat orang yang berdoa kepada patung untuk mendapatkan syafaat, dan di antara mereka juga ada yang beribadah kepada para wali.

Dalil bahwa mereka beribadah/berdoa kepada wali adalah perkataan mereka,

ُأوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS Al Isra: 57)

Begitu pula mereka menyembah para nabi sebagaimana kaum Nashara beribadah terhadap Al Masih Ibn Maryam. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala,

وَإِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّىَ إِلاَهَيْنِ مِن دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَايَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَالَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلآَأَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“Dan (ingatlah) ketika Alloh berfirman: ‘Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai sesembahan selain Alloh?’, Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghoib.’” (QS Al Maaidah 116)

Demikian pula mereka menyembah para malaikat, sebagaimana firman Alloh ta’ala,

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلاَئِكَةِ أَهَؤُلآءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Alloh mengumpulkan mereka semua, kemudian Alloh berfirman kepada malaikat: Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu? (QS As Saba’: 40)

Berdasarkan keterangan di atas tersingkaplah kerancuan mereka yang beranggapan bahwa kaum musyrikin berdoa kepada patung-patung sedangkan mereka berdoa kepada para wali dan orang shalih dari dua sisi:

Sisi pertama: Anggapan mereka sama sekali tidak benar, karena di antara kaum musyrikin pun ada yang berdoa/beribadah kepada para wali dan orang shalih.

Sisi kedua: Sekiranya kita menganggap kaum musyrikin tidak menyembah melainkan kepada patung semata, maka tidak ada bedanya antara mereka yang menyembah para wali dan orang shalih dengan para musyrikin karena mereka semua menyembah kepada sesuatu yang sama sekali tidak dapat mendatangkan manfaat sama sekali.

Dari sini kita mengetahui bahwa Alloh mengkafirkan orang yang memiliki keyakinan yang aneh-aneh tentang patung atau dengan orang shalih. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka karena kesyirikan ini, dan sesembahan mereka yaitu para wali Alloh dan orang shalih tidak mampu memberi manfaat kepada mereka (Yakni memberi mereka pertolongan saat mereka diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam)

3. Syubhat ketiga

“Kaum kuffar menghendaki dari patung-patung itu untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot dari mereka. Sedangkan kami tidak mengharapkan yang demikian itu kecuali kepada Alloh dan orang-orang shalih pun tidak memiliki kekuasaan dalam hal ini sedikit pun. Dan kami tidak beri’tiqod kepada mereka, akan tetapi kami mendekatkan diri kepada Alloh ‘azza wa jalla dengan perantaraan mereka agar mereka menjadi pemberi syafaat bagi kami.” [4]

Jawaban:
Ucapan ini sama persis dengan ucapan orang-orang kafir ketika Alloh ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya” (Az Zumar: 3)

هَاؤُلآءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللهِ

“Mereka inilah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Alloh” (QS Yunus 18)

4. Syubhat keempat

“Kami tidak menyembah melainkan kepada Alloh semata, sedangkan iltija’ (berlindung) kepada orang shalih dan berdoa kepada mereka bukanlah termasuk ibadah.”

Jawaban:

Ketahuilah bahwa Alloh mewajibkanmu untuk memaksudkan ibadah hanya kepada-Nya semata dan ini merupakan hak Alloh yang menjadi kewajiban manusia, Alloh ta’ala berfirman:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Robb-mu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lirih. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al A’raaf: 55)

Doa adalah ibadah. Apabila doa termasuk ibadah maka sesungguhnya berdoa kepada selain Alloh adalah syirik kepada Alloh ‘azza wa jalla. Yang berhak untuk diseru, disembah dan disandarkan harapan adalah Alloh semata tidak ada sekutu bagi-Nya.

Jika kita telah mengetahui bahwa doa adalah ibadah, dan kita berdoa kepada-Nya siang dan malam dengan penuh harap dan takut kemudian kita berdoa kepada nabi atau selainnya agar memenuhi hajat kita, maka sungguh kita telah menyekutukan Alloh dengan selain-Nya dalam ibadah.

Alloh ta’ala berfirman,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka tegakkanlah shalat dan berkurbanlah!” (QS Al Kautsar: 2)

Apabila kita menaati Alloh dan berkurban untuk-Nya, maka ini adalah ibadah kepada Alloh. Sehingga jika kita berkurban kepada makhluk, baik itu nabi, jin atau yang lainnya maka sungguh kita telah menyekutukan Alloh dengan selain-Nya dalam masalah ibadah.

Kaum musyrikin yang Al Quran diturunkan di tengah-tengah mereka, menyembah para malaikat, orang-orang shalih dan Latta. Sedangkan bentuk peribadatan mereka kepada sesembahan mereka hanyalah dalam bentuk doa, sembelihan, iltija’ (meminta perlindungan) dan semacamnya (dari perkara ibadah). Sedangkan mereka sendiri mengakui bahwa mereka adalah hamba Alloh dan di bawah kuasa-Nya serta Allohlah yang mengatur segala urusan. Akan tetapi, mereka berdoa dan berlindung kepada sesembahan selain Alloh karena kedudukan orang shalih tersebut di sisi Alloh dan mengharapkan syafaat mereka. Ini adalah sangat jelas.

5. Syubhat kelima

Perkataan mereka terhadap ahli tauhid :“Kalian mengingkari syafaat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Jawaban:

Kami tidak mengingkari syafaat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kami tidak berlepas diri darinya, bahkan Beliau shalallahu ‘‘alaihi wa sallam adalah syaafi’ (pemberi syafa’at), musyaffa’ (yang diizinkan memberi syafa’at oleh Alloh) dan aku berharap bisa mendapatkan syafaat Beliau. Akan tetapi seluruh bentuk syafaat adalah milik Alloh, sebagaimana firman Alloh ta’ala,

قُلِ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah! Hanya kepunyaan Allohlah syafaat itu semuanya.” (QS Az Zumar: 44)

Syafaat itu tidak akan diberikan melainkan setelah diizinkan oleh Alloh ta’ala, sebagaimana firman Alloh ta’ala,

مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi Alloh tanpa izin-Nya?” (QS Al Baqarah: 255)

Nabi tidak bisa memberi syafaat kepada seseorang melainkan setelah Alloh mengizinkannya, sebagaimana firman Alloh ta’ala,

وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Alloh.” (QS Al Anbiyaa’: 28)

Sedangkan Alloh hanya ridho terhadap tauhid, firman ‘azza wa jalla,

يَبْتَغِ غَيْرَ اْلأِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“(Barang siapa) yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya.” (QS Ali Imron 85)

Apabila seluruh bentuk syafaat itu milik Alloh, dan tidak akan diberikan melainkan setelah (ada) izin dari-Nya, bahkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan selain beliau tidak dapat memberi syafaat kepada seorang pun hingga Alloh mengizinkan mereka, padahal Alloh tidak akan mengizinkannya kecuali untuk orang yang bertauhid. Oleh karena itu mohonlah syafaat kepada Alloh dan panjatkan doa, “Ya Alloh janganlah Engkau halangi aku untuk mendapatkan syafaat beliau, Ya Alloh berikanlah syafaat beliau kepadaku” atau kalimat semisal dengannya.

6. Syubhat keenam

“Sesungguhnya Alloh telah memberikan syafaat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kami hanya meminta kepada beliau syafaat yang telah diberikan Alloh kepadanya”
Jawaban:

Sesungguhnya Alloh memberikan syafaat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam namun melarang kita dari meminta syafaat kepada beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.[5]

Alloh berfirman,

فَلاَ تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا

“Maka janganlah kamu menyembah (beribadah) seorang pun di dalamnya di samping menyembah Alloh.” (QS Al Jin: 18)

Ketahuilah sesungguhnya Alloh ta’ala memberikan syafaat kepada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi beliau tidak mampu memberi syafaat melainkan dengan izin Alloh dan syafaat tidak diberikan melainkan hanya kepada orang yang diridhoi Alloh, sedangkan Alloh tidak akan meridhoi orang musyrik dan tidak akan mengizinkan syafaat diberikan kepadanya.

Alloh ta’ala berfirman,

وَلاَيَشْفَعُونَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak dapat memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhoi Alloh.” (QS Al Anbiyaa’: 28)

Sesungguhnya Alloh memberikan syafaat kepada selain nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Malaikat, anak-anak yang meninggal semasa kecil dan para wali Alloh juga memberi syafaat. Apakah kita meminta syafaat kepada mereka?

Jika engkau ingin memperoleh syafaat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ucapkanlah, “Ya Alloh berikanlah syafaat Nabimu shalallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku”. [6]

Bagaimana mungkin engkau menginginkan syafaat beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan engkau berdoa meminta syafaat kepada beliau secara langsung, sedangkan berdoa kepada selain Alloh adalah syirik akbar yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam!

7. Syubhat ketujuh

“Kami tidak mempersekutukan Alloh sedikit pun, dan berlindung kepada orang shalih bukanlah kesyirikan”[7]

Jawaban:

Alloh lebih mengharamkan kesyirikan daripada zina, dan Alloh tidak akan mengampuninya (Ini berlaku selama pelakunya belum bertaubat. Adapun jika dia bertaubat dengan sebenarnya maka dia dapat diampuni. Wallohu a’lam -pent). Jika demikian apakah itu syirik itu?

Sesungguhnya mereka ini tidak mengetahui hakikat syirik selama mereka beranggapan bahwa meminta syafaat kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah bentuk kesyirikan. Ini adalah dalil bahwa mereka tidak mengetahui hakikat syirik yang sangat diharamkan Alloh ta’ala.

Alloh ta’ala berfirman,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang amat besar” (QS Luqman: 13)

Bagaimana mungkin engkau bisa melepaskan diri dari kesyirikan dengan berlindung kepada orang shalih, sedangkan engkau tidak mengetahuinya! Menilai suatu penilaian adalah derivat dari persepsi tentangnya. Penilaian kalian yang menyatakan terbebasnya kalian dari syirik sedangkan kalian tidak mengetahui hakikat syirik adalah penilaian yang tidak dilandasi ilmu, sehingga penilaian itu tertolak, tidak dapat diterima.

Mengapa engkau tidak bertanya tentang kesyirikan yang sangat Alloh haramkan lebih daripada pengharaman membunuh dan berzina. Pelaku syirik pasti masuk neraka dan surga haram baginya. Apakah engkau mengira Alloh mengharamkan syirik atas hamba-hambaNya kemudian Dia tidak menjelaskan hakikat syirik kepada mereka? Sungguh mustahil.

8. Syubhat kedelapan

“Syirik itu adalah menyembah (beribadah) kepada patung sedangkan kami tidak menyembah patung.”[8]

Jawaban:

Sesungguhnya para penyembah patung itu tidak berkeyakinan bahwa patung itu mampu menciptakan, memberi rezeki dan mengatur segala urusan orang yang beribadah kepadanya. Al Quran mendustakan orang yang mengatakan bahwa mereka tidak berkeyakinan seperti itu.

Sesungguhnya peribadatan kepada patung adalah menambatkan hati kepada patung kayu, batu atau bangunan di atas kubur dan selainnya, kemudian mereka berdoa dan menyembelih untuknya seraya mengatakan sesungguhnya sesembahan kami ini akan mendekatkan kami kepada Alloh sedekat-dekatnya, serta Alloh akan menolak bahaya dari kami dan memberi manfaat kepada kami dengan sebab keberkahannya.

Sesungguhnya perbuatan kalian di sisi batu-batu, bangunan-bangunan di atas kubur dan selainnya adalah semodel dengan perbuatan mereka. Atas dasar inilah maka perbuatan kalian adalah peribadatan kepada patung (berhala).

Sedangkan perkataan kalian “kesyirikan adalah beribadah kepada patung (berhala)”, maka apakah yang dimaksudkan kesyirikan itu hanya khusus hal itu saja, dan apakah ketergantungan hati kepada orang shalih dan berdoa kepada mereka tidak termasuk di dalamnya?

Hal inilah yang diinginkan tatkala Alloh menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa termasuk kekufuran adalah menggantungkan hati kepada malaikat, Isa atau orang-orang shalih.

9. Syubhat kesembilan

“Sesungguhnya orang-orang yang Al Quran diturunkan di tengah-tengah mereka itu tidak bersaksi/mengucapkan “Laa ilaha illalloh”, dan mereka mendustakan Rasul sholallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari hari kebangkitan dan mendustakan Al Quran dan menjadikannya bahan olok-olokan. Sedangkan kami bersaksi/mengucapkan “Laa ilaha illalloh” dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh, membenarkan Al Quran, beriman kepada hari kebangkitan, kami sholat dan berpuasa. Bagaimana mungkin kalian samakan kami dengan mereka?”

Jawaban:

Sesungguhnya para ulama sepakat bahwa barang siapa mengingkari dan mendustakan sebagian ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia seperti orang yang mendustakan dan mengingkarinya secara keseluruhan. Barang siapa yang mengingkari salah seorang nabi, maka dia seperti mengingkari seluruh para nabi, karena Alloh ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً أُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Alloh dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara Alloh dan rasul-Nya dengan mengatakan : “Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu) dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”. Serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya” (QS An Nisaa’ 150-151)

Firman Alloh ta’ala kepada Bani Israil,

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (taurat) dan kafir terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian (itu) dari (golongan) kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang amat berat.” (QS Al Baqoroh: 85)

Jadi barang siapa mengakui tauhid kemudian mengingkari kewajiban sholat maka dia kafir. Barang siapa mengakui tauhid dan kewajiban sholat kemudian dia menentang kewajiban zakat, maka sesungguhnya dia itu kafir. Barang siapa mengakui kewajiban-kewajiban tadi namun dia menentang kewajiban puasa, maka dia adalah kafir. Barang siapa mengakui seluruh kewajiban di atas namun dia mengingkari kewajiban haji, maka dia juga kafir. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala,

وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari/kafir (kewajiban haji), maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari semesta alam” (QS Ali Imron: 97)

Barang siapa mengakui seluruh kewajiban tersebut, namun dia mengingkari hari kebangkitan, maka dia kafir menurut ijma’, karena Alloh ta’ala berfirman,

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ

“Orang-orang kafir menyangka, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak, bahkan demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu amalkan.” Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (QS At Taghaabun: 7)

Jadi jika kamu mengakui semua kewajiban tersebut, maka ketahuilah bahwa kewajiban terpenting yang dibawa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah tauhid, lebih penting dari sholat, zakat, puasa dan haji.

Maka bagaimana mungkin seorang yang menentang salah satu perkara tersebut dikafirkan walaupun dia mengamalkan yang lain, sedangkan bila menentang tauhid yang merupakan inti agama para rasul tidak dikafirkan? Maha Suci Alloh, betapa mengherankannya kebodohan ini! Maka jelaslah bahwa pengingkar tauhid kekufurannya itu lebih keterlaluan.

Para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerangi Bani Hanifah yang berislam, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, mereka mengumandangkan azan dan menjalankan sholat. Namun mereka mengangkat seseorang ke martabat seorang nabi, maka bagaimana dengan seseorang yang mengangkat seseorang ke martabat Yang Maha Kuasa atas langit dan bumi? Bukankah orang itu lebih berhak untuk dikafirkan daripada yang mengangkat seorang makhluk ke kedudukan makhluk yang lain?

Orang-orang yang dibakar oleh Ali ibn Abi Thalib rodhiallohu ‘anhu itu mengaku Islam, mereka adalah sahabat Ali ibn Abi Thalib serta belajar dari pada sahabat akan tetapi mereka berkeyakinan terhadap Ali sebagaimana keyakinan banyak orang terhadap Yusuf, Syamsan (Nama berhala di masa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –pent) dan semisal mereka. Jika demikian, mengapa para sahabat sepakat memerangi dan mengkafirkan mereka?

Apakah engkau mengira bahwa para sahabat mengkafirkan kaum muslimin? Ataukah kalian mengira tidak mengapa berkeyakinan kepada Al Husain, Badawi dan semisalnya sedangkan berkeyakinan kepada Ali ibn Abi Thalib rodhiallohu ‘anhu dikafirkan?

Sungguh para ulama sepakat atas kafirnya Bani ‘Ubaid Al Qoddah yang menguasai Maroko dan Mesir. Mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, mereka sholat Jumat dan berjama’ah serta mengaku sebagai kaum muslimin, akan tetapi itu semua menghalangi vonis murtad untuk mereka oleh kaum muslimin tatkala mereka menyelisihi kaum muslimin dalam beberapa perkara yang tidak termasuk tauhid sehingga mereka akhirnya diperangi dan harta mereka dijadikan rampasan perang.

Jika orang-orang terdahulu tidaklah dikafirkan kecuali setelah terkumpul seluruh jenis kekufuran pada mereka berupa kesyirikan, pendustaan dan sikap menyombongkan diri, lalu apakah makna disebutkannya bentuk-bentuk kekufuran dalam “bab hukum murtad” yang terdapat kitab-kitab fikih? Semua perbuatan tersebut dikafirkan, hingga disebutkan beberapa hal yang kecil ketika seseorang itu mengerjakannya, misal mengucapkan kalimat kekufuran dengan lisannya tanpa meyakininya dengan hati, atau mengucapkan kalimat kekufuran dengan tujuan bersenda gurau dan bermain-main. Jika sekiranya pelaku perbuatan tersebut tidak dikafirkan dengan mengerjakan salah satu dari perbuatan tersebut karena dia mengerjakan kewajiban yang lain, maka tentunya penyebutan jenis-jenis kekufuran dalam bab hukum murtad itu sama sekali tidak bermanfaat.

Sesungguhnya Alloh ta’ala mengkafirkan orang-orang munafik yang mengucapkan kalimat kekufuran sedangkan mereka menyertai Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sholat, zakat, berhaji dan berjihad bersama beliau serta mereka bertauhid, Alloh ta’ala berkata tentang mereka,

يَحْلِفُونَ بِاللهِ مَاقَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلاَمِهِمْ

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Alloh, bahwa mereka tidak akan mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah kafir sesudah (menjadi) Islam.” (QS At Taubah: 74)

Alloh ta’ala mengkafirkan orang-orang munafik yang mengucapkan suatu kalimat yang menurut mereka sekedar untuk bergurau. Alloh ta’ala berfirman tentang mereka,

قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah: “Apakah dengan Alloh, ayat-ayatNya dan rasul-Nya kamu selalu bersenda gurau?” Tidak usah kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS At Taubah: 65-66)

Di antara dalil bahwa seseorang terkadang mengucapkan dan mengerjakan perbuatan yang merupakan kekufuran di saat dia tidak menyadarinya, adalah perkataan Bani Israil kepada Musa ‘alahis shalatu was salam: “Buatkanlah sesembahan bagi kami seperti sesembahan mereka!” (QS Al A’raaf 138) dan juga perkataan sebagian sahabat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam “Buatkanlah Dzata Anwath bagi kami sebagaimana yang mereka miliki” maka beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata :  “Allohu Akbar, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya sesungguhnya sunnah (tradisi) apa yang kamu katakan tadi seperti yang dikatakan kalangan Bani Isra’il kepada Musa: “Buatkanlah sesembahan bagi kami seperti sesembahan mereka!”, maka sungguh kalian akan mengikuti sunnah (tradisi) orang-orang sebelum kalian.” [9]

Hal ini menunjukkan bahwa Musa dan Muhammad ‘alaihimash shalatu was salam mengingkari perbuatan itu dengan keras.


[1] Diterjemahkan dari artikel 13 Syubhati lil Quburiyyin wal Jawabi ‘alaiha oleh Abdullah ibn Humaid Al Falasi sebagai ringkasan dari kitab Kasyfusy-Syubuhat karya Al Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahullah

[2] Ayat muhkamat adalah Ayat yang jelas dan tegas maksudnya dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang pengertiannya hanya diketahui oleh Alloh. Termasuk pengertian ayat mutasyaabih adalah ayat yang sukar untuk dipahami walaupun tidak menutup kemungkinan ada yang dapat memahami karena ilmunya lebih mumpuni

[3] Seperti yang dikatakan Kiyai Luthfi, (halaman 230) dia tidak minta atau menyembah pada kuburan, batu nisan melainkan hanya meminta barokah pada orang saleh : Kalau sekedar minta kepada kuburan …! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal yang demikian itu perbuatan syirik …? Kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari datang ke kuburan para waliyullah itu berbuat syirik…? Sekarang ada pertanyaan “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang yang berbuat syirik itu menziarahi kburan kita …? “, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad oara waliyullah itu …? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati…? Mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang banyak hingga tiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarukan, sedang jasad kita tidak …? “

[4] Seperti yang Saudara Luthfi katakan (pada halaman 229-230) : “Orang-orang berdatangan untuk mengambil berkah dari mereka (para wali), mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyakit yang diderita, baik penyakit lahir maupun penyakit batin. ……Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam mereka”

[5] Ada penyimpangan pada masyarakat kita, dimana ada shalawat-shalawat syirik dan bid’ah yang merupakan karangan orang-orang yang mengaku wali Allah, yang mana isi shalawatnya langsung meminta pada rasulullah syafa’at dengan disertai ucapan-ucapan yang menyelisihi syari’at.

[6] Sedang ucapan yang salah adalah “wahai rasulullah berikanlah syafa’atmu kepadaku” tanpa adanya doa meminta pada Allah.

[7] Seperti yang dikatakan saudara luthfi bahwa dengan banyaknya orang berziarah dan meminta barokah pada wali yang sudah mati maka daerah sekitar makam akan menjadi makmur. Kata-kata ini tidak lain menunjukkan masyarakat sekitar makam telah “berlindung” secara ekonomi pada para wali yang sudah meninggal atau  “berlindung” dengan meminta berkah dan mengganggap hal itu bukanlah suatu kesyirikan. Berikut ini perkataannya (pada halaman 230) : “Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam mereka, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri bahwa keberkahan Allah ta’ala telah mampu menghidupi orang melalui kehidupan orang yang sudah mati walau di mana-mana masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.”

[8] Seperti juga yang dikatakan Kiayi Luthfi (pada halaman 230) : Kalau sekedar minta kepada kuburan …! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal yang demikian itu perbuatan syirik …? Kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari dating ke kuburan para waliyullah itu berbuat syirik…?”

[9] HR Ahmad (5/218), Tirmidzi (2180), Nasa’i dalam Al Kubra (11185), Thabrani dalam Al Kabir (3290), Ibnu Abi Syaibah (15/101), Ibnu Hibban (6702)

Satu Tanggapan

  1. lutfi itu dukon bukan kiyai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: