HAKIKAT ZIARAH KUBUR SESAT KYAI LUTHFI


Saudara Kiyai Luthfi mengatakan dengan berbagai alasan yang dikemukakannya bahwa kita boleh berziarah ke kuburan orang-orang shaleh sebab mereka membawa keberkahan bagi masyarakat banyak, sebagaimana pendapatnya bahwa orang-orang berdatangan boleh untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyakit yang diderita, baik penyakit lahir maupun penyakit batin. Maka kami akan membantah kesimpulan dan keyakinan sesat saudara Kiyai Luthfi pada pembahasan dibawah ini:

Sesungguhnya hukum ziarah ke kubur itu jelas dianjurkan dalam Islam. Karena didalamnya terkandung pesan agar kita ingat bahwa sebentar lagi kita pun akan ada di dalamnya. Dan semua orang pastilah akan menjadi penghuninya, cepat atau lambat.

Meski ziarah kubur ini dahulu pernah dilarang, namun Rasulullah SAW kemudian menasakh pelarangan itu dengan sabda beliau :

Dari Buraidah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang silahkan berziarah” (HR. Muslim 2/672)

Ziarah kubur merupakan perkara yang disyariatkan dalam agama kita dengan tujuan agar orang yang melakukannya dapat mengambil pelajaran dengannya dan dapat mengingat akhirat. Syaratnya adalah dengan tidak mengatakan di sisi kuburan tersebut ucapan-ucapan yang bisa membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka, seperti berdoa kepada si ‘penghuni’ kuburan, memohon pertolongan kepadanya, memberi tazkiyah (jaminan) kepada penghuni kuburan, dan memastikan dia masuk Surga atau sejenisnya.[1]

Dan di dalam rangka berziarah kubur itu, kita disunnahkan untuk berdoa, yakni mendoakan mayit yang ada di kubur itu. Dan sebagai makhluk yang sudah mati, tentu doanya bukan minta fasilitas kehidupan seperti punya anak, istri cantik, duit banyak, lulus ujian, diterima pekerjaan, dagangan laku atau terpilih jadi anggota legislatif. Mereka sudah tidak butuh semua itu di alam barzakh. Yang mereka butuhkan adalah keringan dari siksa kubur dan pahala yang akan membuat mereka bisa masuk surga.

Untuk itu maka Rasulullah SAW mengajarkan bila kita berziarah kubur untuk mendoakan mayat dengan lafaz. Dari ‘Aisyah ra bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW : “Bagaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur ? Rasul SAW menjawab, “Ucapkan: (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli kubur baik mu’min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada generasi pendahulu dan generasi mendatang dan sesungguhnya –insya Allah- kami pasti menyusul) (HR Muslim).

Dari Ustman bin ‘Affan ra berkata: ” Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda:” mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya” (HR Abu Dawud)

Namun keyakinan Kiai Luthfi bahwa orang yang sudah mati itu lantas berdoa juga kepada Allah SWT untuk kebaikan kita, maka ada yang salah dalam memahaminya. Selain itu, menziarahi makam para wali itu harus dicermati dengan pemahaman akidah yang benar. Misalnya antar lain :

  1. Bahwa orang yang sudah mati itu tidak bisa berdoa demi keselamatan dirinya sendiri, bahkan sibuk mengharapkan kiriman pahala bantuan dari orang yang masih hidup. Lalu bagaimana pula dia berdoa untuk keselamatan orang lain ?
  2. Bahwa kita dibolehkan meminta untuk didoakan oleh orang yang shaleh dan dekat hubungan dengan Allah SWT. Namun bila orang shalih itu sudah wafat, tentu saja sudah lain lagi urusannya. Sebab mereka yang sudah mati sudah tidak lagi berurusan dengan yang masih hidup.
  3. Bahwa meminta kepada mendoakan orang yang sudah wafat agar ruh orang mati itu mendoakan kita bukanlah sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dan pada prakteknya, justru hal itu sangat sulit dibedakan dengan meminta kepada ruh orang mati. Minta istri, lulus ujian, dagangan laku, naik jabatan, terpilih jadi wakil rakyat dan seterusnya. Tentu saja meminta kepada selain Allah SWT adalah syirik yang harus dihilangkan.
  4. Dan sebenarnya, para wali yang diziarahi itu dulunya bukanlah tokoh sakti mandraguna yang punya sekian jenis ajian ghaib. Mereka itu adalah para pemimpin wilayah negeri Islam dalam sistem hukum negara Islam Demak. Istilah ‘wali’ yang disematkan kepada mereka bukanlah waliyullah yang umumnya dinisbatkan kepada orang ahli ibadat dan punya keistimewaan ini dan itu. Namun makna wali adalah pemimpin sebuah wilayah secara hukum dan administratif. Barangkali sekarang ini seperti gubernur. Hanya saja sistem hukumnya adalah hukum Islam. Itulah yang dikatakan para sejarawan tentang para wali songo itu.

Sedangkan cerita yang beredar di tengah masyarakat itu sebenarnya tidak pernah bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya secara ilmiyah. Dan alangkah naifnya bila sosok para pemimpin Islam dan penyebar Islam di tanah Jawa itu disamakan dengan tokoh dunia persilatan yang bisa terbang, menghilang, bisa membuat hal ghaib dan sejenisnya. Sungguh sebuah pemahaman keliru yang disengaja oleh pihak yang ingin mencoreng nama baik Islam.

Untuk itu cukuplah hadits Rasulullah SAW melarang kita melakukan praktek peribadatan di area makam orang shalih berikut ini : ”Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAW telah melaknat orang-orang yang kerjanya ziarah kubur, orang yang menjadikan kuburan itu masjid dan meletakkan lampu di atasnya”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, Tirmizay, Ibnu Hibban dan lain-lain).

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, (kini) berziarahlah, agar ziarah kubur itu mengingatkanmu berbuat kebajikan.” (HR Al-Ahmad, hadits shahih)

Di antara yang perlu diperhatikan dalam ziarah kubur adalah:

1. Ketika masuk, sunnah menyampaikan salam kepada mereka yang telah meninggal dunia.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada para sahabat agar ketika masuk kuburan membaca, “Semoga keselamatan dicurahkan atasmu wahai para penghuni kubur, dari orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam. Dan kami, jika Allah menghendaki, akan menyusulmu. Aku memohon kepada Allah agar memberikan keselamatan kepada kami dan kamu sekalian (dari siksa).” (HR Muslim)

2. Berziarah Kubur Dapat Mengingatkan Kematian dan mengingatkan Untuk Berbuat kebajikan.

Rasulullah bersabda: “Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian. Karena ziarah kubur akan mengingatkan kepada akhirat. Dan hendaklah berziarah itu menambah kebaikan buat kalian. Maka barangsiapa yang ingin berziarah silakan berziarah dan janganlah kalian mengatakan perkataan yang bathil (hujran).” (HR. Muslim, Abu Dawud, Al Baihaqi, An Nasa’i, dan Ahmad)

Rasulullah bersabda: “Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, (kini) berziarahlah, agar ziarah kubur itu mengingatkanmu berbuat kebajikan.” (HR Al-Ahmad, hadits shahih)

3. Tidak duduk di atas kuburan, serta tidak menginjaknya.

Ada banyak sekali fenomena dimana kuburan wali begitu dikeramatkan hingga orang mengunjungi kuburan wali, lalu duduk mengelilingi kuburan wali. Mereka juga menganggap jika shalat disana lebih baik dari shalat di masjid sebab jika shalat didekat orang shalih maka orang shalih tersebut akan memberikan syafa’at pada mereka. Ada kasus menarik dimana banyak orang-orang shalat menghadap kuburan Syaikh Abdul Qadir Jaelani, dan ia tidak menghadap kiblat. Inilah Bentuk kesyirikan yang nyata, seakan-akan orang itu belum mendengar sabda Rasulullah : “Janganlah kalian shalat (memohon) kepada kuburan, dan janganlah kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim)

4. Nadzar-nadzar yang ditujukan kepada orang-orang mati adalah termasuk syirik besar.

Sebagian manusia ada yang melakukan nadzar berupa binatang sembelihan, harta atau lainnya untuk wali tertentu. Nadzar semacam ini adalah syirik dan wajib tidak dilangsungkan. Sebab nadzar adalah ibadah, dan ibadah hanyalah untuk Allah semata. Adapun contoh nadzar yang dibenarkan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh isteri Imran. Allah berfirman: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)” (Ali Imran: 35)

5.  Tidak melakukan thawaf sekeliling kuburan dengan niat untuk ber-taqarrub (ibadah).

Seperti mengelilingi kuburan Syaikh Abdul Qadir Jaelani, Syaikh Rifa’i, Syaikh Badawi, Syaikh Al-Husain, dan lainnya. Perbuatan semacam ini adalah syirik, sebab thawaf adalah ibadah, dan ia tidak boleh dilakukan kecuali thawaf di sekeliling Ka’bah, Allah berfirman: “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (Al-Hajj: 29)

6.  Melakukan perjalanan (tour) menuju kuburan

Melakukan perjalanan (tour) menuju kuburan tertentu untuk mencari berkah atau memohon kepadanya adalah tidak diperbolehkan. Rasulullah bersabda: “Tidaklah dilakukan perjalanan (tour) kecuali kepada tiga mas-jid; Masjidil Haram, Masjidku ini, Masjidil Aqsha.” (Muttaffaq ‘alaih)

7. Tidak membaca Al-Qur’an di kuburan.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesung-guhnya setan berlari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

Hadits di atas mengisyaratkan bahwa kuburan bukanlah tempat membaca Al-Qur’an. Berbeda halnya dengan rumah. Adapun hadits-hadits tentang membaca Al-Qur’an di kuburan adalah tidak shahih.

5.  Tidak boleh memohon pertolongan dan bantuan kepada mayit, meskipun dia seorang nabi atau wali, sebab itu termasuk syirik besar.

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka se-sungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: l06) Zhalim dalam ayat di atas berarti musyrik.

Ibnu Taimiyah mengtakan,” Ziarah kubur bid’ah adalah ziarahnya orang musyrik, yaitu ziarahnya orang-orang nasrani. Mereka berziarah untuk berdoa kepada penghuninya. Serta memohonpertolongannya. Mengadukan kepentingan mereka kepadanya dan shalat disisinya.” [2]

6.  Menyembelih di kuburan para nabi atau wali

Meskipun penyembelihan yang dilakukan dikuburan para nabi atau wali dengan niat untuk Allah, tetapi ia termasuk perbuatan orang-orang musyrik. Mereka menyembelih binatang di tempat berhala dan patung-patung wali mereka. Rasulullah bersabda: “Allah melaknat orang yang menyembelih selain Allah.” (HR. Muslim)

7.  Tidak meletakkan karangan bunga atau menaburkannya di atas kuburan mayit.

Karena hal itu menyerupai perbuatan orang-orang Nasrani, serta membuang-buang harta dengan tiada guna. Seandainya saja uang yang dibelanjakan untuk membeli karangan bunga itu disedekahkan kepada orang-orang fakir miskin dengan niat untuk si mayit, niscaya akan bermanfaat untuknya dan untuk orang-orang fakir miskin yang justru sangat membutuhkan uluran bantuan tersebut.”

  1. 7. Dilarang membangun di atas kuburan atau menulis sesuatu dari Al-Qur’an atau syair di atasnya.

Kuburan-kuburan yang banyak kita saksikan di negara-negara Islam; seperti Syam, Iraq, Mesir, dan negara Islam lainnya, sungguh tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Berbagai kuburan itu dibangun sedemikian rupa, dengan biaya yang tidak sedikit. Padahal Rasulullah melarang mendirikan bangunan di atas kuburan. Dalam hadits shahih disebutkan: “Rasulullah melarang mengapur kuburan, duduk dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim) Seperti kuburan Al-Husain di Iraq, Abdul Qadir Jaelani di Baghdad, Imam Syafi’i di Mesir dan lainnya. Sebab pelarangan membangun kubah di atas kuburan adalah bersifat umum, sebagaimana kita baca dalam hadits, Rasulullah bersabda kepada Ali, “Janganlah engkau biarkan patung kecuali engkau menghancurkannya. Dan jangan (kamu melihat) kuburan ditinggikan kecuali engkau meratakannya.” (HR. Muslim)

Tetapi, Islam memberi kemurahan untuk untuk menandai kuburan dengan meletakkan sebuah batu setinggi satu jengkal dan meninggikan kuburan kira-kira sejengkal, sehingga diketahui bahwa ia adalah kuburan. Dan itu sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam ketika meletakkan sebuah batu di atas kubur Utsman bin Mazh’un, lantas beliau bersabda, “Aku memberikan tanda di atas kubur saudaraku.” (HR. Abu Daud, dengan sanad hasan).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Senantiasa syaithan membisikkan kepada para penyembah kuburan bahwa membuat bangunan di atas kubur serta beri’tikaf di atasnya adalah suatu realisasi kecintaan mereka kepada para Nabi dan orang-orang shalih, dan berdoa di sisinya adalah mustajab. Kemudian hal semacam ini meningkat kepada doa dan bersumpah kepada Allah dengan menyebut nama-nama mereka. Padahal keadaan Allah lebih agung dari hal tersebut..” [3]

8.  Mengubur para wali dan orang-orang shalih di dalam masjid

Banyak kita saksikan di negara-negara Islam, kuburan berada di dalam masjid. Terkadang di atas kuburan itu dibangun kubah, lalu orang-orang dari berbagai macam tariqat sufi datang memintanya, sebagai sesembahan selain Allah. Rasulullah melarang hal ini dengan sabdanya:

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid (atau tempat bersujud menyembah Tuhan).” (Muttafaq alaih)

Jika menguburkan para nabi di dalam masjid tidak diperintahkan, bagaimana mungkin dibolehkan mengubur para syaikh dan ulama di dalamnya? Apakah lagi telah dimaklumi, kadang-kadang orang yang dikubur tersebut dijadikan tempat berdo’a dan meminta, sebagai sesembahan selain Allah. Karena itu ia merupakan sebab timbulnya per-buatan syirik. Islam mengharamkan syirik dan mengharamkan perantara yang bisa menyebabkan kepadanya.

Sedangkan Syubhat sufi yang mengatakan bahwa kuburan nabi ada di dalam masjid maka dapat kita bantah dengan mengatakan, menurut riwayat yang terpercaya dan benar, Rasulullah adalah dikubur di rumah beliau, tidak di dalam Masjid Nabawi. Tetapi kemudian orang-orang dari Bani Umayyah memperluas masjid tersebut sebab semakin banyaknya orang-orang yang datang dari seluruh penjuru dunia untuk berhaji dan shalat di masjid Nabawi. Sedangkan kuburan nabi tetaplah terpisah dari area masjid dengan dibuat dinding pemisah.

Sekarang ini, kuburan Al-Husain berada di dalam masjid. Sebagian orang berthawaf di sekitarnya. Meminta hajat dan kebutuhan mereka kepadanya, sesuatu hal yang sesungguhnya tidak boleh diminta kecuali kepada Allah. Seperti memohon kesembuhan dari sakit, menghilangkan kesusahan dan sebagainya. Sebab agama menyuruh kita agar meminta hal-hal tersebut kepada Allah semata, serta agar kita tidak berthawaf kecuali di sekitar Ka’bah. Allah berfirman: “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (Al-Hajj: 29)

Kesimpulan dari pembahasan diatas telah dikatakan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah[4].Beliau mengatakan: “Tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan orang-orang awam dan selainnya ketika berziarah dengan berdoa kepada si mayit, beristighatsah kepadanya, dan meminta kepada Allah dengan haknya mayit adalah ucapan bathil (hujran) yang paling besar. Maka wajib bagi ulama untuk menjelaskan hukum tentang itu. Juga menjelaskan cara ziarah yang sesuai dengan syariat kepada mereka dan tujuan ziarah itu.”

FATWA ZIARAH KUBUR

1. Hukum Menyembelih Di Bangunan Kuburan Dan Berdoa Kepada Penghuninya

Tanya: :

Apakah hukum bertaqarrub (beribadah) dengan cara menyembelih sembelihan di sisi bangunan kuburan para wali yang shalih dan ucapan yang berbunyi, “Berkat hak wali-Mu yang shalih, si fulan, maka sembuhkanlah kami atau jauhkanlah kami dari kesulitan anu”?

Jawab: :

Telah diketahui bersama berdasarkan dali-dalil dari Kitabullah dan as-Sunnah bahwa bertaqarrub dengan cara menyembelih untuk selain Allah, baik untuk para wali, jin, berhala-berhala atau para makhluk lain-nya adalah perbuatan syirik kepada Allah dan termasuk perbuatan orang-orang Jahiliyyah dan musyrikin. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al-An’am: 162-163).

Yang dimaksud dengan ‘an-Nusuk’ (pada kalimat: Wa nusuki- penj.) di dalam ayat tersebut adalah ‘adz-Dzabhu’ (penyembelihan). Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah perbuatan syirik kepada-Nya sama halnya dengan shalat untuk selain Allah. Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorban-lah.” (Al-Kautsar: 1-2).

Dalam surat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kepada nabi-Nya agar melakukan shalat untuk Rabb-nya dan menyembelih untuk-Nya. Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ahli Syirik, yaitu bersujud kepada selain Allah dan menyembelih untuk selain-Nya.

Demikian pula dalam firman-firman-Nya yang lain, “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyem-bah selain Dia.” (Al-Isra’: 23). “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali. Jadi, menyembelih merupakan bentuk ibadah, karenanya wajib dilakukan dengan ikhlas, untuk Allah semata.
Di dalam shahih Muslim dari riwayat Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib Radhiallaahu anhu , dia berkata, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ.

“Allah melaknat siapa pun yang menyembelih untuk selain Allah.”( Shahih Muslim, kitab Al-Adhahi dari hadits Ali, no. 1978 )

Sedangkan ucapan seseorang, “Aku meminta kepada Allah melalui (dengan) hak para wali-Nya”, “melalui wajah para wali-Nya”, “melalui hak Nabi” atau “melalui wajah Nabi”; maka ini semua bukan kategori syirik tetapi bid’ah menurut Jumhur ulama, di samping merupakan salah satu sarana kesyirikan sebab berdoa adalah ibadah dan tata caranya bersifat tawqifiyyah. Selain itu, tidak ada hadits yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi kita yang mengindikasikan bahwa bertawassul melalui hak, atau wajah salah seorang dari makhluk adalah disyari’atkan atau dibolehkan sehingga tidak boleh bagi seorang Muslim menciptakan sendiri (meng-ada-adakan) suatu bentuk tawassul yang tidak disyari’atkan oleh Allah Ta’ala. Hal ini berdasarkan firman-Nya, “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah.” (Asy-Syura: 21).

Juga, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang berbuat baru (mengada-ada) di dalam urusan kami ini (dien ini) sesuatu yang tidak terdapat di dalamnya, maka ia tertolak.”[5]

Dan dalam riwayat Muslim yang juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam shahihnya secara mu’allaq (hadits yang dibuang satu atau lebih dari mata rantai periwayatannya lalu disandarkan langsung kepada periwayat yang berada di atas mata rantai yang dibuang tersebut-penj.) akan tetapi diungkapkan dengan lafazh yang pasti (tegas), disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan/perbuatan (dalam dien ini) yang bukan berpijak kepada perintah kami, maka ia tertolak.” [6]

Makna sabda beliau رَدٌّ ( Radd )adalah tertolak bagi pelakunya dan tidak diterima. Oleh karena itu, wajib bagi kaum Muslimin untuk mengikat diri dengan syari’at Allah dan berhati-hati dari perbuatan yang diada-adakan oleh manusia alias bid’ah.

Sedangkan tawassul yang disyari’atkan adalah dengan cara berta-wassul melalui Asma’ dan Shifat-Nya, mentauhidkan-Nya dan amal-amal shalih yang di antaranya adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai Allah dan Rasul-Nya dan amal-amal kebajikan dan kebaikan semisal itu. Dalil-dalil yang memperkuat hal itu banyak sekali, di antara-nya firman Allah Ta’ala,

“Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu.” (Al-A’raf: 180). Di antaranya pula, sebagaimana doa yang didengar oleh Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dari seseorang yang mengucapkan,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّيْ أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ اْلأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu melalui per-saksianku bahwa Engkau adalah Allah, Tiada Tuhan yang haq untuk disembah selain Engkau, Yang Maha Tunggal Dan Tempat Bergantung, Yang Tidak beranak dan tidak diperanakkan, Yang tiada bagi-Nya seorang pun yang dapat menandingi.”

Lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,

لَقَدْ سَأَلَ اللهَ بِاْسِمِهِ اْلأَعْظَمِ الَّذِيْ إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ.

“Sungguh dia telah memohon kepada Allah melalui Nama-Nya yang Maha Agung, Yang bilamana dimohonkan melaluinya, pasti Dia akan memberi dan bila Dia dimintai (dengan berdoa) mela-luinya, pasti Dia akan mengabulkan.” [7]

Di antara dalilnya yang lain adalah hadits tentang tiga orang yang terkurung di dalam gua lantas mereka bertawassul kepada Allah Ta’ala melalui amal-amal shalih mereka; orang pertama bertawassul kepada Allah melalui perbuatan birrul walidain (baktinya terhadap kedua orang tuanya). Orang kedua bertawassul kepada Allah melalui kesucian dirinya dari melakukan zina padahal sudah di depan matanya. Orang ketiga bertawassul kepada Allah melalui tindakannya mengembangkan (meng-investasikan) upah buruhnya (yang minggat), kemudian dia menyerahkan semua hasil investasi itu kepadanya (setelah dia datang lagi). Berkat perbuatan-perbuatan di atas, Allah menghindarkan mereka dari kesulitan tersebut, menerima doa mereka serta menjadikan batu besar yang menyum-bat mulut goa tersebut bergeser dan terbuka. Hadits tersebut disepakati keshahihannya (oleh Imam Bukhari dan Muslim-penj.). Wallahu waliyy at-Taufiq. [8]

2. Hukum Mengadakan Ritual Di Kuburan Dengan Berkeliling Dan Memohon Kepada Para Penghuninya

Tanya :

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya tentang hukum orang yang kebiasa-annya mengadakan ritual di kuburan dengan berkeliling di sekitarnya, memohon kepada para penghuninya, bernadzar untuk mereka dan (mengadakan) berbagai ritual lainnya.

Jawab :

Ini pertanyaan yang amat serius dan jawabannya butuh pemaparan panjanglebar, atas pertongan Allah Ta’ala- kami katakan, sesungguhnya para penghuni kubur tersebut terbagi kepada dua klasifikasi:

Pertama, mereka yang meninggal dunia dalam kondisi Muslim dan manusia telah memuji mereka secara baik; orang yang dalam klasifikasi ini kita harapkan mendapat kebaikan, namun begitu, mereka amat membutuhkan doa dari saudara-saudara mereka, kaum Muslimin, agar mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah. Ini masuk kategori firman Allah, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ’Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang’.” (Al-Hasyr: 10).

Dia sendiri tidak dapat memberikan manfa’at kepada siapa pun karena kondisinya sebagai mayyit, jasad tak bernyawa yang tidak bisa membentengi dirinya dari marabahaya apalagi terhadap selainnya. Dia juga tidak dapat mendatangkan manfa’at buat dirinya apalagi buat orang lain selain dirinya, karenanya dia amat membutuhkan manfa’at (jasa) yang diupayakan oleh saudara-saudaranya sementara dia tidak dapat memberikan manfa’at kepada mereka.

Kedua, Orang-orang yang karena ulah perbuatan-perbuatan mereka sendiri, menyeret mereka kepada kefasikan yang mengeluarkan dari dien ini, seperti mereka yang mengaku-aku sebagai para wali, mengetahui hal yang ghaib, dapat menyembuhkan penyakit serta dapat mendatangkan kebaikan dan manfa’at melalui sebab-sebab yang tidak diketahui secara fisik dan syara’. Mereka itulah orang-orang yang telah meninggal dunia dalam kekafiran, tidak boleh berdoa untuk mereka, juga tidak boleh memohonkan rahmat buat mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah,

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (At-Taubah: 113-114).

Mereka itu tidak dapat memberikan manfa’at dan tidak pula menimpakan mudharat/marabahaya kepada siapa pun. Jadi, tidak boleh bagi siapa pun untuk menggantungkan diri kepada mereka. Bila ternyata ditakdirkan bahwa ada salah seorang yang menyaksikan kekeramatan mereka, seperti terlihat baginya seolah di kuburannya memancar cahaya, atau keluar bau semerbak dari kuburannya dan lain sebagainya, semen-tara mereka itu dikenal sebagai orang yang mati dalam kekafiran, maka hal ini semata adalah tipu daya iblis dan akal-bulusnya untuk membuat mereka terkesan dengan para penghuni kuburan itu.

Saya ingin mengingatkan kaum Muslimin, dari ketergantungan hati kepada siapa pun selain Allah Ta’ala sebab di Tangan-Nyalah kekuasaan lelangit dan bumi dan kepada-Nyalah jua semua urusan akan kembali, tidak ada yang dapat mengabulkan permohonan orang yang berhajat selain Allah dan tidak ada yang dapat menyingkap kejahatan selain Allah. Dia berfirman, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allahlah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53).

Nasehat saya untuk mereka juga agar tidak hanya mentaklid (meng-ikuti tanpa dasar ilmu) dalam urusan dien mereka dan hendaknya mereka tidak mengikuti siapa pun selain Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebagaimana firman Allah,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu”.” (Ali ‘Imran: 31).

Seluruh kaum Muslimin wajib menimbang perbuatan orang yang mengklaim sebagai wali tersebut dengan timbangan Kitabullah dan as-Sunnah; jika sesuai dengan keduanya, maka semoga saja dia termasuk salah seorang dari para wali Allah, dan jika dia menyelisihi Kitabullah dan as-Sunnah, maka dia bukanlah wali Allah sebab Allah sendiri berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawa-tiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (Yunus: 62-63).

Siapa saja yang beriman dan bertaqwa, maka dialah wali Allah dan siapa saja yang bukan demikian, dia bukanlah wali-Nya. Siapa saja yang ada padanya sebagian iman dan taqwa, maka padanya sesuatu dari kewalian itu, meskipun demikian, kita tidak dapat memastikan adanya sesuatu itu pada sosok tertentu akan tetapi kita akan mengatakannya secara general bahwa setiap orang yang beriman dan bertaqwa, maka dialah wali Allah.

Ketahuilah, bahwa Allah bisa saja menguji seseorang dengan salah satu dari hal-hal ini; bisa jadi seseorang menggantungkan hatinya kepada sebuah kuburan lalu memohon kepada penghuninya atau mengambil sesuatu dari tanahnya untuk mencari berkah lantas terkabul keinginannya. Itu adalah cobaan dari Allah terhadap orang ini sebab kita mengetahui bahwa kuburan tersebut tidak dapat mengabulkan permohonan, demikian pula tanah itu tidak dapat dijadikan sebagai penyebab hilangnya suatu marabahaya atau didapatnya suatu manfa’at. Kita mengetahui hal ini berdasarkan firman-firman Allah Ta’ala, “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memper-kenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (Al-Ahqaf: 5-6).

“Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembah-penyem-bahnya akan dibangkitkan.” (An-Nahl: 20-21).

Dan ayat-ayat yang semakna dengan itu banyak sekali yang menunjukkan bahwa setiap orang yang memohon kepada selain Allah, maka ia tidak akan dapat mengabulkan permohonan tersebut dan tidak akan bermanfa’at bagi si pemohonnya, akan tetapi bisa saja apa yang diinginkannya dalam permohonannya tersebut terkabul ketika dia memohon (berdoa) kepada selain Allah sebagai fitnah dan ujian dari-Nya.

Kami tegaskan, jika sesuatu yang diinginkan itu terkabul ketika berdoa tersebut, yakni doa yang dimohonkan kepada selain Allah, bukan lantaran doanya itu sendiri (hal itu terkabul -penj.)- Dalam hal ini adalah berbeda antara pengertian sesuatu terjadi dengan (karena) sesuatu dan sesuatu terjadi di sisi sesuatu secara kebetulan (ketika melakukan sesuatu itu)-, maka kita mengetahui secara yakin berdasarkan ayat-ayat yang banyak sekali yang disebutkan oleh Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya bahwa permohonan kepada selain Allah bukanlah faktor yang menye-babkan didapatinya suatu manfa’at atau tertolaknya suatu mudharat (marabahaya) akan tetapi bisa saja sesuatu terjadi ketika bermohon (melakukan doa) sebagai bentuk fitnah dan ujian. Sebab, Allah terkadang menguji seseorang melalui faktor-faktor yang dapat menyebabkannya melakukan perbuatan maksiat agar Dia mengetahui siapa orang yang menjadi hamba-Nya dan siapa pula yang menjadi hamba (budak) nafsunya.

Sebagai contoh, bukankah kita mengetahui perihal orang-orang yahudi yang melanggar ketentuan Allah pada hari Sabtu (Ashhab as-Sabt) di mana Allah telah mengharamkan bagi mereka berburu ikan pada hari tersebut, lalu Allah Ta’ala menguji mereka dengan menjadikan keberadaan ikan-ikan tersebut banyak sekali pada hari Sabtu tersebut sedangkan pada hari lainnya malah tidak muncul dan kondisi seperti ini berlangsung lama sehingga mereka berkata, “Kenapa kita mesti melarang diri kita dari berburu ikan-ikan ini?” Kemudian mereka berfikir, menaksir-naksir, merenung lalu memutuskan sembari berkata, “Kalau begitu, kita buat saja jaring ikan dan kita pasang pada hari Jum’at lalu pada hari Ahad kita akan mengambil ikan-ikan tersebut.” Mereka berani nekad melakukan hal itu, tidak lain sebagai akal bulus mereka untuk melanggar larangan-larangan Allah.

Karenanya, Allah menjadikan mereka kera-kera yang hina, sebagaimana firman-Nya, “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (Al-A’raf: 163)

Dan firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah Kami ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina”. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 65-66).

Mari kita renungkan, bagaimana Allah demikian memudahkan bagi mereka berburu ikan-ikan tersebut pada hari yang justeru mereka dilarang melakukannya akan tetapi mereka -wal ‘iyadzu billah- tidak mau bersabar, lantas menyiasatinya dengan akal bulus tersebut terhadap larangan-larangan Allah.

Dalam pada itu, mari kita renungkan pula ujian yang Allah berikan kepada para shahabat Nabi Shalallaahu alaihi wasalam saat mereka dilarang berburu dalam kondisi sedang berihram padahal buruan-buruan tersebut dengan mudahnya dapat mereka tangkap akan tetapi mereka semua tidak berani melakukan sedikit pun dari larangan itu. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barangsiapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya adzab yang pedih.” (Al-Maidah: 94).

Buruan-buruan itu dengan mudah dapat mereka tangkap; buruan biasa dapat mereka tangkap dengan tangan sedangkan buruan yang berupa burung, dapat mereka bunuh dengan tombak. Ini semua gampang sekali bagi mereka akan tetapi mereka lebih takut kepada Allah Ta’ala sehingga tidak berani menangkap satupun dari buruan-buruan tersebut.

Demikian seharusnya seseorang wajib bertakwa kepada Allah Ta’ala manakala faktor yang menyebabkan dilakukannya perbuatan yang diharamkan telah ada di depan mata, dan tidak malah nekad melakukan-nya. Dia wajib mengetahui bahwa faktor-faktor penyebabnya tersebut dipermudahkannya baginya adalah merupakan cobaan dan ujian, karenanya dia harus mengekang dirinya dan bersabar sebab pastilah hasil akhir yang baik akan diraih oleh orang yang bertakwa. [9]

Sikap Keras Rasulullah Terhadap Orang Yang Beribadah Kepada Allah Di Sisi Kuburan Orang Shaleh; Maka, Bagaimana Jika Orang Shaleh Itu Disembah

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab


Diriwayatkan dalam Shahih (Al-Bukhari dan Muslim) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang gereja dengan rupaka-rupaka yang ada di dalamnya yang dilihatnya di negeri Habasyah (Ethiopia). Maka bersabdalah beliau:

“Mereka itu, apabila ada orang yang shaleh –atau seorang hamba yang shaleh– meninggal, mereka bangun di atas kuburannya sebuah tempat ibadah dan membuat di dalam tempat itu rupaka-rupaka. Mereka itulah sejelek-jeleknya makhluk di hadapan Allah.”

Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk, karena melakukan dua fitnah sekaligus, yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah di atasnya dan fitnah membuat rupaka-rupaka.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak diambil nyawanya, beliau pun segera menutupkan kain di atas mukanya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan panas. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah, beliau bersabda:

“Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

Beliau memperingatkan agar dijauhi perbuatan mereka, dan seandainya bukan karena hal itu niscaya kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.

Muslim meriwayatkan dari Jundab bin ‘Abdullah, katanya: “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lima hari sebelum wafatnya bersabda:

“Sungguh, aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil (kekasih mulia) dari antara kamu, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil; seandainya aku menjadikan seorang khalil dari antara umatku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalil. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan itu.”

Rasulullah menjelang akhir hayatnya –sebagaimana dalam hadits Jundab– telah melarang umatnya untuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian, tatkala dalam keadaan hendak diambil nyawanya –sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah– beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu. Shalat di sekitar kuburan termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah; dan inilah maksud dari kata-kata ‘Aisyah: “… dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah”, karena para sahabat belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, padahal setiap tempat yang dimaksudkan untuk melakukan shalat di sana itu berarti sudah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk shalat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad jayyid, dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

“Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia ialah orang-orang yang masih hidup ketika terjadi kiamat dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.” (Hadits ini diriwayatkan pula dalam Shahih Abu Hatim).

Kandungan tulisan ini:

  1. Dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang yang membangun tempat untuk beribadah kepada Allah di sisi kuburan orang shaleh (termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah), sekalipun baik niatnya.
  2. Dilarang dan diperingatkan dengan keras adanya rupaka-rupaka di dalam tempat ibadah.
  3. Mengambil pelajaran dari upaya maksimal yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini. Bagaimana beliau menjelaskan terlebih dahulu kepada para sahabat bahwa orang yang membangun tempat ibadah di sekitar kuburan orang shaleh termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah; kemudian, lima hari sebelum wafat, beliau mengeluarkan pernyataan yang melarang umatnya menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat ibadah; terakhir, beberapa saat menjelang wafatnya, beliau masih merasa belum cukup dengan tindakan-tindakan yang telah diambilnya, sehingga beliau melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan ini.
  4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang pula perbuatan tersebut dilakukan di sisi kuburan beliau, sebelum kuburan itu sendiri ada.
  5. Menjadikan kuburan nabi-nabi sebagai tempat ibadah merupakan tradisi orang-orang Yahudi dan Nasrani.
  6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat mereka karena perbuatan mereka ini.
  7. Beliau melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan perbuatan mereka itu dimaksudkan untuk memperingatkan kita agar menghindari perbuatan semacam ini terhadap kuburan beliau.
  8. Alasan tidak ditampakkannya kuburan beliau, karena dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.
  9. Pengertian “menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah”, (ialah melakukan suatu ibadah, seperti: shalat di sisi kuburan, sekalipun tidak dibangun di atasnya sebuah tempat ibadah).
  10. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghubungkan antara orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dengan orang yang masih hidup ketika terjadi hari kiamat adalah untuk memperingatkan bentuk perbuatan yang merupakan jalan menuju syirik sebelum terjadi; disamping bahwa syirik adalah akhir keadaan di dunia.
  11. Khutbah yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu lima hari sebelum wafat, mengandung bantahan terhadap kedua kelompok yang mereka itu adalah ahli bid’ah yang paling jelek, bahkan sebagian kalangan ulama menyatakan bahwa mereka diluar tujuh puluh dua golongan dalam umat Islam, yaitu Rafidhah dan Jahmiyah. Dan karena Rafidhah-lah terjadi kemusyrikan dan penyembahan kuburan, serta merekalah yang pertama kali membangun masjid di atas kuburan.

Rafidhah adalah salah satu sekte dalam aliran Syi’ah. Mereka bersikap yang berlebih-lebihan terhadap Ali dan Ahlul Bait, dan mereka menyatakan permusuhan terhadap sebagian besar sahabat khususnya Abu Bakar dan ‘Umar.

Jahmiyah adalah aliran yang timbul pada akhir khilafah Bani Umayyah. Disebut demikian karena dinisbatkan pada nama tokoh mereka yaitu Jahm bin Shafwan At-Tirmidzi yang terbunuh pada th. 128 H. Diantara pendapat aliran ini: menolak kebenaran adanya asma’ dan sifat bagi Allah, karena menurut anggapan mereka asma’ dan sifat adalah ciri khas makhluk, maka apabila diakui dan ditetapkan untuk Allah berarti menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (adalah manusia biasa), merasakan beratnya sakratul maut.
  2. Beliau dimuliakan Allah dengan diangkat sebagai “khalil” (sebagaimana Nabi Ibrahim).
  3. Dinyatakan bahwa khalil lebih tinggi tingkatannya dari pada habib (kekasih).
  4. Dinyatakan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah sahabat yang paling mulia.
  5. Hal tersebut merupakan isyarat bahwa Abu Bakar akan menjadi khalifah (sesudah beliau).
Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Sikap Berlebihan Terhadap Kuburan Orang-orang Shaleh, Akan Menjadikannya Sebagai Berhala Yang Disembah Selain Allah

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab


Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dengan sanadnya dari Sufyan, dari Manshur, bahwa berkenaan dengan ayat:

“Terangkanlah kepadaku (kaum musyrikin) tentang (berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah): Al-Lat, dan Al-Uzza; …” (An-Najm: 19)

Mujahid mengatakan: “Al-Lat adalah orang yang dahulunya mengadukkan tepung (dengan air atau minyak) untuk para jemaah haji. Setelah meninggal, merekapun senantiasa mendatangi kuburannya.”

Demikian pula tafsiran Ibnu ‘Abbas sebagaimana dituturkan oleh Abul Jauza’: “Dia itu pada mulanya adalah orang yang mengadukkan tepung untuk para jemaah haji.”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat kaum wanita yang menziarahi kuburan serta orang-orang yang membuat tempat ibadah dan memberi penerangan lampu di atas kuburan.” (HR para penulis Kitab Sunan)

Kandungan tulisan ini:

  1. Tafsiran berhala. Berhala ialah sesuatu yang diagungkan selain Allah, seperti kuburan, batu, pohon dan sejenisnya.
  2. Tafsiran tentang ibadah. Mengagungkan kuburan dengan dijadikan sebagai tempat melakukan ibadah, adalah termasuk pengertian ibadah yang dilarang oleh Rasulullah.
  3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan do’anya itu, tiada lain hanyalah memohon kepada Allah supaya dihindarkan dari sesuatu yang dikhawatirkan terjadi (pada umatnya sebagaimana yang telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, yaitu: sikap berlebihan terhadap kuburan beliau yang akhirnya kuburan beliau akan menjadi berhala yang disembah).
  4. Dalam do’anya itu, beliau sebutkan pula perbuatan menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah.
  5. Bahwa Allah sangat murka (terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah).
  6. Diantara masalah yang sangat penting untuk dijelaskan dalam bab ini ialah pengetahuan historis tentang penyembahan Al-Lat, berhala terbesar orang-orang Jahiliyah.
  7. Berhala ini asal-usulnya kuburan orang yang shaleh (yang diperlakukan secara berlebihan dengan senantiasa dikunjungi oleh mereka).
  8. Al-Lat adalah nama orang yang dikuburkan itu, yang pada mulanya seorang pengaduk tepung untuk para jemaah haji.
  9. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita penziarah kubur.
  10. Beliau juga melaknat orang-orang yang memberi penerangan lampu di atas kuburan.
Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Tindakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Untuk Melindungi Tauhid dan Menutup Setiap Jalan Menuju Syirik

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab


Firman Allah Ta’ala (artinya):

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang mukmin.” (Bara’ah/At-Taubah: 128)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kuburan, dan janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, tetapi ucapkanlah shalawat untukku karena sesungguhnya ucapan shalawat sampai kepadaku dimanapun kamu berada.” (HR Abu Dawud dengan isnad hasan, dan para periwayatnya isqat)

Dalam hadits lain, Ali bin Al-Husein Radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa ia melihat seseorang datang ke salah satu celah pada kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk ke dalamnya dan berdoa. Maka ia pun melarang orang itu dan berkata: “Maukah kamu aku beritahu sebuah hadits yang aku dengar dari bapakku, dari kakekku, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau telah bersabda:

“Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan dan janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu sebagai kuburan, (tetapi ucapkanlah doa salam kepadaku) karena sesungguhnya doa salammu sampai kepadaku dimanapun kamu berada.” (Diriwayatkan dalam kitab Al-Mukhtarah)

Kandungan tulisan ini:

  1. Tafsiran ayat dalam surah Bara’ah (At-Taubah). Ayat ini, dengan sifat-sifat yang disebutkan didalamnya untuk pribadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menunjukkan bahwa beliau telah memperingatkan umatnya agar menjauhi syirik, yang merupakan dosa paling besar, karena inilah tujuan utama diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dan menjauhkan mereka sejauh-jauhnya dari syririk, serta beliau telah menutup setiap jalan yang menjurus kepada syirik.
  3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kita dan amat belas kasihan lagi penyayang.
  4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menziarahi kuburannya dengan cara tertentu, (yaitu dengan menjadikannya sebagai tempat perayaan), padahal ziarah ke kuburan beliau termasuk amalan yang amat baik.
  5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk memperbanyak ziarah kubur.
  6. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk melakukan shalat sunat di rumah.
  7. Telah menjadi ketetapan di kalangan kaum Salaf bahwa menyampaikan shalawat untuk nabi tidak perlu masuk di dalam kuburannya.
  8. Alasannya bahwa ucapan shalawat dan salam dari seseorang untuk beliau akan sampai kepada beliau, dimanapun ia berada. Maka tidak perlu harus mendekat sebagaimana diduga oleh orang yang menghendaki demikian.
  9. Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di alam Barzakh, ditunjukkan kepada beliau amal umatnya yang berupa shalawat dan salam untuknya.
Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

[1] (Ahkamul Janaiz halaman 227)

[2] Majmu’ Fatawa 24/327

[3] (Lihat Fathul Majid bab Ma Ja’a Anna Sababa Kufri Bani Adama wa Tarkihim Dienahum Huwal Ghuluw fis Shalihin)

[4] (dalam Ahkamul Janaiz halaman 227)

[5] Muttafaq ‘Alaih; Shahih Al-Bukhari, kitab Ash-Shulhu, no. 2697; Shahih Muslim, kitab Al-Aqdhiyah, no. 1718

[6] Diriwayatkan secara mu’allaq oleh Imam Al-Bukhari, kitab Al-Buyu’, bab An-Najasy dan dalam kitab Al-I’tisham, bab Idza ijtahada Al-‘Amil. Riwayat ini diriwayatkan secara maushul (bersambung) di dalam shahih Muslim, kitab Al-Aqdhiyah, no. 1718

[7] Dikeluarkan oleh para pengarang empat kitab Sunan: Abu Daud, kitab Ash-Shalah, no. 1493; At-Turmudzi, kitab Ad-Da’awat, no. 3475; An-Nasa’i, As-Sunan Al-Kubra, no. 7666; Ibnu Majah, kitab Ad-Du’a, no. 2857. Dan Ibnu Hibban, bab Ihsan, no. 891, disha-hihkan oleh beliau sendiri.

[8] Kumpulan Fatwa dan Beragam Artikel Syaikh Ibnu Baz, Juz V, hal. 324-326.

[9] Kumpulan Fatwa dan Risalah Syaikh Ibnu Utsaimin, Juz II, hal. 227-231.

2 Tanggapan

  1. dasar orang bodoh ,,g faham tapi banyak bicara , gampangnya lidahmu menyesatkan orang lain apalagi kiyai lutfi itu orang yang shalih,, orang yang menyesatka oerng lain maka tanpa sadar dia lah yang sesat ,, semoga Alloh memberimu hidayah,, satu pesanku Jaga lah akhlaq mu,, dan didiklah lisan mu

  2. Lho? kok bisa menyimpulkan begini?

    7. Tidak membaca Al-Qur’an di kuburan.
    Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesung-guhnya setan berlari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)
    Hadits di atas mengisyaratkan bahwa kuburan bukanlah tempat membaca Al-Qur’an. Berbeda halnya dengan rumah. Adapun hadits-hadits tentang membaca Al-Qur’an di kuburan adalah tidak shahih.

    NB: bukankah maksudnya “Janganlah menjadikan rumah kalian kuburan” itu maknanya krn kuburan itu sepi? justru agar banyak2 membaca Qur’an? hal diatas bkn menyangkut org baca Qur’an di kuburan, lagipula pendapat bahwa krn para wali itu mati maka dianggap tdk berfaedah, lantas gimana? kalo hidup berfaedah? istighfar mas, mereka mau hidup ataupun mati semua jg faham yg diminta/dimaksud itu tetaplah Allah, sdg para wali itu hanyalah perantara sebagai orang tua yg dimintai do’a restu lagipula sapa bilang para wali itu mati seutuhnya “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170), misal kalo ada anak cari kerja
    lantas datang ke orangtuanya mohon do’a restu apakah berarti si anak minta kepada orangtuanya? bkn kan? yg ada cm diharapkan ridho Allah tercurahkan kpd si anak lantaran bakti & sopan santun kpd si orangtuanya, ttp aja yg dimaksud Allah.

    Makna ayat diatas pun luas, sapa bilang y dibilang mati syahid itu cuma pejuang tok, tp org2 yg memberi manfaat terhadap sesama dgn ilmu dan amal krn semata2 Allah jg Insya Allah termasuk syahid pabila kelak meninggal dlm keadaan demikian.

    Namun kt sebagai hamba Allah patut menjaga adab tatkala berdziarah ke makam para wali-NYA, pabila dkt situ ada Musholla bahkan Masjid layaknya rumah Allah dahulu yg didatangi, sholatlah, dzikirlah, ngajilah, bahkan mohonlah hajat kepada-NYA, sebagai tanda bakti kita & syukur kt kpd Allah, barulah kemudian menyambangi ke makam para wali-NYA, Insya Allah do’a restu beliau {wali Allah} turun krn rahmat Allah kpd saat hamba yg tau adab kpd-NYA, jgn sampe terbalik yg ada ke makam wali-NYA duluan ke rumah-NYA belakangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: