KISAH KHURAFAT KYAI M. LUTHFI GHOZALI


1.  Siapakah yang Tiap hari Thawaf di Makkah al-Mukarromah?

Penulis mengatakan (pada halaman 234) dalam bukunya :

Ketika doa-doa yang ikhlas itu mendapatkan ijabah dari-Nya, maka jadilah ijabah itu sebagai sebab membukanya pintu rahmat-Nya kepada umat. Dari sebab linangan air mata yang meleleh di pipinya karena menangisi kesedihan umat, kadang-kadang menjadikan sebab Allah ta’ala menurunkan air hujan di daerah yang ditangisinya. Konon, apabila di Baitullah Makkah al-Mukarromah, selama tujuh hari saja mereka absen tidak melakukan thawaf di sana, berarti hari kiamat segera akan datang.

Bantahan dari kami : Wahai Kyai M. Luthfi Ghozali, siapakah mereka yang punya kekuatan luar biasa yang kerjanya tiap hari thawaf di Baitullah Makkah al-Mukarromah? Apakah yang anda maksud adalah para Wali Quthub? Ketahuilah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Fatawa, telah menjelaskan: Manakala banyak nama yang disebut oleh ahli ibadat sufi dan orang awam seperti Ghawth di Makkah, Awtad ada empat, Qutb ada tujuh, Abdal ada 40, Nujaba’ ada 300, semuanya tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an dan hadits Nabi. Apalagi adanya kepercayaan para Wali Qutub itu turut mengatur alam semesta.[1]

Lalu apa dalil syar’i anda mengatakan ciri-ciri pertanda kiamat adalah ketika mereka tujuh hari absen tidak thawaf ? Demi Allah, tidak ada satu pun hadits Nabi saw baik hadits Shahih bahkan da’if sekalipun yang menceritakan ciri-ciri kiamat adalah ketika ada” orang-orang khusus” yang absen dari tugasnya  setiap hari muterin Baitullah.

Selain  itu anda mengatakan “KONON” maksudnya apa??? Persamaan kata “konon[2] adalah  “gerangan, agaknya, barangkali”. Jadi yang anda sebutkan “konon” sesungguhnya adalah bentuk lain dari kata “RAGU-RAGU” yang sama sekali tidak bisa dijadikan sandaran kebenaran sebab tidak mempunyai data valid dan ilmiah!! Maka KAMI TOLAK CERITA “KONON” ANDA, sebab tidak ilmiah.

Kami sangat menyayangkan cerita peng “kononan” yang telah anda tulis. Karena anda telah menyebarkan cerita khurafat sebab anda sendiri masih ragu-ragu dengan statement anda!!

2. Kehidupan dan Batin Manusia Dikurung Jin Dalam Gua di Dasar Lautan atau di Penjara di Tempat Terpencil di Alam Jin dalam Keadaan Tidur dan di Jaga Dengan Ketat.

Penulis mengatakan (halaman 60-61) dalam bukunya :

Konon katanya, kehidupan manusia yang sedang dikuasai jin itu sedang di penjara di suatu tempat yang sangat terpencil yang ada pada dimensi jin, bahkan di dalam gua yang ada di dasar lautan yang sangat dalam. Kalau sudah demikian, mestinya kehidupan manusia itu sulit untuk dikembalikan ke jasadnya. Artinya, jasad dan seluruh sarana kehidupan manusia itu akan ditempati oleh jin untuk menjalankan kehidupan bersama dengan manusia selamanya.

Lalu dilanjutkan (pada halaman 63-64) :

Singkat kata bahwa jin mampu menguasai manusia secara sempurna sehingga orang lain tidak mengerti bahwa yang mengisi kehidupan jasad lahir manusia itu sesungguhnya adalah jin yang sedang menyamar. Sedangkan kehidupan batin manusia tersebut sedang dipenjara di suatu tempat yang terpencil yang berada pada dimensi jin dalam keadaan tidur dan dijaga dengan ketat. Kita mohon perlindungan kepada Allah ta’ala dari gangguan setan jin yang terkutuk.

Tanggapan kami :

Please dong ah!! Lagi-lagi Kyai M. Luthfi “bermimpi” mengatakan “konon katanya” yang sama sekali tidak valid dan tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Mengapa Kyai M. Luthfi Ghozali tidak gentle mengatakan “sesungguhnya” atau “saya bisa memastikan” atau “saya yakin” atau anda bisa langsung tunjuk hidung “Si Fulan mengatakan “ bahwa kehidupan manusia yang sedang dikuasai jin itu sedang di penjara di suatu tempat yang sangat terpencil yang ada pada dimensi jin, bahkan di dalam gua yang ada di dasar lautan yang sangat dalam……..Kehidupan batin manusia tersebut sedang dipenjara di suatu tempat yang terpencil yang berada pada dimensi jin dalam keadaan tidur dan dijaga dengan ketat.” Semestinya anda harus yakin dulu dengan apa yang akan anda tulis agar kami bisa dengan yakin juga akan membuat tanggapan atau bantahan secara ilmiah.

Pak Kyai apa masih ragu dengan statement anda sendiri? Ketika anda masih ragu-ragu mengapa anda berani memberikan statement yang tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah??

Maaf, kami sama sekali tidak berkenan membuat bantahan atas kisah khurafat yang ditulis Kyai M. Luthfi Ghozali, sebab kisahnya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan Kyai Luthfi sendiri masih ragu dengan apa yang dikatakannya.


[1] Dalam kitab Al-Mafakhirul Aliyah fi al-Ma’atsir asy-Syadzilyah disebutkan ketika membahas soal Wali Quthub. Syekh Syamsuddin bin Katilah menceritakan: “Saya sedang duduk di hadapan guruku, lalu terlintas untuk menanyakan tentang Wali Quthub. “Apa makna Quthub itu wahai tuanku?” Lalu beliau menjawab, “Quthub itu banyak. Setiap muqaddam atau pemuka sufi bisa disebut sebagai Quthub-nya.

Sedangkan al-Quthubul Ghauts al-Fard al-Jami’ itu hanya satu. Artinya bahwa Wali Nuqaba’ itu jumlahnya 300. Di antara 300 Wali ini ada imam dan pemukanya, dan ia disebut sebagai Quthub-nya.

Sedangkan Wali Nujaba’ jumlahnya 40 Wali. Ada yang mengatakan 70 Wali. Tugas mereka adalah memikul beban-beban kesulitan manusia.

Adapun Wali Abdal berjumlah 7 orang. Mereka disebut sebagai kalangan paripurna, istiqamah dan memelihara keseimbangan kehambaan.

Ragam lain dari para Wali ada yang disebut dengan Dua Imam (Imamani), yaitu dua pribadi, salah satu ada di sisi kanan Quthub dan sisi lain ada di sisi kirinya. Yang ada di sisi kanan senantiasa memandang alam Malakut (alam batin) — dan derajatnya lebih luhur ketimbang kawannya yang di sisi kiri –, sedangkan yang di sisi kiri senantiasa memandang ke alam jagad semesta (malak). Sosok di kanan Quthub adalah Badal dari Quthub.

Wali lain disebut dengan al-Ghauts, yaitu seorang tokoh agung dan tuan mulia, di mana seluruh ummat manusia sangat membutuhkan pertolongannya, terutama untuk menjelaskan rahasia hakikat-hakikat Ilahiyah. Mereka juga memohon doa kepada al-Ghauts, sebab al-Ghauts sangat diijabahi doanya. Jika ia bersumpah langsung terjadi sumpahnya, seperti Uwais al-Qarni di zaman Rasul SAW. Dan seorang Qutub tidak bisa disebut Quthub manakala tidak memiliki sifat dan predikat integral dari para Wali.

Al-Umana’, juga ragam Wali adalah kalangan Malamatiyah, yaitu mereka yang menyembunyikan dunia batinnya, dan tidak tampak sama sekali di dunia lahiriyahnya. Biasanya kaum Umana’ memiliki pengikut Ahlul Futuwwah, yaitu mereka yang sangat peduli pada kemanusiaan.
Al-Afraad, yaitu Wali yang sangat spesial, di luar pandangan dunia Quthub. Sebuah ilustrasi yang digambarkan pada Syeikhul Quthub Abul Hasan Asy-Syadzily

[2] Lihat Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun oleh W.J.S Poerwadarminta terbitan PN. Balai Pustaka Jakarta 1976. Halaman 519

5 Tanggapan

  1. “Bantahan dari kami : Wahai Kyai M. Luthfi Ghozali… ” ckckck sombong bener … sesama muslim kok begitu ..

  2. Hehe… Lihat blog ini kok lucu…
    Pemilik blog ini bukanlah muslim… Kalau muslim tak akan seperti ini…

    Wahabi…

  3. Ada seorang sufi di Makkah, beliau setiap malam berthawaf sebanyak 40 kali… Dan ini benar adanya…

    Jalani saja jalanmu wahai Abu abu… terimalah hargamu sendiri…

  4. hitam berlagak putih…itulah abu abu…

  5. wah iya nih kayaknya…Padahal di tulisan sebelumnya udah tak tulis…Jangan pernah mendiskreditkan orang…..Koreksilah perbuatannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: