MEMPERBOLEHKAN BERTAWWASUL UNTUK PARA NABI, RASUL ATAU ORANG-ORANG SHALEH (YANG TELAH MENINGGAL)


Penulis mengatakan (pada halaman 30-31):

……….Lebih tegas lagi Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya :

“Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atau orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin (beryatawalla) dan orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” (QS : 16/100)

Penegasan Allah Ta’ala itu artinya : bahwa setan jin dapat memperdayakan sekelompok orang yang telah mengambil setan jin sebagai wasilah atau jalan untuk mendekat (ber-yatawalla) dan orang-orang yang telah berbuat syirik saja sehingga kesadaran mereka dapat dikuasai walau hanya sebentar.

Firman Allah Ta’ala  “Yatawalla”artinya mengambil orang lain sebagai walinya atau berwasilah kepadanya. Apabila dipraktekkan dalam pelaksanaan amal ibadah, maka yang dimaksud dengan ber-yatawalla itu ialah bertawassul atau melaksanakan tawassul orang-orang yang ber-thariqah harus bertawassul kepada Rasulullah saw melalui guru-guru mursyidnya, supaya terjadi hubungan. Dalam istilah lain melaksanakan interaksi ruhaniyah, yaitu menghadirkan gurunya secara ruhaniyah di saat melaksanakan ibadah untuk diajak bersama-sama menghadapkan wijhah atau ber-tawajjuh kepada Allah ta’ala. Hal tersebut dilakukan supaya ibadah yang dilaksanakan lebih terfasilitasi kekhusyu’annya dan terbukanya pintu ijabah Allah Ta’ala.

….. Pelaksanaan ini kurang banyak dimengerti dan dipahami oleh banyak kalangan, terlebih bagi orang yang mendalami amal agamanya hanya secara syari’at saja. Hanya orang-orang yang ber-thariqah saja yang selalu mendapatkan bimbingan dan tarbiyah langsung dari guru-guru mursyidnya. Mereka busa merasakan dan mengetahui rahasia keadaan itu, apabila bagi mereka yang benar-benar telah mendalami hakikat ber-thariqah.

Kesimpulan Dari Keyakinan Saudara Kiyai Luthfi

  1. Bolehnya bertawassul dengan para nabi dan orang-orang shaleh.
  2. Bolehnya dalam beribadah kita menghadirkan (membayangkan / merasakan) guru secara ruhaniyah (ghaib) agar dapat memfasilitasi terbukanya Ijabah Allah Ta’ala.

HAKIKAT BERTAWWASUL

Kiai Luthfi mengatakan bolehnya kita untuk ber-tawwasul pada para Nabi dan rasul juga kepada Wali Allah yang telah meninggal dan dalam beribadah kita harus menghadirkan (membayangkan / merasakan) guru secara ruhaniyah (ghaib) agar dapat memfasilitasi terbukanya ijabah Allah Ta’ala.

Maka untuk meluruskan pemahaman Kiai Muhammad Luthfi Ghozali yang sesat, maka akan kami jelaskan kesesatan-kesesatan dalam bertawwasul yang sama sekali tidak dituntunkan Rasulullah dan juga akan kami jelaskan tawwasul yang di syari’atkan sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Qur’an, diteladankan oleh Rasulullah dan dipraktekkan oleh para sahabat.

1.  Tawwasul Sesat.

v           Tawassul dengan orang-orang mati, meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka,

Sebagaimana telah kita lihat dari penjelasan Kiai Luthfi, dia memperbolehkan meminta pertolongan, petunjuk, kepada orang-orang yang telah meninggal yang dianggap mempunyai keutamaan atau kesucian (para Nabi, Rasul dan Wali-wali Allah) namun “melarang” ber-yatawalla berpada makhluk-makhluk sebangsa jin atau setan. Sebagaimana telah dia katakan : Lebih tegas lagi Allah Ta’ala menyatakan dengan firman-Nya : “Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atau orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin (beryatawalla) dan orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah” (QS : 16/100)

Penegasan Allah Ta’ala itu artinya : bahwa setan jin dapat memperdayakan sekelompok orang yang telah mengambil setan jin sebagai wasilah atau jalan untuk mendekat (ber-yatawalla) dan orang-orang yang telah berbuat syirik saja sehingga kesadaran mereka dapat dikuasai walau hanya sebentar”.

Namun sesungguhnya ber-yatawalla kepada para Nabi, Rasul dan Wali-wali Allah tetaplah sama sesatnya dengan ber- yatawalla kepada jin dan setan.

Kiai Luthfi memperbolehkan meminta pertolongan, petunjuk, kepada orang-orang yang telah meninggal yang dianggap mempunyai keutamaan atau kesucian (para Nabi, Rasul dan Wali-wali Allah) menamakan perbuatan tersebut sebagai tawassul. Padahal sebenarnya tidak demikian. Sebab tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyari’atkan. Seperti dengan perantara iman, amal shalih, Asmaa’ul Husnaa dan sebagainya.

Berdo’a dan memohon kepada orang-orang mati (seperti para Nabi atau Wali Allah) dan pada jin atau setan (seperti Nyi Roro Kidul) adalah berpaling dari Allah. Ia termasuk syirik besar. Sebab Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim”. (Yunus: 106) Orang-orang zhalim dalam ayat di atas berarti orang-orang musyrik yang melakukan syirik besar karena menyekutukan Allah.

v           Tawassul dengan kemuliaan Rasulullah, Para Nabi atau Wali-Wali Allah yang telah wafat.

Kiai Luthfi dan para menganut sufi lainnya mungkin dalam bertawassul mengucapkan perkataan: “Wahai Tuhanku, dengan kemuliaan Muhammad, dengan kemuliaan Nabi Khidir, dengan kemuliaan Syaikh Abdul Qadir Jailani sembuhkanlah aku.” Ini adalah perbuatan bid’ah. Sebab para sahabat tidak melakukan hal tersebut. Adapun tawassul yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab dengan do’a paman Rasulullah , Al-Abbas adalah semasa ia masih hidup. Dan Umar tidak ber-tawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat. Sedangkan hadits:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ فَإِنَّ جَاهِيْ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ

“Jika kalian meninta Allah, maka memintalah kalian dengan kemuliaanku. Karena sesunguhnya kemuliaanku di sisi Allah besar.” [1]. Hadits tersebut sama sekali tidak ada sumber aslinya. Demikian menurut Ibnu Taimiyah[2].. Tawassul bid’ah ini bisa menyebabkan pada kemusyrikan. Yaitu jika ia mempercayai bahwa Allah membutuhkan perantara. Sebagai-mana seorang pemimpin atau penguasa. Sebab dengan demikian ia menyamakan Tuhan dengan makhlukNya. Abu Hanifah berkata, “Aku benci memohon kepada Allah, dengan selain Allah.” [3]

Maka kesimpulan yang diyakini Kiai Luthfi bahwa dalam berdoa kepada Allah membutuhkan perantara guru-guru mursyidnya termasuk kemusyrikan. Sebagaimana yang dia katakan (pada halaman 31):”…… Apabila dipraktekkan dalam pelaksanaan amal ibadah, maka yang dimaksud dengan beryatawalla itu ialah bertawassul atau melaksanakan tawassul orang-orang yang ber-thariqah harus bertawassul kepada Rasulullah saw. melalui guru-guru mursyidnya, supaya terjadi hubungan. Dalam istilah lain melaksanakan interaksi ruhaniyah, yaitu menghadirkan gurunya secara ruhaniyah di saat melaksanakan ibadah untuk diajak bersama-sama menghadapkan wijhah atau ber-tawajjuh kepada Allah ta’ala. Hal terseut dilakukan supaya ibadah yang dilaksanakan lebih terfasilitasi kekhusyu’annya dan terbukanya pintu ijabah Allah ta’ala.”

v           Meminta agar Rasulullah Mendo’akan Dirinya Setelah Beliau Wafat

Seperti ucapan para penganut sufi: “Ya Rasulullah do’akanlah aku”, ini tidak diperbolehkan. Sebab para sahabat tidak pernah melakukannya. Juga karena Rasulullah bersabda, “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepada (orang tua)-nya.” (HR. Muslim)

2.   Tawasul Yang Disyari’ahkan.

v           Tawassul dengan iman

Seperti yang dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an tentang hamba-Nya yang ber-tawassul dengan iman mereka. Allah berfirman, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu’, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” (Ali Imran: 193)

v           Tawassul dengan mengesakan Allah

Seperti do’a Nabi Yunus, ketika ditelan oleh ikan Nun. Allah mengisahkan dalam firmanNya: “Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim. Maka Kami telah memperkenankan do’anya, dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Al-Anbiyaa’: 87-88)

v           Tawassul dengan Nama-nama Allah

Sebagaimana tersebut dalam firmanNya, “Hanya milik Allah Asma’ul Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu.” (Al-A’raaf: 180) Di antara do’a Rasulullah dengan Nama-namaNya yaitu:“Aku memohon KepadaMu dengan segala nama yang Engkau miliki.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan shahih)

v           Tawassul dengan Sifat-sifat Allah

Sebagaimana do’a Rasulullah, “Wahai Dzat Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku mohon pertolongan.” (HR. At-Tirmidzi, hadits hasan)

v           Tawassul dengan amal shalih

Seperti shalat, berbakti kepada kedua orang tua, menjaga hak dan amanah, bersedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, shalawat atas Nabi, kecintaan kita kepada beliau dan kepada para sahabatnya, serta amal shalih lainnya.

Dalam kitab Shahih Muslim terdapat riwayat yang mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalihnya. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya, berupa memelihara hak buruh. Orang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tua. Orang yang ketiga bertawassul dengan takutnya kepada Allah, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak ia lakukan. Akhirnya Allah membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, sampai mereka semua selamat.

v           Tawassul dengan meninggalkan maksiat

Misalnya dengan meninggalkan minum khamr (minum-minuman keras), berzina dan sebagainya dari berbagai hal yang diharamkan. Salah seorang dari mereka yang terperangkap dalam gua, juga bertawassul dengan meninggalkan zina, sehingga Allah menghilangkan kesulitan yang dihadapinya.

Adapun umat Islam sekarang, mereka meninggalkan amal shalih dan bertawassul dengannya, lalu menyandarkan diri bertawassul dengan amal shalih orang lain yang telah mati. Mereka melanggar petunjuk Rasulullah dan para sahabatnya.

v           Tawassul dengan memohon do’a kepada para nabi dan orang-orang shalih yang masih hidup.

Tersebutlah dalam riwayat, bahwa seorang buta datang kepada Nabi. Orang itu berkata, “Ya Rasulullah, berdo’alah kepada Allah, agar Dia menyembuhkanku (sehingga bisa melihat kembali).” Rasulullah menjawab, “Jika engkau menghendaki, aku akan berdo’a untukmu, dan jika engkau menghendaki, bersabar adalah lebih baik bagimu.” Ia (tetap) berkata, “Do’akanlah.” Lalu Rasulullah menyuruhnya berwudhu secara sempurna, lalu shalat dua rakaat, selanjutnya beliau menyuruhnya berdo’a dengan mengatakan, “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhiNya untukku. Ya Allah jadikanlah ia pemberi syafa’at kepadaku, dan berilah aku syafa’at (pert-longan) di dalamnya.” la berkata, “Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga ia sembuh.” (HR. Ahmad, hadits shahih)

Hadits di atas mengandung pengertian bahwa Rasulullah berdo’a untuk laki-laki buta tersebut dalam keadaan beliau masih hidup. Maka Allah mengabulkan do’anya. Rasulullah memerintahkan orang tersebut agar berdo’a untuk dirinya. Menghadap kepada Allah untuk meminta kepadaNya agar Dia menerima syafa’at Nabi-Nya . Maka Allah pun menerima do’anya.

Do’a ini khusus ketika Nabi masih hidup. Dan tidak mungkin berdo’a dengannya setelah beliau wafat. Sebab para sahabat tidak melakukan hal itu. Juga, orang-orang buta lainnya tidak ada yang mendapatkan manfa’at dengan do’a itu, setelah terjadinya peristiwa tersebut.


[1] Hadits bathil. Tidak ada asalnya. At-Tawassul, 1/117, Jam’ir Rosaail, 1/11, Kitab Tauhid, 1/96, Ushulul iman fidhoui kitab wa sunnah, 1/65

[2] Lihat majmu’ fatawaa 1/94, 6/217 dan 6/222,

[3] Demikian seperti disebutkan dalam kitab Ad-Durrul Mukhtaar.

2 Tanggapan

  1. Doa sesudah adzan

    “Allaahumma rabba haadzihid da’watit taammah wash shalaatil qaa-imah aati Muhammadanil wasiilata wal fadliilata wab ‘atshu maqaamam mahmuudanilladzii wa’attah”

    Ya Allah, Tuhan seruan yang sempurna ini dan shalat yang berdiri, berilah kepada Nabi Muhamad s.a.w. wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah ia pada tempat yang terpuji yang Engkau telah menjanjikannya (HR. Bukhori)

  2. QS 3:169 : Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah SWT itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

    Apatah lagi Rasulullah SAW…???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: