MEMPERBOLEHKAN TABARRUK PADA KUBURAN WALI

MEMPERBOLEHKAN TABARRUK PADA KUBURAN WALI

Penulis mengatakan (Halaman 229-232) :

Ditegaskan pula bahwa sesungguhnya rahmat Allah Ta’ala amatlah dekat dari orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin), yaitu orang yang selalu berdoa sendirian maupun berjama’ah, baik di rumah maupun di majelis-majelis dzikir dan mujahadah yang diadakan. Di situlah letak sasaran yang diharapkan, karena dari tempat seperti itu sumber rahmat terus menerus memancar, sehingga usaha seorang hamba akan mendapatkan hidayah dan kemudahan-kemudahan dari Allah ta’ala berkat doa-doa mereka. Karena keberadaan mereka (al-muhsinin) di suatu tempat, seakan-akan memang telah ditetapkan menjadi sumber kehidupan dan keberkahan dari Allah ta’ala bagi daerah sekelilingnya.

Dari doa-doa yang mereka panjatkan setiap pagi dan petang sebagai bentuk keprihatinan hati untuk umatnya, akan menjadi sebab tersampaikannya rahmat Allah Ta’ala kepada orang-orang yang didoakan. Hal itu menjadikan sebab terbentangnya keberkahan bagi daerah sekitanya. Demikianlah yang terjadi dimana-mana. Di tempat tinggal mereka yang asalnya sepi dan mati, ketika manusia sudah mengetahui keberadaan mereka beserta kelebihan-kelebihan yang ada di tangan mereka sebagai anugrah dan buah pengabdian yang hakiki, daerah itu kemudian menjadi hidup dan bergairah. Orang-orang berdatangan untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyakit yang diderita, baik penyakit lahir maupun penyakit batin.

Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam mereka, maka ekonomi di daerah itu menjadi bangkit dan hidup bahkan mampu menjadikan sebab kemakmuran bagi daerah sekitarnya. Demikianlah kenyataan kasat mata yang tidak bisa dipungkiri bahwa keberkahan Allah ta’ala telah mampu menghidupi orang melalui kehidupan orang yang sudah mati walau di mana-mana masih banyak orang yang mengingkari jasa-jasa mereka bahkan mensyirikkan orang yang berziarah ke makam mereka.

Kalau sekedar minta kepada kuburan …! Minta kepada batu mati yang menancap di atas sesonggok tanah kering, siapa yang tidak mengerti bahwa hal yang demikian itu perbuatan syirik …? Kalau memang benar bahwa orang yang setiap hari dating ke kuburan para waliyullah itu berbuat syirik…? Sekarang ada pertanyaan “sekiranya yang ditanam di bawah seonggok tanah kering yang ditancapi batu mati itu adalah jasad kasar kita, maukah orang-orang yang berbuat syirik itu menziarahi kburan kita …? “, kalau ternyata tidak mau, apa bedanya jasad kita dengan jasad oara waliyullah itu …? Ada apa di dalam jasad kita dan ada apa pula di dalam jasad mereka, padahal sama-sama jasad yang sudah mati…? Mengapa jasad mereka dapat menarik hati orang banyak hingga tiap hari datang dari tempat yang jauh sekedar ziarah atau tabarukan, sedang jasad kita tidak …?

Barangkali ada sudut pandang yang agak berbeda, sehingga hati yang mulia telah menjadi salah sangka. Kalau orang bertaya : “Mengapa orang banyak itu jauh-jauh dengan bersusah payah mau datang ke kuburan orang yang sudah mati …?”. Jawabannya gampang sekali, karena mereka itu adalah orang-orang yang bodoh sehingga mampu berbuat yang tidak masuk akal. Masak tetapi coba pertanyaannya agak dirubah sedikit :”Ada apa di kuburan orang itu …?, Mengapa  setiap hari orang-orang dari tempat yang jauh, didatangkan oleh Allah ta’ala ke sana …? Mengapa tidak didatangkan ke kuburan kita…?,maka jawabannya agak sulit, karena ia membutuhkan ilmu yang luas dan penelitian yang panjang, kecuali bagi orang-orang yang hatinya ada inayah dari Allah ta’ala sehingga nur imanya mampu menyinari perbendaharaan ilmu yang ada di bilik akalnya.

Bukanlah semua orang tahu, apa saja yang terjadi, pasti karena takdir Allah Ta’ala. Pertanyaannya : mengapa orang-orang itu tiap hari datang dari jauh ditakdirkan Allah ta’ala ke kuburan kita…? Apa rahasia di balik itu …? Kalau semacam itu pertanyaan yang dilontarkan, barangkali siapapun akan dapat menemukan jawabannya asal dilontarkan dengan hati yang selamat. Kalau tidak, berarti hati kita yang perlu diteliti, barangkali sudah tercemar oleh penyakit-penyakit yang dimasukkan oleh setan jin di dalamnya.

Jawabannya adalah sesungguhnya yang demikian itu adalah buah ibadah para waliyullah itu sekarang sudah menuai bibit yang dahulu mereka tanam. Mereka menanam bibit kasih saying kepada umat yang dikemas di balik perjuangan dan doa-doa mereka. Mereka manuai hasil keprihatinan hatinya kepada keselamatan orang lain yang bukan apa-apa mereka. Sekarang panen itu adalah bahwa mereka didoakan oleh manusia-manusia yang tahu berterima kasih terhadap jasa-jasa mereka. Mereka didatangi dan didoakan orang-orang yang telah merasakan kenikmatan iman yang ada di dalam hatinya atas hasil jerih payah yang dahulu mereka kerjakan. Hal itu sebagai bentuk dzikir Allah ta’ala kepada mereka karena mereka dahulu telah berdzikir kepada Allah ta’ala melalui keperihatinan hatinya kepada umat manusia sepanjang hidupnya.

Bantahan Kami :

Wahai Muhammad Luthfi Ghozali! Sesungguhnya tabaruk atau mencari barakah serta waktu dan tempat yang berkaitan dengannya termasuk perkara akidah yang sangat penting. Hal ini dikarenakan sering terjadi perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan) di dalamnya. Perbuatan itu dapat menjerumuskan banyak orang ke dalam perbuatan bid’ah, khurafat, dan syirik, dulu maupun sekarang. Bukankah orang-orang jahiliyyah terdahulu beribadah kepada berhala-berhala disebabkan mereka mengharap barakah dari berhala-berhala tersebut?

Kemudian bid’ah tersebut masuk menyelinap ke dalam agama ini melalui orang-orang zindiq (munafiq). Di antara cara yang anda gunakan untuk merusak agama dari dalam adalah menanamkan sikap ghuluw terhadap para wali dan orang-orang shalih serta bertabaruk dengan kuburan mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan : “Dari sinilah orang-orang munafik memasukkan ke dalam Islam perkara bid’ah tersebut. Sungguh yang pertama kali mengada-adakan agama rafidlah adalah seorang zindiq Yahudi yang pura-pura menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya untuk merusak agama kaum Muslimin, sebagaimana Paulus merusak agama kaum Nashara … . Akhirnya muncullah bid’ah syiah atau sufiyyah yang merupakan kunci terbukanya pintu kesyirikan. Ketika para zindiq itu merasa kuat, mereka memerintahkan membangun tempat-tempat ibadah di atas kuburan dan menghancurkan masjid-masjid dengan alasan tidak boleh shalat Jum’at dan jamaah kecuali di belakang imam yang ma’shum … .” [1]

Sangat disayangkan betapa banyak kaum Muslimin terjatuh ke dalam perbuatan syirik melalui pintu tabaruk in. Pada penjelasan dibawah ini akan kami jelaskan hakikat tabarruk dalam tinjauan syari’at Islam, agar Muhammad Luthfi Ghozali dan masyarakat awam seyogyanya perlu mengetahui apa pengertian tabaruk serta mana yang disyariatkan dan mana yang dilarang. Berikut ini penjelasannya :

Pengertian tabarruk

Tabarruk artinya mencari barakah (ngalap berkah, jawa). Bertabarruk dengan sesuatu artinya mencari berkah dengan perantaraan sesuatu tersebut[2].

Tidak diragukan lagi bahwa barakah dan kebaikan ada di tangan Allah subhanahu wata’ala. Dia terkadang mengkhususkan pada sebagian makhluk-Nya dengan memiliki keutamaan tertentu dan barakah. Barakah pada dasarnya adalah ungkapan untuk sesuatu yang tetap dan terus menerus, atau sering digunakan untuk istilah sesuatu yang tumbuh dan berkembang.

Maka yang dimaksudkan dengan barakah di antaranya adalah:

1. Tetapnya kebaikan sesuatu dan kelanggengannya.

2. Banyak dan bertambahnya kebaikan, terus-menerus sedikit demi sedikit.

3. Tabaraka, yakni lafal khusus untuk Allah subhanahu wata’ala, yang menurut Imam Ibnul Qayyim memiliki arti abadi keberadaan-Nya, tak terhingga kebaikan, keagungan, ketinggian, kebesaran dan kesucian-Nya. Segala macam kebaikan datang dari sisi-Nya, dan juga pemberian barakah dari Allah kepada sebagian makhluk-Nya.

Di antara yang memiliki berkah adalah al-Qur’anul Karim, karena mengandung kebaikan yang tak terhingga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memiliki berkah, dalam arti Allah subhanahu wata’ala menjadikan keberkahan pada diri beliau. Barakah Rasulullah dapat bersifat maknawi, yakni berupa risalah yang diembannya yang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Dan juga barakah secara fisik, yaitu berkah dalam segala perbuatan beliau yang di antaranya berupa mukjizat, serta berkah dari anggota badan beliau.

Kita tidak memungkiri bahwa seluruh nabi dan para malaikat adalah membawa berkah, demikian juga orang-orang shalih, namun kita tidak bertabarruk dengan mereka. Kita tidak bertabarruk dengan mereka itu, semata-mata karena tidak adanya dalil yang mensyari’atkannya hal tersebut, bukan karena memungkiri keberadaan barakah pada mereka.

Demikiaan juga beberapa tempat yang memiliki barakah, seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha kemudian masjid-masjid lain secara umum. Ada juga sebagian waktu yang memiliki barakah seperti bulan Ramadhan, Lailatul Qadr, Sepuluh pertama Dzulhijjah, hari Jum’at, bulan-bulan Haram, sepertiga malam akhir dan lain sebagainya. Dan cara mencari barakahnya pun dengan melaksanakan berbagai amalan yang disyari’atkan pada tempat-tempat dan waktu-waktu tersebut, sedang keberkahannya tetap dimohonkan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Ada juga beberapa benda yang mengandung berkah, seperti air zam-zam, dan juga air hujan karena dengan sebabnya tanaman tumbuh subur, manusia dan binatang dapat minum dan menghasilkan berbagai buah-buahan. Juga pohon zaitun, susu, kuda, domba dan kurma.

Tabarruk yang Disyari’ahkan

a. Bertabarruk dengan Dzikrullah dan Membaca al-Qur’an

Mencari barakah dengan al-Qur’an bukan dengan cara meletakkan mushaf al-Qur’an di kamar, di rumah atau di dalam mobil agar mendatangkan keselamatan. Namun mencari barakah di sini adalah berupa dzikir dengan hati, lisan serta mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai tuntunan. Merupakan bentuk keberkahan adalah ketenangan dan kekuatan hati untuk melakukan ketaatan, terbebas dari berbagai macam kerusakan, memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, ampunan dari dosa, turunnya sakinah dan kelak al-Qur’an akan menjadi syafaat pada hari Kiamat bagi para pembacanya.

  1. Perbuatan yang mengandung barakah jika seorang Muslim ber-iltizam dengannya dalam rangka ber-ittiba’ (mengikuti) Rasulullah keadaan-keadaan yang diberkahi.

Antara lain : Makan bersama dan dimulai dari pinggir, serta menjilat jari (setelah makan), dan makan secukupnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berkumpullah kalian menikmati makanan dan sebutlah nama Allah, kalian akan diberkahi padanya.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Juga beliau bersabda :  “Barakah itu akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir dan jangan dari tengah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud)

Beliau juga memerintahkan untuk menjilat jari karena seseorang tidak tahu mana di antara makanan itu yang mengandung barakah.

Beliau juga bersabda : “Takarlah makanan itu, kalian akan diberkahi padanya.” (HR. Bukhari)

Semua ucapan atau perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian dilakukan seorang hamba dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Sunnah) niscaya akan menjadi penyebab turunnya barakah.

c.   Bertabarruk dengan Diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Masih Hidup

Ini dikarenakan diri (dzat) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mubarakah (memiliki berkah), dan termasuk juga apa yang ada kaitannya dengan beliau. Oleh karena itu kita dapati para sahabat bertabarruk dengan diri beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu bahwa para sahabat pernah mengambil berkah dengan cara memegang tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengusapkan ke wajah-wajah mereka. Dan ternyata tangan beliau lebih sejuk daripada salju dan lebih harum daripada minyak misik.[3]

Demikian pula diriwayatkan bahwa para sahabat bertabarruk dengan pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , dengan air wudhu beliau, dengan sisa air minum beliau. Mereka juga bertabarruk dengan benda-benda yang terpisah dari beliau misalnya, rambut beliau dan segala sesuatu yang pernah dipakai oleh beliau seperti baju, bejana, sandal dan lain sebagainya.

Bertabarruk dengan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dapat dikiaskan pada orang lain selain beliau. Beliau tidak pernah memerintahkan kepada sahabatnya untuk melakukan itu, dan tidak pernah ada di antara para sahabat yang saling mengambil berkah terhadap sahabat-sahabat yang utama seperti bertabarruk dengan Abu bakar, Umar, Utsman, Ali radhiyallahu ‘anhum dan juga sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, padahal mereka adalah manusia termulia sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .

Dengan demikian bertabarruk dengan dzat orang shalih dan para ulama adalah sama sekali tidak disyari’atkan. Bertabarruk dengan mereka di antaranya dengan cara mendengarkan nasehat mereka, minta doa mereka serta hadir dalam majlis-majlis ilmu mereka. Dan inilah keberkahan dan kebaikan yang paling bermanfaat dan terbesar.

d. Bertabarruk dengan Meminum Air Zam-Zam

Air Zam-Zam merupakan air yang paling baik dan utama di muka bumi, orang yang meminumnya akan merasa kenyang dan bahkan mencukupi seseorang sekiranya dia tidak memakan makanan. Dan meminumnya dapat diniatkan untuk mengobati penyakit, karena air tersebut dapat memberikan manfaat sesuai dengan tujuan yang meminumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang air Zam-Zam, artinya,
“Sesungguhnya dia mengandung berkah, makanan yang mengenyangkan dan obat bagi penyakit.” (HR. Muslim)

e. Mengambil Berkah Air Hujan

Tidak diragukan lagi bahwa air hujan adalah mubarak (diberkahi) karena Allah subhanahu wata’ala mendatangkan keberkahan dengan hujan tersebut. Dengannya manusia dan binatang memperolah minum, pepohonan tumbuh subur, menghasilkan buah-buahan dan dengannya pula Allah membuat segala sesuatu menjadi hidup.

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah kehujanan. Anas lalu mengatakan, “Maka Rasulullah membuka sebagian bajunya sehingga terkena air hujan.”

Tabarruk yang Dilarang

a. Bertabarruk dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Setelah Beliau Wafat.

Bertabarruk dengan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat adalah tidak diperbolehkan kecuali dalam dua hal:

Pertama; Dengan beriman, taat dan ittiba’ kepada beliau. Maka barang siapa yang melakukan itu semua dia mendapatkan kebaikan yang banyak dan pahala yang besar serta mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kedua; Bertabarruk dengan peninggalan beliau yang telah terpisah dari beliau seperti pakaian beliau, rambut beliau, bejana atau tempat minum beliau dan lainnya yang masih terkait dengan diri beliau.

Dan selain yang demikian itu tidaklah disyari’atkan. Tidak boleh bertabarruk dengan kubur beliau dan melakukan safar khusus untuk tujuan ziarah kubur beliau. Kita disunnahkan berziarah kubur beliau jika kita memang telah berada di Madinah atau ketika ziarah Masjid Nabawi.

Adapun cara berziarah kubur beliau yang benar adalah; Apabila kita masuk masjid Nabi, maka shalat tahiyatul masjid lalu menuju kubur beliau dan berdiri dengan sopan menghadap kamar (ruang kubur) lalu dengan pelan dan sopan mengucapkan, “Assalamu’alaika ya Rasulallah”. Tidak boleh berdoa di sisi kubur beliau, tidak boleh meminta syafa’at, mengusap kubur dan mencium dindingnya.

Tidak boleh bertabarruk dengan tempat yang beliau duduki, atau tempat yang pernah beliau gunakan untuk shalat, jalan yang pernah beliau lewati, tempat turunnya wahyu, atau bertabarruk dengan tempat beliau lahir, malam kelahirannya, malam isra’ mi’raj dan selainnya .

b. Bertabarruk dengan Orang Shalih

Tidak boleh bertabarruk dengan orang shalih, baik dengan dzatnya, bekasnya, tempat ibadahnya, tempat berdirinya, kuburnya dan juga tidak boleh melakukan perjalanan jauh untuk mengunjungi kuburnya. Tidak boleh shalat di samping kuburnya, meminta berbagai keperluan, mengusap, dan beri’tikaf di sisinya. Juga tidak boleh bertabarruk dengan hari atau tempat kelahiran mereka. Barang siapa melakukan itu untuk bertaqqarrub kepada mereka dengan keyakinan bahwa mereka dapat memberikan manfaat dan madharat, maka dia telah berbuat syirik besar. Sedangkan yang meminta keberkahan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan perantaraan mereka, maka dia telah melakuakn bid’ah yang mungkar.

  1. c. Bertabarruk Dengan Gunung dan Tempat Tertentu

Bertabarruk seperti ini bertentangan dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dapat menyebabkan seseorang mengagungkan (mengeramatkan) tempat-tempat tersebut. Tidak dibenarkan mengiaskan dengan Hajar Aswad, Ka’bah dan mengusap rukun Yamani, karena ini merupakan ibadah yang bersifat tauqifiyah (sebatas mengukuti dalil). Imam Ibnul Qayyim berkata, “Tidak ada tempat di muka bumi ini yang disyari’atkan untuk dicium dan diusap selain Hajar Aswad dan Rukun Yamani.”(Zadul Ma’ad 1/48)

Sehingga tidak dibenarkan seseorang mencium atau mengusap dinding masjid, mencium maqam Ibrahim atau hijir Ismail, dan tidak boleh bertabarruk dengan gua Hira’ atau jabal Nur, sengaja shalat di sana. Tidak boleh bertabarruk dengan gua Tsur, Jabal Arafah (jabal Rahmah), Jabal Abu Qubais, gunung Tursina dan secara umum tidak boleh bertabarruk dengan pohon-pohon, batu-batu dan gunung gunung yang lainnya.

Jadi dapat diambil kesimpulan, di antara penyebab terjadinya tabarruk yang dilarang adalah bodoh tentang agama, ghuluw (ekstrim) terhadap orang shalih, menyerupai orang kafir dan mengagungkan tempat-tempat yang dianggap bertuah atau keramat. Wal ‘iyadzu billah.[4]

Maka apa yang dijelaskan Muhammad Luthfi Ghozali dalam bukunya bahwa ia meyakini bahwa para wali Allah setelah matinya masih bisa dimintai pertolongan adalah salah besar dan dia telah berbuat syirik pada Allah Ta’ala. Sebagaimana dia mengatakan (pada halaman 229-230):“Orang-orang berdatangan untuk mengambil berkah dari mereka, mencari obat kesembuhan bagi penyakit-penyakit yang diderita, baik penyakit lahir maupun penyakit batin. …..Itulah kenyataan yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai dengan sesudah matinya. Oleh karena setiap saat banyak orang berziarah ke makam mereka.”

FATWA TABARRUK

Bertabarruk Dengan Ulama dan Orang-orang Shalih Serta Bekas-bekas Sentuhan Mereka

Tanya: :

Apakah ada ulama yang membolehkan mengambil berkah dari para ulama dan orang-orang shalih serta bekas-bekas sentuhan mereka berdasarkan atsar berupa perbuatan dari sebagian Sahabat Radhiallahu ‘anhum terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apa hukumnya? Tidak bisakah diserupakan dengan selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah mungkin mengambil berkah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatnya beliau? Apakah hukum bertawassul (mengambil perantaraan dalam ibadah) kepada Allah dengan berkah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawab: :

Al-Hamdulillah. Tidak boleh mengambil berkah dari selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan wudhunya, rambutnya, keringatnya atau bagian manapun dari tubuhnya. Semua itu hanya khusus bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah menjadikan tubuh beliau dan setiap yang menyentuhnya itu penuh kebaikan dan berkah. Oleh sebab itu, para Sahabat Radhiallahu ‘anhum tidak pernah mengambil berkah dari salah seorang di antara mereka semasa hidup atau sudah matinya, juga terhadap para Al-Khulafa Ar-Rasyidun dan yang lainnya.

Itu menunjukkan bahwa mereka mengetahui bahwa hal tersebut khusus hanya kepada Nabi saja, tidak kepada yang lain. Karena yang demikian itu adalah sarana menuju kemusyrikan dan ibadah kepada selain Allah. Demikian juga tidak dibolehkan bertawassul dengan selain Allah, dengan kemuliaan Nabi, jasad, sifat atau keberkahan beliau, karena tidak ada dalil, dan karena itu merupakan sarana menuju kemusyrikan dan sikap kultus terhadap beliau. Selain itu, perbuatan itu juga belum pernah dilakukan oleh para Sahabat Radhiallahu ‘anhum. Kalau itu merupakan perbuatan baik, tentu mereka telah mendahului kita melakukanya. Demikian juga karena itu bertentangan dengan dalil-dalil syariat, seperti firman Allah: “Dan Allah itu memiliki nama-nama yang baik, berdoalah dengan bertawassul dengannya..” (Al-A’raaf : 180)

Allah tidak menyuruh untuk berdoa kepadanya dengan kemuliaan seseorang, hak seseorang, atau keberkahan seseorang. Sama dengan bertawassul dengan asma Allah bertawassul dengan sifat-sifat-Nya, seperti kemuliaan-Nya, rahmat-Nya, kalam-Nya dan lain-lain. Di antaranya yang diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih berupa meminta perlindungan dengan kata-kata Allah yang sempurna (doa masuk ke satu tempat), dan meminta perlindungan dengan kemuliaan dan kekuasaan-Nya (doa mengobati sakit). Di antara tawassul sesenis yang dibolehkan adalah bertawassul dengan kecintaan kepada Allah dan kecintaa kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga engan iman kepada beliau. Karena bertawassul dengan amal shalih diriwayatkan dalam kisah beberapa orang yang terjebak dalam goa. Yakni ketika mereka berteduh di dalamnya dan hendak bermalam di situ, tiba-tiba jatuh batu besar dari atas gunung dan menutupi pintu gua. Mereka tidak mampu mendorongnya. Merekapun merundingkan cara untuk bisa selamat dari gua itu. Mereka bersepakat bahwa mereka hanya bisa selamat dengan berdoa, dengan perantaraan amal shalih mereka. Yang pertama bertawassul dengan amalannya bahwa ia pernah melakukan perbuatan baik sekali kepada kedua orang tuanya. Mulailah batu karang itu bergeser sedikit, namun belum memungkinkan mereka untuk keluar. Yang kedua bertawassul dengan amalannya bahwa ia memelihara diri dari zina, padahal ia mampu melakukannya. Maka bergeserlah batu itu sedikit lagi, namun belum memungkinkan mereka untuk keluar. Lalu yang ketiga bertawassul dengan amalan bahwa ia pernah menjaga amanah sedemikian rupa, maka terbukalah pintu gua itu bagi mereka. Hadits tersebut tercantum dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari kisah orang-orang terdahulu, karena mengandung pelajaran dan peringatan buat kita. Para ulama telah menjelaskan jawaban yang kami berikan di sini, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid beliau Ibnul Qayyim, Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam Fathul Majied Syarah dari Kitabut Tauhid dan yang lainnya. Adapun hadits tawassul orang buta kepada Nabi pada masa hidupnya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan syafa’at kepadanya dan mendoakannya sehingga Allah mengembalikan penglihatannya, maka itu termasuk tawassul dengan doa dan syafa’at beliau, bukan kemuliaan beliau dan hak beliau. Itu jelas sekali dalam hadits tersebut. Sebagaimana di Hari Kiamat nanti manusia akan meminta syafa’at kepada beliau dalam memutuskan perkara mereka. Dan sebagaimana para penghuni Surga nanti juga akan meminta syafa’at kepada beliau untuk masuk Surga mereka. Itu termasuk bertawassul dengan beliau ketika beliau hidup di kehidupan Akhirat nanti. Itu termasuk tawassul dengan doa dan syafa’at beliau, bukan dengan jasad dan hak atau kemuliaan beliau, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama, di antaranya yang telah kami sebutkan tadi. [5]


[1] (Majmu’ Fatawa 27/16)

[2] . (Lihat an-Nihayah fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir bab al Ba’ ma’a al Ra’, 1/120)

[3] (riwayat al-Bukhari dalam Kitab Manaqib, bab sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 4/200 no.3553).

[4] Diringkas dari “Nurus Sunnah wa Zhulumatul Bid’ah,” hal 118-133, Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani.

[5] Kitab Majmu’ Al-Fatawa wal Maqalat Al-Mutanawwi’ah oleh Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz –Rahimahullah– VII : 65)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: