MENGANGGAP “MAKSUM” GURU SUFINYA

Penulis mengatakan (pada halaman 267-269) dalam bukunya :

Penulis sekedar “jarkoni”, menurut istilah pepatah jawa yaitu ; (biso ujar tapi ora biso ngelakoni), apalagi bagian yang ketiga, yaitu “penyakit pada hati manusia”

Oleh karena penulis sama sekali bukan ahlinya, maka penulis tidak mampu memberikan solusi apapun. Hanya guru-guru mursyid yang suci, baik lahir maupun batinnya serta mulia akhlaknya, yang akan sanggup melakukannya. Mereka bagaikan dokter spesialis, maka merekalah yang paling berhak memberikan jalan keluar serta penerapannya.

Juga dilanjutkan (pada halaman 271) penulis mengatakan :

Untuk jenis penyakit yang ada dalam hati ini tidak ada seorangpun yang dapat menyembuhkannya kecuali dengan usahanya sendiri, yaitu dengan menjalankan thariqah-thariqah yang terbimbing oleh membimbingnya hanyalah guru ahlinya. Dalam kaitan ini yang berhak membimbingnya  hanyalah guru mursyid thariqah  yang suci lagi mulia, karena dengan menjalani thariqah-thariqah itu, di samping penyakit hatinya akan mendapatkan kesembuhan juga derajat seorang hamba di sisi Allah ta’ala akan meningkat, baik derajat di dunia maupun di akhirat.

Kesimpulan :


Kyai Luthfi sangat ghuluw dengan guru mursyid sufinya dengan mengatakan “Hanya guru-guru mursyid yang suci, baik lahir maupun batinnya serta mulia akhlaknya, yang akan sanggup melakukannya” dan “….hanyalah guru mursyid thariqah  yang suci lagi mulia”

Bantahan Kami :

Tidak heran jika seorang murid (Kyai Luthfi) begitu mengagungkan sang mursyid sufinya, sebagaimana yang dikatakan para  ahli tasawuf berikut ini :

……Supaya ajaran tasawuf mencapai tujuannya, mereka kenakan pada tokoh-tokohnya sifat bebas dari dosa (‘ishmah). Selain itu, menuntut kepada muridnya agar bersikap seperti mayit di tangan yang memandikannya. Maka janganlah engkau melampauinya dengan mengambil ilmu sufi dari guru lain, karena seorang murid yang menimba ilmu dari dua guru ibarat seorang wanita di tangan dua lelaki. [1]

Ibnu Arabi berkata : “Sesungguhnya termasuk syarat imam batin, hendaklah ia ma’shum (bebas dari dosa)” [2].

Katanya lebih lanjut : “Dan engkau, wahai para murid yang tertipu dan tersesat, bantulah apa yang diinginkan terhadap engkau. Dan bersangka baiklah, jangan membantah. Bahkan yakinilah. Dan manusia dalam masalah ini mempunyai perkataan yang banyak. Tapi terserah dirilah, niscaya engkau akan selamat. Dan Allah lebih mengetahui perkataan para walinya.” [3]

Ketahuilah wahai Kyai Luthfi, Rasulullah sangat membenci atas klaim kesucian, kemuliaan yang anda nisbatkan kepada guru mursyid thariqah anda dengan cara yang membabi buta dan sangat berlebihan. Seolah-olah anda tahu yang ghaib bahwa Allah telah menetapkan kemuliakan dan kesucian guru mursyid anda! Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits berikut :

Bahwa Utsman bin Madh’un ra, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang Rasul saw hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan (shahibyyah)  Ummu Al-‘Ala’, berkata: “Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (Utsman bin Madh’un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu.” Maka Rasul SAW membantahnya dengan berkata:

وما يدريك أن الله قد أكرمه؟

“Wa maa yudriika annallooha qod akromahu?”

Artinya : “Bagaimana kamu tahu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?”

Ini adalah peringatan yang besar dari Rasul SAW kepada sahabat wanita ini karena dia telah menetapkan sangkaan kemuliaan dengan hukum yang menyangkut kegaiban. Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal gaib kecuali Allah SWT. Tetapi Shahabiyyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata:

Subhanallah, ya Rasulullah! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan kalau Dia tidak memuliakannya?”

Maksud wanita ini adalah, jika Utsman bin Madh’un ra tidak termasuk orang yang dimuliakan Allah SWT, maka siapa lagi yang masih tersisa pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban yang sangat mengena dan signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul SAW menolaknya dengan ucapan yang lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:

والله إني لرسول الله لا أدري ما يفعل بي غدا.

Walloohi innii larosuululloohi laa adrii maa yaf’alu bii ghodan.”

Demi Allah, saya ini benar-benar utusan Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa yang Dia perbuat padaku esok.”

Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah. Dan di sinilah Ummu Al-‘Ala’ sampai pada hakekat syara’ yang besar, maka dia berkata: “Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci terhadap seorang pun selama-lamanya.”

Jelaslah bagi kita, betapa masalah mengklaim kemuliyaan, kesucian bahkan kemaksuman yang diklaim Kyai Luthfi Ghozali atas guru mursyidnya adalah perkara ghaib dan merupakan perkara besar, dan tidak diketahui oleh siapapun, sampai Nabi Muhammad SAW sekalipun, kecuali hanya Allah SWT. Betapa sasatnya jika Kyai Luthfi menggap suci guru mursyidnya.


[1] Ihya’ Ulumuddin, I/50-51 dan III/75-76

[2] Futuhat Al-Makkiyah, III/183

[3] Muqaddimah AL-Futuhat, I/5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: