MUHAMMAD LUTHFI GHOZALI PERCAYA MALAIKAT BISA JADI KHADAM MANUSIA

Penulis mengatakan (Pada halaman 249-252) dalam bukunya:

Makhluk dimensi jin dan makhluk dimensi malaikat sesungguhnya secara sunah dapat dijinakkan manusia. Makhluk jin takut kepada makhluk malaikat. Untuk itu, supaya manusia dapat menjinakkan dimensi jin, maka harus mendapatkan “sulthonul ilahiyah” yang didatangkan dari dimensi malaikat. Itulah yang dimaksud dengan warid-warid buah dari wirid.

Dengan ibadah dan mujahadah yang dijalani atau wirid-wirid yang didawamkan, manusia akan mendapatkan warid-warid yang didatangkan dari dimensi malaikat. Pengertian warid dari dimensi malaikat adalah apa yang disebut khadam malaikat sedangkan warid dimensi jin adalah apa yang disebut khadam jin.

Kadang-kadang warid-warid yang datangnya dari dimensi jin dapat menjadikan petolongan bagi penanggulangan gangguan jin. Kekuatan warid yang telah ada pada diri manusia lebih kuat daripada sulthon jin yang sedang menguasai manusia (peringatan Allah ta’ala melalui firmannya. Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu akan menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. QS. Al-Jin 72/6.

Untuk keperluan membantu menyembuhkan penyakit akibat gangguan jin, warid dimensi jin tidak dapat membantu meringankan, bahkan terkadang malah membuat penyakit itu semakin parah. Kongkritnya, penyakit yang berasal dari unsure jin yang ada dalam jasad manusia seharusnya dilemahkan dulu baru dikeluarkan. Warid dari dimensi jin ini justru menguatkan. Tidak banyak orang mengerti dan menyadari hal itu. Yang tampak di permukaan hanyalah hasil akhirnya, bahwa ternyata penyakit itu tidak sembuh malah menjadi semakin parah.

Adapun warid yang didatangkan dari dimensi malaikat sangat membantu memudahkan pekerjaan tersebut. Bagaikan air dingin ketika disiramkan di atas bara api, maka api itu segera mati dan seketika itu panasnya menjadi dingin.

Ketika seseorang beribadah dengan dibimbing guru ahlinya, menjalani thariqah-thariqah, dzikir dan wirid-wirid yang didawamkan maupun mujahadah dan anugrah azaliyah yang diturunkan ke dunia, yaitu “sultonul ilahiyah” (warid-warid dari dimensi malaikat). Dengan itulah makhluk jin menjadi takut kepada manusia. Fenomena itu telah digambarkan Rasulullah saw tentang diri sahabat Umar bin Khattab di dalam haditsnya dibawah ini :

Lalu mengatakan juga (pada halaman 253) dalam bukunya :

Warid-warid dimensi malaikat itu juga diturunkan Allah ta’ala sebagai pertolongan khusus yang istighatsah (doa bersama). Istighatsah dijalani secara khusus oleh hamba-hamba-Nya yang beriman dengan niat semata-mata menjalankan bentuk pengabdian yang sesuatu yang pernah dilaksanakan oleh Rasulullah saw Allah swt berfirman yang artinya :

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang dating berturut-turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS : 8/9-10.

Kesimpulan Dari Keyakinan Saudara Kiyai Luthfi

Dengan  menjalani thariqah-thariqah, dzikir, membaca wirid-wirid tertentu, istighatsah yang dibimbing mursyidnya kita bisa mendatangkan khadam malaikat untuk dimintai perlindungannya dari gangguan jin maupun dari segala marabahaya.

BANTAHAN:

Apakah Malaikat Bisa Jadi Khadam Manusia?

Khadam artinya pelayan, jongos, orang yang disuruh-suruh. (kamus bahasa Indonesia 690). Manusia adalah makhluk yang lemah, kekuatannya terbatas tapi keinginan dan kebutuhannya tiada batas. Untuk memenuhi kebutuhannya yang banyak itu, biasanya manusia melibatkan orang lain. Kalau dalam urusan rumah tangga ia minta bantuan pada orang lain yang disebut dengan pembantu. Untuk menghandel pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, ia butuh seorang asisten atau ajudan. Dan masih banyak lagi fenomena adanya manusia yang membantu sesama manusia lainnya.

Tapi, terkadang mendengar berita bahwa pelayan yang dimiliki manusia tidak hanya terdiri dari manusia, ada orang yang mengaku bahwa ia punya pembantu dari makhluk lain. Mereka sering menyebut pelayan yang tidak tampak mata itu dengan istilah Khadam. Ada yang mengaku punya khadam jin, dan ada juga yang mengaku punya khadam malaikat.

Benarkah yang dikatakan saudara Luthfi bahwa malaikat bisa dijadikan khadam seorang manusia, yang bisa ia suruh-suruh kapan saja? Bisa ia setir sesuai kebutuhan dan kehendaknya, seperti pembantu manusia menyembuhkan penyakit? Ataukah itu hanya klaim mereka saja? Atau khadam yang saudara Luthfi klaim sebagai malaikat bukanlah malaikat, tapi hanyalah jin dan syetan yang memperdayainya serta berusaha menyesatkannya? Baca terus kajian ini, dan temukan jawabannya.

Malaikat itu Tentara Allah, Bukan Khadam Manusia

Dewasa ini banyak media cetak yang menawarkan iklan kepada pembacanya, terutama media yang bernafaskan mistik. Iklan yang ditawarkan bukan sembarang iklan, tetapi iklan yang menawarkan kepada pembaca untuk bisa memiliki pembantu atau pelayan. Pelayan yang ditawarkan pun bukan sembarang pelayan, tapi pelayan dari jenis makhluk ghaib, yaitu jin atau malaikat. Sebagian orang telah memahami bahwa bersekutu dengan jin atau syetan hukumnya haram, maka mereka takut dan tidak mau mengambil resiko. Tapi jika dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan khadam itu bukan jin melainkan malaikat, maka banyak orang tergiur dengan iklan provokatif itu. Karena menurut pemahaman mereka malaikat adalah makhluk yang identik dengan kebaikan dan jauh dari kekhufuran. Akhirnya merekapun berusaha untuk bisa memiliki khadam yang diklaim sebagai malaikat tersebut, walaupun harus merogoh kocek yang lumayan besar.

Diantara iklan-iklan provokasi kreatif tersebut adalah Batu Raja Sulaiman. Menurut si empunya salah satu khasiat dari batu tersebut adalah untuk menjadikan tubuh kebal senjata tajam , dan juga untuk melancarkan usaha serta menagih hutang dengan khadam malaikat. Harga batu yang ditawarkan pun variatif, ada yang berharga Rp 1.000.000, dan ada yang bernilai Rp. 2.000.000, dan ada pula yang seharga Rp 3.000.000.

Bahkan ada juga iklan yang menawarkan Aji Malaikat Muqqarabin yang diyakini bisa menjadikan pemiliknya kebal senjata, berwibawa, tidak mempan disantet, selalu selamat dan beruntung. Harga yang ditawarkan lebih murah dari iklan sebelumnya, yaitu Rp 295.000.

Ada juga yang tidak berani terus terang bahwa yang ditawarkan itu adalah khadam malaikat. Hanya saja dia mengiklankan khadam pendamping untuk membantu segala keperluan atau masalah. Khadam dihadirkan dari dalam tubuh sendiri, tanpa puasa, sesajen, tumbal atau perjanjian. Bukan setan, jin kafir atau black magic. Untuk semua agama dan calon pemilik harus datang langsung, hanya untuk  kebaikan! Itulah sebagian dari iklan-iklan yang bertebaran di tengah masyarakat.

Selain itu ada juga Pesantran-pesantren (yang saudara kiyai Luthfi laksanakan) mengajarkan cara-cara untuk bisa mendapatkan warid (khadam malaikat) dengan mengamalkan suatu amalan thariqat secara khusus seperti membaca wirid-wirid khusus yang dibaca selama beberapa waktu juga disertai dengan puasa sekian hari  dan setelah amalannya lengkap baru didatangi khadam malaikat yang bisa untuk dimintai suatu pertolongan atau suatu keperluan tertentu seperti yang saudara Luthfi katakan : Ketika seseorang beribadah dengan dibimbing guru ahlinya, menjalani thariqah-thariqah, dzikir dan wirid-wirid yang didawamkan maupun mujahadah dan anugrah azaliyah yang diturunkan ke dunia, yaitu “sultonul ilahiyah” (warid-warid dari dimensi malaikat). Dengan itulah makhluk jin menjadi takut kepada manusia”.

Benarkah manusia bisa menjadikan malaikat sebagai khadam atau pelayan yang bisa disuruh kapan saja dan untuk apa saja seperti yang saudara Luthfi katakan memanggil khadam malaikat untuk membuat jin takut? Apakah manusia bisa “menculik” malaikat lalu dijadikan “sandera” yang bisa diperintah dan dijadikan budak? Atau ritual-ritual yang dilakukan oleh manusia bisa mendatangkan malaikat, lalu malaikat itu berkhidmah kepadanya serta melayani setiap keperluannya? Melindungi majikannya kala terancam bahaya, atau membuatnya sakti kebal senjata serta mempermudah segala urusannya? Marilah kita mencari jawabannya dalam syari’at Islam.

Siapakah malaikat itu? Menurut kamus besar bahasa Indonesia, malaikat adalah makhluk Allah SWT yang taat, diciptakan dari cahaya, mempunyai tugas khusus dari Allah SWT.[1]. Sedangkan DR.’Umar Sulaiman al-Asyqar mendefinisikan malaikat sebagai makhluk Allah SWT yang bukan termasuk komunitas manusia atau jin. Mereka adalah makhluk yang mulia, sarat dengan kesucian, kebersihan dan kecemerlangan. Mereka makhluk yang bertaqwa, senantiasa menyembah Allah SWT dengan sebaik-baik penyembahan. Mereka selalu melaksanakan semua perintah yang dibebankan Allah kepadanya, dan tidak akan bermaksiat kepada Allah SWT selamanya. [2]

Rasulullah SAW bersabda,“ Malaikat diciptakan darai cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah)“. (HR.Muslim).

Malaikat-malaikat itu adalah tentara-tentara Allah SWT sebagaimana yang diungkapkan al-Qur’an,“ Dan tidak ada yang mengetahui tentara tuhanmu melainkan Dia sendiri“. (QS.al-Mutaddatsir: 31). Hanya Allah SWT yang mengendalikan mereka. Tak seorangpun manusia, termasuk para nabi dan rasul yang bisa memerintah atau melarang malaikat. Allah SWT berfirman ,“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jinril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.“ (QS.al-Qadr: 4). Malaikat tidak turun kebumi kecuali dengan perintah Allah, bukan perintah manusia. Malaikat Jibril mengakui sendiri bahwa ia tidaklah turun kecuali atas perintah Allah SWT. Ia berkata ,”Dan tidaklah kami turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu.” (QS.Maryam: 64).

Mereka diciptakan oleh Allah SWT dan masing-masing mengemban tugas khusus dari-Nya. Ada yang tugasnya tidak berhubungan sama sekali dengan manusia. Seperti malaikat yang ditugaskan untuk menyangga ‘Arsy,” Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS al-Haqqah: 17).

Ada juga yang tugasnya menjaga gunung, sebagaimana diceritakan Rasulullah SAW saat kaumnya yang tidak merespon seruan Rasulullah ,”Malaikat gunung mendatangiku dengan mengucapkan salam, lalu dia berkata: ‘ wahai Muhammad, sesungguhnya Allah SWT telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu, saya malaikat gunung. Dan Tuhanmu (Allah SWT) telah mengutusku untuk mendatangimu, agar aku mengikuti apa yang kamu perintahkan, apa yang kamu inginkan. Kalau kamu mau, aku akan melemparkan dua gunung Mekkah kepada mereka.’ Rasulullah SAW menjawab, ‘ Tidak, yang aku inginkan semoga Allah SWT mengeluarkan dari tulang rusuk mereka (keturunan) yang menyembah Allah SWT semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Ada juga malaikat yang ditugasi dengan tugas yang berhubungan dengan manusia secara langsung. Seperti mencatat amal manusia yang baik dan yang buruk,“ Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.“ (QS.Qaf:18). Atau memohon ampunan untuk orang mukmin,“malaikat-malaikat yang memikul ’Arsy dan malaikat yang berada disekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman…“(QS. Al-Mukmin: 7). Menyampaikan salam orang mukmin ke Rasulullah SAW, “ sesungguhnya Allah SWT mempunyai malaikat-malaikat yang menelusuri bumi untuk menyampaikan salam umatku kepadaku.“ (HR.Nasa’i, Hakim dan dishahihkan oleh al-Abani dan Adz-Dzahabi). Sebagaimana ada juga malaikat yang ditugaskan untuk menjaga manusia,“Dan Dialah yang mempunyai kekuatan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…“ (QS. Al-An’am: 61).

Berdasarkan ayat tersebut, memang ada malaikat yang ditugaskan Allah SWT untuk menjaga manusia, tapi bukan menjadi khadam atau pelayannya. Yang memerintahkan mereka adalah Allah SWT bukan manusia dan sudah khusus mengerjakan suatu pekerjaan yang telah diperintahkan Allah. Allah SWT berfirman, “Bagi manusia ada Mu’aqqibatun (malaikat-malaikat) yang selalu mengikutinya bergiliran, mereka menjaganya atas perintah Allah SWT.“ (QS.ar-Ra’d: 11).

Ibnu Abbas berkata, “yang dimaksud dengan Mu’aqqibatun dalam ayat tersebut adalah malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk menjaga manusia didepan dan di belakangnya. Apabila ada sesuatu yang telah ditakdirkan Allah untuk menimpanya, maka para malaikat itu meninggalkannya,“ (tafsir al-Munir: 13/123). Bahkan Mujahid (murid Ibnu Abbas) berkata,“ Tidaklah seorang hamba kecuali baginya malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya di saat tidur atau terjaga, menjaganya dari gangguan jin, sesama manusia dan binatang buas. Dan tidaklah sesuatu yang akan menimpa hamba tersebut kecuali malaikat tersebut mengingatkannya, kecuali kalau sesuatu itu telah ditaqdirkan Allah SWT untuk menimpanya.“ (tafsir Ibnu Katsir: 503).

DR. Wahbah az-Zuhali berkata, “ ada dua malaikat yang menjaga manusia didepan dan dibelakangnya. Dan ada juga dua malaikat lain yang ditugaskan Allah untuk mencatat amal baik dan buruk manusia yang berada di samping kanan dan kirinya. Allah berfirman,“ (yaitu) ketika dua malaikat mencatat perbuatannya, seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya, melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.“ (QS.Qaf:17 – 18).

Berarti bagi setiap manusia empat malaikat di waktu siang dan empat malaikat di waktu malam, mereka bergiliran. Dua bertugas untuk menjaganya dan dua mencatat amalnya, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, “para malaikat bergantian mengiringi kalian di malam hari dan di siang hari. Mereka berkumpul di waktu shalat shubuh dan shalat ashar. Maka ketika (malaikat) yang berjaga di malam hari naik, Allah akan menanyai mereka (padahal Allah lebih tahu dari mereka),“ bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaku?“ mereka menjawab,“sewaktu kami datang, mereka lagi shalat. Dan sewaktu kami tinggalkan, mereka juga lagi shalat,“ (HR. Bukhari). Dan di riwayat lain rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ada (malaikat) yang tidak meninggalkan kalian kecuali saat di toilet dan ketika bersetubuh (dengan istri atau suami), maka malulah terhadap mereka dan hormatilah mereka“(tafsir al-Munir: 13/123).

Memang ada malaikat yang selalu menyertai kita, dan yang mengendalikan mereka adalah Allah. Mereka bertugas atas perintah Allah Swt, bukan perintah manusia. Kalau manusia ingin supaya mereka terus melindunginya serta membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya, hendaklah memohon kepada Allah SWT. Dan cara memohon harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW (bukan dengan amalan membaca hizib, wirid atau pun tata cara lain yang bid’ah). Kalau tidak sesuai, syetan akan bermain. Bukan malaikat yang turun, tapi malah jin atau syetan yang datang. Malaikat adalah tentara Allah bukan Khadam manusia!

Macam-macam Malaikat dan Tugasnya

Malaikat adalah hamba Allah yang dimuliakan dan utusan Allah yang dipercaya. Allah menciptakan mereka khusus untuk beribadah kepada-Nya. Mereka bukanlah putra-putri Allah dan bukan pula putra-putri selain Allah.

Mereka membawa risalah Tuhannya, dan menunaikan tugas masing-masing mempunyai tugas-tugas khusus. Di antara mereka adalah:

1. Malaikat yang ditugasi menyampaikan (membawa) wahyu Allah kepada para Rasul-Nya.

Ia adalah Ar-Ruh Al-Amin atau Jibril a.s.

Allah Swt berfirman, “Dia dibawa oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy-Syu’ara : 193-194)

2. Malaikat yang diserahi urusan hujan dan pembagiannya menurut kehendak Allah Swt.

Hal ini ditunjukkan oleh Hadits Muslim dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Tatkala seorang laki-laki berada di tanah lapang (gurun) dia mendengar suara di awan, ‘Siramilah kebun fulan’, maka menjauhlah awan tersebut kemudian menumpahkan air di suatu tanah berbatu hitam, maka saluran air di situ-dari saluran-saluran yang ada – telah memuat air seluruhnya.” (H.R. Muslim)

3. Malaikat yang diserahi terompet, yaitu Israfil a.s.

Ia meniupkannya sesuai dengan perintah Allah Swt dengan tiga kali tiupan: tiupan faza’ (ketakutan), tiupan sha’aq (kematian) dan tiupan ba’ts (kebangkitan). Firman Allah Swt, “…kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka semua.” (Al-Kahfi : 99)

4. Malaikat yang ditugasi mencabut ruh, yakni malaikat maut dan rekan-rekannya.

Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawamu) akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmu-lah kamu akan dikembalikan.” (As-Sajdah : 11).

5. Para malaikat penjaga surga.

Allah Swt berfirman, “Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan dibawa ke dalam Surga berbondong-bondong (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke Surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga penjaganya, ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu, maka masukilah Surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (Az-Zumar : 73)

6. Para malaikat penjaga Neraka Jahannam

Mereka itu adalah Zabaniyah. Para pemimpinnya ada 16 dan pemukanya adalah Malik a.s.

Firman Allah Swt, “Mereka berseru, Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab, ‘Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Az-Zukhruf : 77)

7. Para malaikat yang ditugaskan menjaga seorang hamba dalam segala ihwalnya.

Mereka adalah Mu’aqqibat, sebagaimana yang diberitakan Allah dalam firmannya, “Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (Ar-Ra’du : 10-11).

8. Para malaikat yang ditugaskan mengawasi amal seorang hamba, amal yang baik, maupun amal yang buruk.

Mereka adalah Kiram al-Katibun (para pencatat yang mulia). Mereka masuk dalam golongan Hafazhah (para penjaga), sebagaimana firman Allah, “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (Az-Zukhruf : 80)

“(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”(Qaf : 17-18).

9. Penentram hati kaum mukminin,

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata,”Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

Qarin Malaikat Bukan Khadam

“Tidaklah setiap orang dari kalian kecuali telah diberitakan kepadanya qarin dari jin dan qarin dari malaikat.’ Para sahabat bertanya,’dan untukmu wahai Rasulullah? ’Rasulullah menjawab, ` Untukku juga, hanya saja Allah telah menolongku, sehingga qarinku masuk islam, dan tidak menyuruhku kecuali pada kebaikan’.“ (HR.Muslim)

Seorang ulama tersohor yang bernama DR.Umar Sulaiman al-Asyqar berkata,“Yang dimaksud dengan qarin malaikat pada hadist ini bukanlah malaikat yang bertugas menjaga dan mencatat amal manusia . Allah menugasi qarin malaikat ini untuk mengarahkannya kepada petunjuk kebaikan. Qarin manusia yang dari malaikat  memotifasi dan mengarahkannya kepada kebaikan, sedangkan qarin jin memprovokasi dan menggiringnya kepada keburukan.“ [3]

Qarin atau partner yang selalu menyertai manusia mengemban tugas khusus dari Allah , sebagaimana ditegaskan Rasulullah dalam riwayat lain, “Sesungguhnya syetan itu punya bisikan untuk anak Adam sebagaimana malaikat juga punya bisikan. Adapun bisikan syetan adalah mengajak kepada keburukan dan mendustakan yang haq (benar). Sedangkan bisikan malaikat adalah mengajak kepada kebaikan dan membenarkan yang haq. Barang siapa yang mendapati dalam dirinya ajakan kebaikan, maka ketahuilah bahwa itu datangnya dari Allah, hendaklah ia memuji Allah (baca Alhamdulillah). Tapi kalau dia mendapati yang lain (ajakan keburukan), maka hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syetan yang terkutuk (baca Isti’adzah). Lalu beliau membaca ayat 268 dari surat al-Baqarah,“Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan(kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan dari pada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (Karunia-Nya) dan Maha Mengetahui.“ (HR.Tirmidzi dan Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya).

Qarin malaikat dan qarin jin senantiasa berkompetisi untuk mempengaruhi anak manusia. Keduanya, satu dengan lainnya tidak mau ketinggalan atau kedahuluan. Keduanya akan hadir saat manusia hendak tidur dipembaringannya. Qarin malaikat menginginkan manusia menutup aktifitas kesehariannya dengan kebaikan, sedangkan qarin syetan menginginkan penutup yang buruk. Begitu juga ketika manusia bangun dari tidurnya. Qarin dari malaikat mengajak manusia membuka dengan kebaikan, sedangkan qarin jin mengajaknya untuk membuka dengan keburukan.

Rasulullah bersabda menjelaskan kompetisi itu dalam hadist yang berasal dari Jabir bi-Abdullah, “Apabila manusia berbaring di pembaringannya (mau tidur), malaikat dan syetan segera menghampirinya. Malaikat membisikkan,’ akhiri dengan kebaikan’, sedangkan syetan membisikan,’akhiri dengan keburukan’. Apabila ia menyebut nama Allah sampai tertidur, maka malaikat mengusir syetan. Dan syetan akan bermalam seraya menyesali kekalahannya.“ (HR. Ibnu Hibban , hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi). Fenomena kompetisi itu akan terulang lagi saat manusia terbangun dari tidurnya. Maka dari itu jangan lupa untuk selalu berdo’a di saat hendak tidur dan juga saat terbangun dari tidur.

Dengan demikian, apabila ada orang yang melakukan ritual yang aneh-aneh atau menyimpang (amalan thariqah untuk membuat malaikat jadi khadam manusia) yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, lalu datang sosok ghaib menghampirinya atau merasuk ke dalam dirinya, bisa dipatikan bahwa sosok itu bukanlah malaikat. Kalau bukan malaikat, berarti jin atau syetan. Walaupun ia melihat sosok datang itu berpakaian serba putih-putih, berjubah panjang atau bersorban rapi. Karena jin bisa menyerupai sosok siapa saja, selain sosok Rasulullah.

Ada peristiwa nyata, seorang peruqyah syar’iyyah yang menerapi seorang pasien. Sebelum dilakukan terapi, pasien itu bercerita kalau dirinya pernah mengamalkan amalan yang berasal dari orang yang mempunyai pesantren. Apabila amalan itu diamalkan, maka akan ada malaikat yang datang dan bersedia untuk menjadi khadamnya. Amalan itu adalah membaca surat al-Jin setiap habis shalat lima waktu selama 3 bulan berturut-turut. Sewaktu terapi dimulai dengan membaca surat al-Fatihah, pasien tersebut langsung menjerit kesakitan dan mengaku sebagai malaikat Jibril. Sang Ustadz menyanggahnya bahwa dia bukan malaikat Jibril , tapi jin dzalim. Ketika dibacakan surat ash-Shaffat, jeritannya lebih kencang. Sampai akhirnya ia minta ampun atas kebohongannya. Lalu ia mengaku sebagai seorang kyai yang sudah lama meninggal. Ustadz pun menyanggahnya,”kamu pembohong besar”, lalu Ustadz tersebut melantunkan empat ayat terakhir surat al-Hasyr. Jin itu teriak-teriak kesakitan, lalu dia mengaku jin yang datang saat pasien mengamalkan amalan, dan ia juga berjanji untuk segera keluar. Dan si pasien pun siuman kembali, alhamdulillah.

Muhammad Luthfi Ghozali beranggapan bahwa dengan amalan tertentu, malaikat yang dijadikan Allah sebagai qarin manusia bisa dijadikan khadam atau pelayan pribadi. Itulah anggapan salah yang banyak diyakini oleh saudara Luthfi. Dan itulah argumentasi naif yang sering dipakai oleh orang yang mengaku sakti, dan ia mengklaim kesaktiannya itu berasal dari khadam malaikat bukan jin. Lalu ia membagikannya keorang lain dengan memasang tarif atau maskawin. Atau ia berusaha mewariskan kesaktiannya kepada siapa saja yang ingin berguru kepadnya atau menjadi muridnya. Karena ia mengklaim bahwa khadamnya malaikat, maka banyak orang yang tidak ragu lagi untuk memiliki, mempelajari dan mewarisi ilmu tersebut.

Bahkan khasiat yang ditawarkan pun beragam, ada yang dikatakan sebagai khadam penarik dana ghaib, pelindung dan perisai diri dari kejahatan, penolak bencana, membentengi diri dari kejahatan, penolak bencana, membentengi diri dari gangguan sihir dan jin. Mengobati berbagai macam penyakit, memudahkan jodoh, menjadikan kulit kebal senjata tajam, dan lain sebagainya.

Sekali lagi kami tegaskan di sini, bahwa malaikat itu adalah tentara Allah yang hanya tunduk kepada Allah. Ia sangat disiplin untuk menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya. Allah SWT berfirma, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.“ (QS.at-Tahrim: 6).

Kalau begitu siapa lagi yang datang ke orang yang melakukan ritual menyimpang, kalau bukan jin jahat atau syetan laknat. Karena qarin manusia yang berasal dari malaikat punya tugas khusus, dan ia bukanlah khadam manusia.

Kita Perlu Allah, Bukan Khadam

“Dan ingatlah (pada waktu) Alah SWT mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada malaikat: ‘ apakah mereka itu dahulunya menyembah kamu?’ para malaikat menjawab: ‘ Maha suci Engkau, Engkaulah pelindung kami bukan mereka, justru mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS.Saba’: 34).

Malaikat adalah makhluk yang hanya tunduk dan patuh kepada perintah Allah SWT, bukan perintah manusia. Yugas mereka adalah mengabdi kepada Allah, bukan mengabdi kepada manusia, apalagi menjadi budak dan Khadamnya. Kita sebagai orang mukmin harus mengimani adanya malaikat secara benar, dan tidak mengkultuskannya. Apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu Allah atau tandingan-Nya. Kita tidak boleh minta bantuan kepada para malaikat tanpa terkecuali, termasuk malaikat Jibril. Karena minta bantuan kepada mereka untuk melindungi diri, memajukan usaha, menolak bencana, atau menyembuhkan penyakit dan yang lainnya adalah tindakan syrik dan menduakan Allah SWT.

Bermula dari pemahaman yang salah tentang malaikat dan kiprah mereka di kalangan manusia, akhirnya lahir keyakinan yang menyimpang. Ada para penganut tariqat sufi yang menjadikan malaikat sebagai perantara atau kurir (berdoa dengan bertawassul pada malaikat) untuk mengantarkan do’a nya kepada Allah. Dan ada juga yang menjadikan malaikat sebagai sekutu Allah, ia memohon pertolongan kepada mereka. Bahkan ada juga yang menjadikan malaikat sebagai tuhan yang disembah. Allah berfirman, “Dan dia (Nabi) tidak menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah patut ia menyuruhmu kepada kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?“ (QS. Ali ’Imran:80).

Kalau kita memohon kepada malaikat dengan ritual atau wirid tertentu, lalu datang sosok ghaib untuk mengabulkan permintaan atau memberi bantuan, maka ketahuilah bahwa itu tipu daya syetan. Syetan datang untuk menjerat manusia dengan kesyirikan. Memang, syetan tidak secara langsung atau menunjukkan jati dirinya lalu menyuruh manusia menyembahnya. Tapi mereka mengelabui manusia dengan datang sebagai sosok malaikat. Malaikat palsu itu datang dengan menampakkan diri sebagai sosok orang yang alim dan shalih. Menasehati manusia dengan kebaikan, membantunya saat dalam kesusahan. Lalu bersedia menjadi khadamnya.

Kalau sudah begitu, bukanlah setan yang bersosok malaikat itu yang menjadi khadamnya. Justru manusia itulah yang menjadi khadam syetan dan budaknya. Syetan dengan mudah memperdayainya, dan manusia itupun dengan mudah menuruti instruksi syetan bersosok malaikat. Ketika seorang manusia merasa ia mempunyai khadam ghaib. Maka, cepat atau lambat rasa tawakal dan bergantungnya kepada Allah SWT  akan berkurang, dan akhirnya terkikis habis. Bila ditimpa masalah ia berharap khadamnya datang membantunya. Kalaupun tidak datang juga, ia akan melakukan ritual yang telah dipesankan untuk memanggilnya. Mereka tidak menyadari bahwa syetan telah mempermainkannya.

Sebetulnya al-Qur’an telah mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap tipu muslihat syetan yang bersosok malaikat. Pada hari kiamat nanti, Allah akan bertanya kepada para malaikat-Nya tentang perbuatan orang-orang musyrik yang telah menjadikannya sebagai tuhan. Tapi para malaikat membantah tuduhan iitu, karena yang mereka sembah sesungguhnya adalah jin atau syetan, bukan malaikat seperti yang diyakini manusia tersebut. Al-Qur’an berkata: “ Dan ingatlah (pada waktu) Allah mengumpulakn mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada para malaikat:’Apakah mereka itu dahulunya menyembah kamu?’ Para malaikat menjawab:’Maha suci Engkau, Engkaulah pelindung kami bukan mereka, justru mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu“. (QS. Saba:34).

Jebakan syetan yang bersosok malaikat sebetulnya bisa kita hindari, jika kita konsisten terhadap janji dan ikrar kita kepada Allah SWT. Kita sudah berikrar dalam setiap rakaat shalat. Yaitu saat kita membaca surat al-Fatihah, “ hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya keada Engkaulah kami memohon pertolongan.“ (QS.al-Fatihah:5). Dan ingatlah selalu akan pesan Rasulullah,“Jika kamu meminta (sesuatu), mintalah kepada Allah SWT. Dan jika kamu memohon pertolongan kepada Allah   SWT.“ (HR. Tirmidzi dan dinyatakan sebagai hadits hasan sahih).

Kita tidak butuh perantara dalam meminta sesuatu atau memohon pertolongan kepada Allah. Apalagi dengan memohon kepada makhluk-Nya termasuk para malaikat. Al-Qur’an memberitahu kita, ”Dan Tuhanmu berfirman:’berdo’alah kepadaku, niscaya akan aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hinia dina.” (QS.al-Mukmin: 60)

Lihatlah bagaimana cara Rasulullah memohon pertolongan kepada Tuhannya. Saat pasukan Islam berhadapan dengan pasukan kafir dalam perang Badar, jumlah pasukan Islam sepertiga dari pasukan musuh. Rasulullah terus berdo’a kepada Allah. “Ya Allah, penuhilah bagiku apa yangengkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu.” Dan tatkala pertempuran berkobar dan semakin sengit, Rasulullah berdo’a lagi.“Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah selamanya setelah hari ini.“

Begitu larut dan khusu’nya Rasulullah dalam berdo’a dan bermunajat, sehingga tanpa disadari sorbannya jatuh dari pundaknya. Abu Bakar memungutnya lalu mengembalikan ke pundaknya seraya berkata, “ Cukuplah bagimu wahai Rasulullah untuk terus menerus berdo’a kepada Allah“. Setelah itu turunlah ayat, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.“(QS.al-Anfal: 9).[4]

Ketahuilah wahai saudara Luthfi, dalam kondisi genting dan sulit seperti itu, Rasulullah tidak minta bantuan kepada malaikat, baik malaikat yang qarinnya maupun yang menjaganya. Kepada Allah-lah Rasulullah memanjatkan do’a dan memohon pertolongan. Allah Maha Tahu dan Maha Kuasa bagaimana cara untuk menolong hambanya yang sedang dalam kesulitan. Kita tidak bisa memastikan, apakah Allah akan mengutus tentaranya yang terdiri dari malaikat. Atau Allah mengutus makhluk-nya yang lain seperti angin topan, badai, banjir, tsunami, longsor, gempa. Atau hati orang yang bermaksud jahat kepada kita dijadikan menciut dan kabur. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Kita sebagai hamba, hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan berdo’a kepada-Nya, kemudian bertawakal serat ikhlas menghadapi ketentuan-Nya.

Pasukan Berani Mati, Santet, dan Gus Dur Malaikat

Ustadz Hartono Ahmad Jaiz


Massa Pro Gus Dur masuk lagi ke Jakarta. Mereka dibekali berbagai jimat dan ilmu. Di antara pendukung Gus Dur yang memiliki daya linuwih (melebihi orang biasa) itu adalah Pasukan Berani Mati dari Banyuwangi. Pasukan berani Mati (PBM) yang dikomandani oleh Abdul Latief tersebut mulai bergerak melalui jalur darat dari Banyuwangi pada hari Minggu (18 Maret 2001). Bila gelombang pertama jumlahnya hanya 500 orang, diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Pasalnya, di Banyuwangi sendiri sempat beredar formulir pernyataan kesiapan mati demi membela Gus Dur.[1]

Apa yang dilakukan pendukung Gus Dur itu paling kurang ada 2 pelanggaran besar terhadap Islam. Pertama, mereka pakai jimat. Kedua, mereka siap mati demi Gus Dur.

Masalah jimat, ada larangannya, jelas:

من تعلق تميمة فقد أشرك.

Barangsiapa menggantung-gantungkan jimat maka sungguh benar-benar dia telah syirik—menyekutukan Allah, dosa terbesar– . (Hadits Riwayat Ahmad).

إن الرقى والتمائم والتولة شرك. قالوا يا أبا عبد الرحمن هذه الرقى والتمائم قد عرفناها، فما التوالة؟ قال: شيء يصنعه النساء يتحببن به إلى أزواجهن.

Sesungguhnya tangkal, azimat, dan tiwalah itu adalah kemusyrikan. Para sahabat kemudian bertanya: Wahai Abu Abdir Rahman, tangkal (mantra-mantra) dan jimat itu kami telah tahu, tetapi apakah yang namanya tiwalah itu? Ia menjawab: Tiwalah (pelet) adalah sesuatu yang dibuat oleh para wanita supaya dengan tiwalah (pelet) itu dicintai oleh suami-suami mereka.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim).

Larangan memakai aji-aji, kekebalan atau supaya dogdeng (tidak mempan dibacok):

عن عمران بن حصين رض. أن النبي ص م. رأى رجلا في يده حلقة من صفر فقال : ما هذه ؟ قال من الواهنة. فقال : انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا فإنك لو مت وهي عليك ما أفلحت أبدا. (رواه أحمد بسند لا بأس به).

“Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, “Bahwa Nabi melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, “Apakah ini?”  Orang itu menjawab: “Penolak lemah”. Maka bersabda Nabi kepada orang itu, “Tanggalkanlah gelang itu, karena ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, dan apabila kamu mati sedangkan ia masih di tanganmu, tentulah engkau tidak akan selamat selama-lamanya.” (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba’sa bih).        

Adapun Pasukan Berani Mati demi Gus Dur, maka mereka itu jelas-jelas keberaniannya itu merupakan tingkah yang diingkari oleh Rasulullah saw dan pelakunya tidak diakui sebagai golongan umat Nabi Muhammad saw. Sedang kalau mati, maka ia tidak termasuk golongan umat Nabi Muhammad saw.

ليس منا من دعى إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على عصبية. (رواه أبو داود).

Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan ‘ashobiyah (fanatisme kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.” (HR Abu Dawud).

Anehnya, yang menyerukan untuk berbuat seperti itu, bahkan yang mengisi jimat, kekebalan, atau ilmu yang dianggap bisa mendatangkan bala’ terhadap lawan itu justru para kiyai NU. Buktinya, KH Noer Muhammad Iskandar SQ tokoh NU, dalam suatu wawancara dengan terus terang mengakuinya:

Pertanyaan: Ilmu tersebut dimiliki lewat jimat atau benda apa?

Jawab KH Noer Muhammad Iskandar SQ: Ada yang memang bentuk ajimat, tapi kalau di pesantren kebanyakan mereka ambil dari ayat-ayat suci Al-Qur’an. Kata Nabi dulu, orang dengan membaca bismillahir rahmanir rahiem sebanyak 113 kali bisa berjalan di atas air. Nah, sebagaimana dengan membaca ayat sebanyak itu, kita bisa memiliki kekuatan tersebut. Tentu ada proses-proses lainnya.

Pertanyaan: Tekanan terhadap anggota DPR oleh massa Pro Gus Dur tampaknya juga menggunakan cara lain, misalnya, adanya Pasukan Berani Mati. Kekuatan itu diperoleh dari mana?

Jawab KH Noer Iskandar SQ: Sebenarnya dalam dunia pesantren, ilmu-ilmu semacam itu tidak aneh lagi. Karena para santri yang umumnya mendalami berbagai macam kitab agama, juga dibekali ilmu kekebalan tubuh. Kekuatan itu akan muncul sesuai dengan batin mereka sendiri…. Di samping itu, ada juga yang mendapatkan ilmu dari para ulama khos.

Apakah ada syarat khusus?

Jawab: Biasanya mereka memperolehnya sebelum menikah, karena pada saat sebelum menikah itu ujian dan godaannya sangat berat. Kalau mereka lulus, ya ilmu itu memang cocok untuk dirinya. Di samping itu, syarat yang tak kalah penting adalah mereka mesti taat dan patuh atas perintah gurunya. Mereka itu, istilahnya nyantri. Artinya, mereka mengabdikan dirinya pada guru-gurunya itu. Batas pengabdian itu tergantung gurunya. Ada yang cuma 40 hari, tapi ada yang sampai berpuluh-puluh tahun. Makin lama dia nyantri sama gurunya, biasanya tingkat kesempurnaan itu makin baik. Dan sulit ditandingi orang lain, kecuali gurunya sendiri. (Tabloid Aksi, vol 5 no. 314, 22-28 Maret 2001, halaman 6).

Betapa ngerinya mendengar jawaban Kyai Noer Iskandar itu. Justru yang menyebarkan ilmu kebal yang telah dilarang dalam Islam itu para Kiyai pesantren lingkungan NU. Masih pula Kiyai Iskandar menimpakannya kepada Nabi saw seolah beliau adalah seperti para kiyai yang pada hakekatnya adalah dukun-dukun itu. Na’udzubillahi min dzalik. Mau dikemanakan orang-orang NU ini oleh para Kiyai dukun yang menyebarkan perdukunannya di pesantren-pesantren dengan memperbudak santri-santrinya sampai berpuluh-puluh tahun untuk mengabdi pada sang kiyai-kiyai dukun hanya agar menjadi orang yang tidak termasuk ummat Nabi Muhammad saw itu?

Tidak mengherankan, hasilnya seperti pengakuan Komandan Lapangan PBM (Pasukan Berani Mati) –demi Gus Dur–, Arifin Salam  dalam wawancara seperti berikut ini:

T: Apa sebenarnya tujuan anda datang ke DPR/ MPR?

J: Kami datang sebenarnya dalam rangka menggugat sekaligus minta memorandum itu dicabut. Oleh karena itu kami datang bukan untuk dukung-mendukung Gus Dur. Jadi kami datang untuk menegakkan perbuatan-perbuatan yang merusak konstitusi.

T: Maksudnya bagaimana?

J: Kami bersedia mati untuk tegaknya konstitusi. Kami teriak-teriak bukan hanya berani dalam ruangan, tapi ini benar-benar murni untuk konstitusi yang telah ditegakkan para pendiri bangsa ini. Oleh karena itu, kepergian saudara-saudara ini dari tempat yang jauh sudah direlakan isteri-isterinya. Bahkan, isteri-isteri mereka sudah siap menjadi janda.

T: Apakah kalau mati ada jaminan bahwa kubu Gus Dur akan merawat anak isteri Anda?

J: Bukan itu persoalannya, kami datang ke sini untuk memerangi pemberontak. Dan memerangi bughat (pemberontak) itu hukumnya mati syahid. Yang saya maksud para bughat itu adalah mereka yang mengacak-acak konstitusi.

T: Siapa yang anda maksud dengan bughat yang halal untuk diperangi?

J: Pelaku-pelaku bughat itu mereka yang melecehkan dan menghancurkan konstitusi, misalnya Amien Rais.Tapi bukan dia saja, lho, semua yang termasuk bughat itu mesti diperangi.

T: Berarti target dari pasukan Berani Mati ini adalah Amien Rais?

J: Bukan itu maksudnya. Tapi sejauh mana wakil rakyat ini bisa menjalankan fungsinya, sehingga tidak menjadi bughat.

T: Jadi, tuntutan Pasukan Berani Mati itu apa?

J: Kami minta agar memorandum itu dicabut, karena ini bentuk pelecehan. Bahkan, katanya, malah akan diberi memorandum kedua. Ini bisa makin gawat.

T: Apa konsekuensinya, jika permintaan itu tak dikabulkan?

J: Kami akan terus bergerak untuk mempressure DPR.

T: Mengapa begitu berani mati untuk konstitusi? Pasukan ini dibekali kekuatan apa saja?

J: Begini, ya, dasar dari keberanian mereka itu adalah religius. Di samping itu, memang mereka ada yang dibekali beberapa ilmu. Misalnya ilmu kekebalan tubuh, dan ilmu anti peluru.

T: Apakah ilmu dari kekuatan ini efektif untuk menangkal berbagai serangan aparat?

J: Kita bukan untuk melawan aparat, tapi ilmu itu akan keluar dengan sendirinya, artinya muncul seiring aksi yang spontan.

T: Dari mana mereka mendapat ilmu kekebalan itu?

J: Dalam hal ini mereka ada yang memiliki secara sendiri-sendiri, ada yang melakukan lewat puasa selama seminggu, satu bulan. Dan, ada yang memang diisi.

T: Berapa jumlah PBM yang siap tempur?

J: Semua total sekitar 500 orang. Yang datang ke DPR/MPR hanya 45 orang. Sedang sisanya ditempatkan di beberapa lokasi yang rawan, misalnya Istana, Monas, Kramat dan lain-lainnya.

T: Seberapa kuat tingkat kekebalan mereka pada senjata?

J: Kalau memang anda mau lihat, saya akan panggil beberapa orang, silakan anda sendiri yang melakukannya, misalnya pakai pedang, golok, pistol, benda-benda lainnya.

T: Kapan PBM ini pulang?

J: Tergantung situasi.

T: Apa kaitan PBM dengan PBNU?

J: Saya pikir, kami tidak ada ikatan dengan PBNU. Jadi, kami tidak tergantung dari PBNU.

T: PBM ini kebanyakan personilnya dari mana saja?

J: Sebagian besar dari Banyuwangi. Dan, kedatangan kami semata-mata untuk menegakkan konstitusi. Kami ingin agar konstitusi ini dihormati semua pihak. (Aksi, 22 Maret 2001, halaman 5.).

Ada bebarapa masalah yang dilakukan oleh Pasukan Berani Mati itu. Katanya untuk membela konstitusi, tetapi mengaku berjihad melawan apa yang mereka namakan bughat (pemberontak), lalu menghalalkan darah Amien Rais dan lain-lain yang mereka anggap bughat.

Di samping mereka telah melanggar aturan terbesar dalam Islam yaitu larangan kemusyrikan karena mereka memakai kekebalan, dan memamerkannya sampai mau beratraksi di depan wartawan, masih pula menghalalkan darah Amien Rais ketua MPR dan orang-orang DPR lainnya. Betapa besar dosa yang dipikul oleh para kiyai dukun dan kiyai-kiyai provokator yang telah mengisi kekebalan dan menyuruh atau mengizinkan 500-an Pasukan Berani Mati demi Gus Dur ini. Keizinan dengan menghalalkan darah seorang muslim tanpa haq itu saja kalau sampai terlaksana insya Allah sudah bisa memasukkan neraka selama-lamanya. Belum lagi masalah kemusyrikan yang mereka sebarkan, dan juga isian aji-aji dogdeng (ilmu kebal). Belum lagi keterjerumusan Pasukan Berani Mati ini. Semua itu dosanya melimpah pula kepada para kiyai-kiyai dukunnya dan para provokatornya. Belum lagi pengajaran salah tentang bughat yang mereka tanamkan kepada orang awam yang dijadikan Pasukan Berani Mati demi Gus Dur.

Ancaman Santet dan ‘Ashobiyah

Pembelaan terhadap Gus Dur bukan hanya mengenai masalah yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai presiden. Bahkan tentang skandalnya pun mereka bela.

Pada tahun 2000 merebak berita tentang skandal Gus Dur dengan Ariyanti Boru Sitepu. Fotonya beredar luas, Gus Dur bercelana pendek memangku Ariynti yang berstatus isteri orang. Terhadap merebaknya berita skandal itu, seorang Kiyai bernama Chalil Bisri dari Rembang Jawa Tengah, tokoh terkemuka NU, dan bahkan termasuk penggagas didirikannya PKB, membela Gus Dur dengan ungkapan yang di luar batas kewajaran seorang Muslim, seperti berita berikut ini:

…Kalangan ulama Nahdliyin (Nahdlatul Ulama/ NU, pen) dengan terang-terangan membela mati-matian Gus Dur. Kyai Cholil Bisri misalnya bahkan secara “gila-gilaan” berpendapat apa yang dilakukan Gus Dur dengan fakta gamblang dalam foto  memangku wanita bukan isterinya itu dianggapnya sebagai hal yang wajar saja. Ia malah mengaku dirinya juga akrab dengan santri-santri watinya, juga dengan tokoh artis seperti Neno Warisman. Akrab yang ia maksudkan tentu saja setara dengan foto Gus Dur memangku Aryanti Boru Sitepu. Na’udzubillahi min dzalik! Belum apa-apa, bahkan tokoh NU ini mengancam jika ia diperlakukan seperti Gus Dur ia mengancam semua yang menyebar-nyebarkan berita slingkuh itu akan ia santet, tidak peduli apakah itu dosa atau tidak. (Media Dakwah, Rajab 1421/ Oktober 2000, halaman 8-9).

Pembelaan seperti itu tampak sekali tidak mempertimbangkan benar atau tidaknya tingkah Gus Dur, yang penting asal bela. Itulah tingkah dan sikap nyata Kiyai NU, dalam hal ini dilakukan oleh Kiyai Chalil Bisri. Pembelaan asal bela, tak mau tahu yang dibela itu salah atau benar, itu adalah satu sikap áshobiyah, yaitu tingkah dan ciri utama orang Jahiliyah dahulu kala. Datangnya Islam adalah untuk memberantas Jahiliyah, yang di antara sikap jelek terutamanya adalah ‘ashobiyah itu.

‘Ashobiyah atau Ta’asshub, menurut Dr A Zaki Badawi, adalah fanatisme, yaitu berlebih-lebihan (ghuluw) dalam bergantung dengan seseorang atau ideologi (fikrah), atau prinsip, atau kepercayaan (bukan fanatik dengan aqidah Islam, kalau fanatik dalam hal aqidah Islam maka baik, pen) di mana (kefanatikan terhadap seseorang, kelompok dan lain-lain itu)  tidak menyisakan tempat untuk toleransi, dan kadang membawa kepada kekerasan dan berani mati.[2]

Sikap seperti itu sangat dilarang oleh Nabi saw dengan sabdanya:

ليس منا من دعى إلى عصبية، وليس منا من قاتل على عصبية، وليس منا من مات على عصبية. (رواه أبو داود).

Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan ‘ashobiyah (fanatisme kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk (golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.” (HR Abu Dawud).

Tentang membela golongannya yang dalam keadaan salah, Nabi saw melarangnya pula, dengan sabdanya:

من نصر قومه على غير الحق، فهو كالبعير الذي ردي فهو ينزع بذنبه.

Barangsiapa membela kaumnya tidak berdasarkan kebenaran , ia ibarat seperti unta roboh lalu ia mau berdiri dengan ekornya.” (Tafsir Ibnu Katsir, seperti dikutip Sayyid Abil Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi dalam Madza Khosirol ‘alamu bin khithotil Muslimin, Darul Kitabil ‘Arabi, Beirut,  cetakan  ke-7, 1967/ 1387H, halaman 100).

Tentang ancaman santet yang dilancarkan kiyai itu dengan tidak perduli dosa atau tidak; maka ucapan dan sikap seperti itu merupakan penentangan terhadap Islam benar-benar. Sudah berani melanggar, masih menentang Islam dengan cara tidak mau perduli apakah itu berdosa atau tidak.

Tentang santet atau sihir atau tenung itu sendiri dalam Islam termasuk perbuatan dosa besar.

من عقد عقدة ثم نفث فيها فقد سحر ومن سحر فقد أشرك.

Barangsiapa yang mengikat bundelan (simpulan), kemudian menghembusnya, maka sesungguhnya dia menyihir, dan orang yang menyihir maka sungguh ia telah syirik (menyekutukan Allah)”. (Hadits Riwayat An-Nasa’i dari Abu Hurairah).

اجتنبوا الموبقات: الشرك بالله والسحر. (رواه البخاري).

“Jauhilah hal-hal yang mencelakakan kamu, yaitu syirik kepada Allah dan sihir.” (HR Al-Bukhari).

عن حفصة رضي الله عنها أنها أمرت بقتل جارية لها سحرتها فقتلت. (رواه البخاري).

Hadits dari Hafshah ra mengatakan bahwa ia diperintahkan membunuh budak wanita yang menyihirnya, kemudian ia membunuhnya.” (HR Al-Bukhari).

عن بجالة قال كتب عمر بن الخطاب : أن اقتلوا كل ساحر وساحرة . قال فقتلنا ثلاث سواحر. (البخاري).

Hadits dari Bajjalah mengatakan, bahwa Umar bin Khatthab menetapkan, supaya kamu bunuh semua penyihir laki-laki dan wanita. Bajjalah berkata, “kami telah membunuh tiga orang penyihir.” (HR Al-Bukhari).

Setelah jelas masalahnya, betapa besar pelanggaran kiyai itu, yaitu membela pemimpin kelompoknya tidak berdasarkan kebenaran, dan masih sesumbar dengan mengadalkan santet atau sihir, maka tidak mengherankan kalau orang awamnya atau wadyabalanya ada yang menamakan dirinya PBM (Pasukan Berani Mati) demi Gus Dur, yang mereka itu mengandalkan ilmu kebal seperti dalam uraian di atas.

Gus Dur Dianggap Malaikat

Pembelaan lain ada pula dengan jalan mengkultuskan Gus Dur sebagai malaikat atau di dadanya ada malaikatnya. Berikut ini beritanya:

Sebanyak 36 Kiyai, pengasuh pondok pesantren, dan guru NU dari empat kabupaten di Jawa Timur, mendatangi Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/1 2001). Mereka meminta pimpinan DPR mempertahankan Presiden Abdurrhman Wahid dan Wapres Megawati Sukarno Putri sampai 2004.

Ketu DPR Akbar Tanjung menemui rombongan yang dipimpin Fawaid As’ad Syamsul Arifin, pimpinan Pondok Pesantren (ponpes) Salafiyah Syafe’i, Situbondo. Dalam pertemuan itu, mereka juga berharap perbedaan pendapat di antara elite politik cukup dijadikan wacana, jangan mempengaruhi masyarakat bawah.

Wakil ketua DPR RI, Tosari Widjaya, Wakil Ketua Komisi II Ferry Mursyidan Baldan, dan anggota Komisi II Yahya Zaini ikut mendampingi Akbar menemui rombongan dari Kab Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember itu.

Menurut Lukman Yasir dari Jember, bagi orang NU, Abdurrahman Wahid bukan  sekadar presiden, tapi juga malaikat. “Gus Dur bukan saja tangannya yang harus dicium, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikat,” ungkapnya.

Lukman lantas menyuruh Akbar membaca surah Al-Fatihah sebanyak 2000 kali. “Pasti bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi,” kata Lukman. (Harian Republika, Kamis 25 Januari 2001, halaman 16).

Sejumlah kiai dari Jawa Timur itu di antara mereka ada yang mengatakan, Gus Dur itu di dadanya ada malaikatnya, makanya tidak cukup disalami dengan mencium tangannya, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikatnya. Di samping itu, kata kiai ini, kalau membaca surat Al-Fatihah 2000 kali, pasti ketemu ruh Gus Dur dalam mimpi.

Ungkapan Kiyai semacam itu menurut Islam telah menyangkut hal ghaib. Islam menegaskan, hal-hal yang ghaib itu hanya Allah SWT yang tahu. Demikian pula keberadaan malaikat,  termasuk hal ghaib. Jadi hanya Allah yang tahu. Sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur’an:

Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri….” (QS Al-An’aam/ 6: 59).

Apabila mengatakan hal ghaib tidak berlandaskan keterangan dari wahyu ( Al-Qur’an ataupun Hadits Nabi saw yang shahih) maka orang itu telah melanggar ayat-ayat Al-Qur’an. Di samping itu, telah mengaku-aku dirinya mengetahui hal ghaib, yang hal itu Nabi saw pun tidak pernah melakukannya. Sedangkan berita-berita tentang hal ghaib yang disampaikan oleh Nabi saw tak lain hanya karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT.

Berikut ini  sebuah hadits yang menegaskan betapa kita harus hati-hati mengenai hal ghaib.

Bahwa Utsman bin Madh’un ra, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang Rasulullah saw hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan (shahabiyyah) Ummu Al-‘Ala’ berkata, “Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (“Utsman bin Madh’un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu”. Maka Rasulullah saw membantahnya dengan berkata:

وما يدريك أن الله قد أكرمه؟

“Apa yang menjadikan kamu tahu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?”

Ini adalah peringatan yang besar dari Rasulullah saw kepada sahabat wanita ini karena dia telah menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut keghaiban. Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal ghaib kecuali Allah SWT. Tetapi shahabiyyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata:

Subhanallaah, ya Rasulallah!! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan kalau Dia tidak memuliakannya?”  Artinya, jika Utsman bin Madh’un ra, tidak termasuk orang yang dimuliakan Allah SWT maka siapa lagi yang masih tersisa pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban yang sangat mengena dan signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul saw menolaknya dengan ucapan yang lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:

والله إني لرسول الله لا أدري ما يفعل بي غدا.

“Demi Allah, saya ini benar-benar utusan Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa yang Dia perbuat padaku esok.”

Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah. Dan di sinilah Ummu Al-‘Ala’ sampai pada hakekat syara’ yang besar, maka dia berkata:       “Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci terhadap seorang pun selama-lamanya.” (HR Al-Bukhari 3/385, 6/223 dan 224, 8/266 dalam Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummi Al-‘Ala’ Al-Anshariyyah bi nahwihi).

Dengan demikian, ummat Islam wajib menolak ucapan siapapun menyangkut hal ghaib, kecuali ada dalilnya (ayat atau hadits yang shahih).

Kemudian tentang saran agar membaca  Al-Fatihah 2000 kali supaya bisa bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi itu mengandung dua masalah besar.

Pertama, masalah membuat syari’at berupa membaca surat Al-Fatihah 2000 kali. Ini merupakan pelanggaran, sebab tidak ada yang berhak membuat syari’at kecuali Allah SWT. Sekalipun membaca Al-Fatihah itu baik, namun kalau disyaratkan dengan bilangan 2000 kali, itu harus ada dalilnya. Kalau tidak (dan memang tidak ada dalilnya), maka artinya adalah membuat syari’at baru. Ini tidak ada hak bagi siapapun, karena syari’at telah sempurna. Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan  kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3).

Nabi Muhammad saw bersabda:

Jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dia berkata hadits hasan shahih).

Dan pada riwyat lain:

“Barangsiapa melakukan amalan, bukan atas perintah kami, maka amalan itu tertolak.” (Diriwayatkan Muslim).

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan darinya, maka itu adalah tertolak.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Jadi, mensyaratkan dengan membaca Al-Fatihah 2000 kali itu jelas bid’ah, tertolak, karena tidak ada di dalam perintah Allah mupun Rasul-Nya.

Masalah kedua, berbicara tentang ruh, itu hanya Allah SWT yang tahu. Orang yang menjanjikan akan bisa bertemu dengan ruh seseorang dengan syarat tertentu ataupun tanpa syarat, itu telah melanggar batas-batas yang diperkenankan Islam. Bagaimana bisa, orang yang tidak diberi wewenang mengurusi ruh, bahkan tahu saja tidak, akan bisa menentukan pertemuan dengan ruh. Nabi saw  yang jelas utusan Allah pun ketika ditanya tentang ruh, maka Allah menyuruhnya untuk menjawab dengan ucapan bahwa ruh itu termasuk urusan Allah SWT.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Israa’/ 17: 85).

Ayat itu jelas. Namun, kemungkinan orang yang mengaku-ngaku bisa mengurusi ruh hingga berani memberi syarat-syarat untuk mempertemukan ruh itu akan melandasi kesesatannya dengan menyelewengkan penafsiran ayat tersebut, sebagaimana yang pernah saya dengar langsung dari seorang pembela tasawuf sesat bahwa lafal min amri robbii itu artinya bukan “termasuk urusan Tuhanku” tetapi ia artikan: “termasuk alam amr Tuhanku”. Jadi ruh itu menurut pandangan pembela sufi sesat ini, adalah termasuk alam amr (salah satu jenis alam) Tuhan. Orang itu tidak menjelaskan, dari mana dia memperoleh penafsiran yang sangat aneh dan menyeleweng itu. 

Kebohongan-kebohongan semacam itu –yaitu mengaku-ngaku dengn mampu memastikan akan bertemunya ruh dengan ruh—itu bukan kebohongan biasa, namun berakibat fatal, yaitu rusaknya aqidah/ keimanan.

Kalau rombongan Kiyai yang datang ke Jakarta untuk melabrak ketua DPR saja kepercayaannya sesesat itu, maka betapa lagi kiyai-kiyai yang semodel dengannya yang tak berani melabrak ke Jakarta. Dan betapa amburadulnya lagi kepercayaan para murid-muridnya dan orang awam yang di bawah tipuan kebohongan mereka.

Dan sangat memprihatinkan sekali, kenapa pengucapnya itu disebut kiyai atau ulama.

Itu belum pembelaan-pembelaan ngawur yang sifatnya mengadakan pengrusakan sarana-sarana Ummat Islam seperti merusak masjid, madrasah, dan kantor-kantor Muhammadiyah plus Al-Irsyad serta HMI di berbagai tempat. Kalau kantor-kantor Golkar yang dibakar atau dirusak di mana-mana, itu tak ada urusan dalam buku ini, masalahnya buku ini lebih memfokuskan pada urusan Ummat Islam atau bahkan agama Islam itu sendiri. Termasuk penghalangan jalan dengan menebangi pohon lalu dihalangkan ke sepanjang jalan di sebagian wilayah Jawa Timur, serta penutupan pelabuhan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang menghubungkan Jawa-Bali yang dilakukan para pendukung Gus Dur, itu adalah salah satu bentuk dukungan terhadap Gus Dur dalam bentuk perusakan atau merugikan kepentingan umum.

Betapa ngerinya memandang sosok-sosok model itu. Sudah aqidah mereka itu rusak tidak keruan, masih pula perbuatannya pun merusak dan merugikan Islam. Semua itu bisa serempak dan meluas serta membesar bahaya pengrusakannya lantaran ada wadahnya.

Berarti telah sukseslah para perintis pembikinan wadah itu yang telah bercapek-capek untuk mewujudkan adanya wadah yang mereka perjuangkan sejak zaman penjajahan Belanda. Dan itulah yang insya Allah jadi bekal di alam baqa’ yang ganjarannya senantiasa mengalir selama wadah itu masih difungsikan, atau ajaran wadah itu masih diamalkan orang.

Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita sekalian. Amien, ya Robbal ‘aalamien.


[1] Tabloid Aksi, vol 5 No 314,  22-28 Maret 2001, halaman 4-5).

[2] Dr A Zaki Badawi, A Dictionary of The Social Sciences, Engleish- French- Arabic, Librairie du Liban, Beirut, cetakan pertama., 1978, halaman 154.

Dikutip dari buku: ” Bila Kyai Menjadi Tuhan, Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional.” Karangan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Penerbit: Pustaka AL-Kautsar. Jakarta

[1] (Kamus besar bahasa Indonesia: 705)

[2] (kitab ’Alamaul Malaikatil Abrar: 7).

[3] (kitab Alamu Malaikatil Abrar: 48).

[4] Lihat sirah Nabawiyah oleh al-Mubarakfuri: 284-285

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: