MUQADDIMAH ADMIN

Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada pemimpin kita, penutup para nabi dan rasul, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kepada kerabat, para sahabat dan siapapun yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Dengan Rahmat dan Pertolongan Allah akhirnya kami bisa menyelesaikan buku ini yang membantah secara lugas dan tegas akan syubhat dan kesesatan pemikiran para penentang ruqyah syar’iyyah, yang mencoba meracuni fikiran umat Islam dengan membuat buku berjudul “ Ruqyah dampak dan bahayanya” yang ditulis oleh Muhammad Luthfi Ghozali. Mereka ini sesungguhnya adalah orang-orang yang mulai gusar dengan mulai maraknya penyembuhan ruqyah syar’iyyah, sebab dengan mulai maraknya ruqyah syar’iyyah maka metode ruqyah syirkiyyah yang mereka lakukan telah banyak ditinggalkan masyarakat.

Sesungguhnya saya, pernah membaca artikel saudara Muhammad Luthfi Ghozali yang dimuat koran Suara Merdeka edisi hari jum’at tanggal 30 Desember 2005 dan saya juga mendapatkan artikel yang sama di majalah Alkisah[1]pada rubrik serambi. Ketika saya membaca artikel baik di harian Suara Merdeka maupun majalah Alkisah terlihat sekali saudara Muhammad Luthfi Ghozali pengetahuannya tentang ruqyah syar’iyyah sangat minim, dia sama sekali tidak bisa membedakan antara ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirkiyyah. Selain itu semua opininya sangat bertentangan dengan pendapat para ulama yang jika dibaca oleh orang awam tentunya akan membahayakan akidah mereka.

Untuk lebih jelasnya mari kita baca opini saudara Muhammad Luthfi Ghozali mengenai pokok pembahasan “Ruqyah , Dampak dan Bahayanya” yang dia kirimkan pada harian Suara Merdeka dan majalah Alkisah pada tulisan dibawah ini:

Ruqyah, Dampak dan Bahayanya

Belakangan ini di sebagian masyarakat marak dilakukan ruqyah. yaitu dengan membaca ayat-ayat suci Alquran al-Karim oleh pelaku, kemudian para pendengarnya seketika menjadi bergelimpangan tidak sadarkan diri. Bahkan ada yang muntah dan kencing di tempat.

Para pendengar yang khusuk itu bareng-bareng kesurupan makhluk jin, lupa ingatan dan berteriak-teriak bagaikan orang gila.Para pelaku rugyah mengatakan bahwa apa yang dilakukan adalah sarana untuk mengeluarkan jin dari tubuh manusia.

Penulis berpendapat, apakah benar pelaksanaan yang tersebut di atas itu dikatakan ruqyah? Beberapa buku tentang ruqyah menuliskan bahwa ruqyah itu adalah sarana untuk mengobati orang sakit supaya menjadi sembuh.

Yang sering kita lihat belakangan ini, mengapa orang yang semula sadar, setelah dibacakan ayat-ayat suci Alquran menjadi hilang kesadarannya atau kesurupan setan jin, dan kemudian jin itu dikeluarkan lagi oleh para ustad yang katanya menggunakan tenaga dalam.

Mengeluarkan jin dari dalam tubuh manusia? Apakah itu tidak salah dalam pelaksanaan?

Bagaimana logikanya orang yang semula sadar menjadi tidak sadar dan bahkan dapat berakibat sakit yang berkepanjangan malah dikatakan ruqyah, yang artinya menyembuhkan orang sakit ?

Barangkali masih ada yang perlu diteliti lagi, bahwa pelaksanaan tersebut boleh jadi justru telah menyimpang dan menyalahi dari apa yang dimaksud dengan ruqyah itu sendiri. Marilah direnungkan. Seandainya kesadaran manusia yang sedang terganggu akibat dikuasai makhluk jin setelah diruqyah itu tidak dapat dipulihkan kembali sebagaimana semula, sehingga menjadi seperti orang gila dalam waktu yang berkepanjangan, berteriak-teriak sepanjang jalan seperti saat pertama kali dia kesurupan jin pasca diruqyah; maka apa jadinya dan siapa lagi yang dapat menolongnya serta bertanggung jawab atas semua itu?. Apakah para ahli rugyah itu mampu memberikan jaminan untuk selalu dapat memulihkan kembali kesadaran manusia yang sedang dikuasai makhluk jin.

Pelaku ruqyah selalu dengan bersusah payah memulihkan kesadaran itu, dan yang berhasil dipulihkan kemudian menjadi lemas seperti orang yang sedang sakit keras. Apakah pelaku ruqyah tidak berfikir bahwa orang itu memang sedang sakit keras akibat terluka, lebih-lebih luka itu berada di wilayah kesadarannya ?.

Penulis merasa perlu menanggapi kejadian seperti itu sebagai bentuk pengabdian yang hakiki seorang hamba yang dhoif kepada Tuhannya, demi keselamatan anak-anak cucu kita semua dari tipudaya dan gangguan setan jin yang terkutuk.

Penulis berpendapat bahwa yang dikatakan ruqyah tersebut bukanlah mengeluarkan jin dari tubuh manusia, akan tetapi justru membantu memasukkan jin untuk menguasai kesadarannya.

Mantra

Ruqyah menurut bahasa artinya mantra atau jampi – jampi. Sedangkan yang dimaksud menurut istilah ialah cara penyembuhan terhadap orang yang sedang sakit sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang zaman dahulu, yang kemudian sesuai dengan cara yang islami telah dibenarkan dan diperbolehkan oleh Baginda Nabi saw; sebagaimana contoh kejadian yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw. yang tersebut di dalam hadis yang artinya di bawah ini:

Diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri r.a ,” Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah saw sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah sebuah kampung Arab dan mereka berharap agar boleh menjadi tamu kepada penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Tetapi ada yang bertanya: Apakah ada di antara kamu yang bisa menjampi?, Karena ketua atau penghulu kampung kami terkena sengat. Salah seorang dari para Sahabat menjawab: Ya, ada. Lalu beliau menemui ketua kampung tersebut dan menjampinya dengan surat Al-Fatihah.

Kemudian ketua kampung tersebut sembuh, maka Sahabat tersebut diberi beberapa ekor kambing. Beliau tidak mau menerimanya dan mengajukan syarat: Aku akan menyampaikannya kepada Nabi s.a.w, beliau pun pulang menemui Nabi s.a.w dan menyatakan pengalaman tersebut.

Beliau berkata: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya menjampi dengan surat Al-Fatihah. Mendengar kata-kata itu, Rasulullah saw tersenyum dan bersabda: Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan jampi (ruqyah).

Kemudian baginda bersabda lagi: Ambillah pemberian mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kami [2]. Maka menurut hadis Nabi saw. di atas – dan hadis-hadis lain yang tidak mungkin dapat disampaikan di dalam pembahasan yang singkat ini, yang dimaksud ruqyah adalah membacakan mantra atau jampi-jampi, baik dengan ayat-ayat Alquran al-Karim maupun dengan kalimat doa kepada orang yang sakit, supaya sakitnya menjadi sembuh. Bukan kepada orang yang sehat wal afiat dan sadar – karena alasan-alasan tertentu – kemudian menjadi hilang ingatan atau hilang kesadarannya karena dikuasai makhluk jin, sebagaimana yang setiap saat dapat kita lihat dari apa yang ditayangkan oleh televisi pada akhir-akhir ini.

Barangkali kita perlu bertanya; mengapa orang – dibacakan ayat-ayat Alquran al-Karim – bisa kehilangan kesadaran dan kesurupan jin, dan yang dikatakan oleh para pelaku Rugyah tersebut malah mengeluarkan jin? Benarkah itu?

Makhluk jin adalah makhluk yang notabene lebih kuat dari manusia. Mereka diciptakan dari api sedang manusia diciptakan dari debu. Mereka dapat melihat manusia dari dimensi yang manusia tidak dapat melihat mereka. Mereka bisa dengan leluasa memasuki tubuh manusia akan tetapi manusia tidak dapat memasuki tubuh mereka, bahkan iblis dan balatentaranya yaitu para setan jin yang terkutuk telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sebagai musuh utama manusia.

Allah SWT. berfirman,”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuhmu “. QS Fathir ayat 6.

Supaya setan jin dapat melancarkan tipudayanya dengan mudah maka manusia harus dikuasai melalui wilayah kesadarannya, seperti sering terjadi belakangan ini.

Wilayah kesadaran manusia adalah bagian yang paling utama yang harus mendapatkan perhatian dan penjagaan dengan bersungguh-sungguh. Ia jangan dipertaruhkan dengan apa pun, lebih-lebih dengan alasan yang belum pasti dan dibuat – buat serta ditakut-takuti dengan tanpa alasan yang masuk akal.

Karena yang pasti adalah kesadaran itu, apabila dirasakan sehat, berarti sehat dan tidak ada jin di dalamnya. Kalau ada jin di dalamnya, berarti manusia itu sedang kesurupan.

Dengan kesadaran itu, supaya manusia – di dalarn keadaan yang bagaimanapun – tetap selalu dapat ingat kepada Allah Ta’ala dan selanjutnya supaya dapat bersyukur atas segala anugerah dan kenikmatan yang telah diturunkan kepadanya. Supaya manusia dapat melaksanakan pengabdian dengan sebaik-baiknya.

Barangkali banyak kalangan kurang memahami, sesungguhnya makhluk jin itu dapat bebas keluar masuk ke dalam tubuh manusia, serta untuk memberi informasi dan mengadakan tipudaya kepada manusia bahkan langsung melalui hatinya (QS. An-Nas ayat 5-6)

Muhammad Luthfi Ghozali, pengasuh Ponpres Al Fithrah, Gunung Pati Semarang.

Tanggapan Secara Garis Besar

Membaca tulisan saudara M. Luthfi Ghozali tentang Ruqyah pada awalnya saya masih berbaik sangka bahwa beliau belum mendalami bagaimana praktek ruqyah syar’iyyah sesuai tuntunan Rasulullah. Namun setelah saya membaca bukunya yang saya temukan secara tidak sengaja ketika saya mendatangi toko buku Toga Mas di Yogyakarta yang berjudul “Ruqyah dampak dan bahayanya”. Saya mendapatkan ada banyak sekali syubhat-syubhat maupun fitnah-fitnah keji yang dihembuskan untuk menghentikan missi da’wah tauhid yang dibawa oleh para Ustadz melalui ruqyah syar’iyyah. Selain itu saya banyak mendapatkan tulisan-tulisan berbau syirik, bid’ah, tahayul dan khurafat yang sekiranya sangat tidak layak untuk diyakini seorang pengasuh pondok pesantren. Maka kami dengan semangat da’wah tauhid, ingin membantah dan meluruskan syubhat-syubhat maupun fitnah-fitnah keji maupun keyakinan syirik, bid’ah, tahayul dan khurafat agar umat Islam terselamatkan akidahnya dari pemikiran dan keyakinan sesat M. Luthfi Ghozali.

Penyesatan Opini

Seiring dengan gencarnya berbagai pihak dalam mensosialisasikan ruqyah syar’iyyah di tengah masyarakat dewasa ini akhirnya ruqyah menjadi kalimat yang mulai membumi dan dikenal masyarakat luas. Saat mendengar dengung ruqyah, ada beberapa macam reaksi dan ekspresi masyarakat. Ada juga yang antusias dan meresponnya dengan penuh semangat dan ada yang menolak termasuk saudara Muhammad Lufhti Ghozali.

Diantara opini saudara Muhammad Lufhti Ghozali yang harus diluruskan adalah pemahamannya tentang ruqyah. Banyak masyarakat Islam di negeri kita ini khususnya, ketika mendengar atau mengetahui bahwa ada praktik pengobatan dengan metode ruqyah, mereka langsung memahami bahwa praktik pengobatan tersebut syar’i atau Islami. Perlu saudara ketahui tidak semua ruqyah itu Islami. Karena ruqyah sendiri ada dua macam. Ada ruqyah syar’iyyah yaitu ruqyah yang sesuai dengan syari’at Islam dan ada juga ruqyah syirkiyyah yaitu ruqyah yang mengandung syirik dan diharamkan oleh Islam.

Karena opini dan pemahaman yang salah, akhirnya banyak orang Muslimin yang mengaku telah menjadi korban praktik pengobatan yang berlabel ruqyah. Ada yang dirugikan secara materi, ada yang dirugikan secara kehormatan, dan ada juga yang dirugikan dari segi ideologi atau akidah.

Perlu saudara ketahui, para dukun dan paranormal sekarang ini ikut-ikutan menamakan produk syirik mereka dengan nama ruqyah. Padahal substansi dan isi pengobatannya tetap klenik dan perdukunan. Dengan memakai jubah Ustadz, mereka membaca mantra dan jampi-jampi yang menyimpang, lalu dipadu dengan ayat dan do’a yang diyakini sebagai ruqyah. Sungguh ini merupakan suatu fenomena yang patut diwaspadai yang dapat membuat umat Islam tertipu (apalagi ada acara ruqyah syirkiyyah yang ikut-ikutan disiarkan di media televisi dan elekronika yang dibumbui dengan unsur bid’ah dan syirik namun mengadopsi cara-cara terapi ruqyah yang syar’iyyah yang juga disiarkan di media televisi dan elektronika).

Sa’ad Muhammad Shadiq[3] berkata : “Ruqyah pada hakekatnya adalah berdoa dan tawassul untuk memohon  kepada Allah kesembuhan bagi orang yang sakit dan hilangnya gangguan dari badannya.”

Syekh Ibnu hajar al-‘Asqalani berkata, “Para ulama’ telah sepakat bahwa ruqyah dibolehkan apabila memenuhi 3 kriteria”[4]. Pertama, bacaanya terdiri kalam Allah (al-Qur’an) atau dengan asma’ dan sifat-Nya atau hadits Rasul. Kedua, bacaannya terdiri dari bahasa Arab atau bahasa yang dipahami yang tidak mengandung unsur kesyirikan. Ketiga, hendaklah diyakini bahwa bacaan ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, tapi berpengaruh karena kuasa dan izin Allah.

Dari kriteria diatas  maka apa yang saudara Muhammad Lufhti Ghozali lihat sesungguhnya adalah ruqyah yang syirkiyyah sebab saudara Muhammad Lufhti Ghozali menyebutkan ada Ustadz yang menggunakan tenaga dalam, memasukkan jin melalui medium tubuh manusia (seperti dalam acara Tim Pemburu Hantu). Ketahuilah sesungguhnya dalam ruqyah yang dituntunkan Rasulullah, tidak pernah Rasul  selain menggunakan bacaan Al-Qur’an dan doa-doa menambahi metodenya dengan tenaga dalam juga memakai ilmu-ilmu metafisik ataupun dengan sengaja memasukkan jin dalam tubuh manusia.

Apalagi para kiainya mengaku bisa menerawang jin, tahu yang ghoib, padahal Rasul sendiri tidak tahu yang ghoib kecuali apa yang telah diwahyukan padanya  (Al-A’raf :188). Atau para kiainya menganjurkan membaca amalan-amalan bid’ah (mantra aji kesaktian, membaca wirid ribuan kali yang tidak ada tuntunannya, mengamalkan hizib-hizib sesat), memakai jimat, rajah untuk melindungi dari jin dan sihir. Maka semua cara-cara itu adalah bid’ah dan penuh kesyirikan, maka tetaplah dinamakan ruqyah syirkiyyah sebab sudah sangat melenceng dari apa-apa yang telah dituntunkan Rasulullah.

Dari mana dalilnya saudara Muhammad Lufhti Ghozali mengatakan bahwa ruqyah yang syar’i (sesuai tuntunan Rasul) dengan hanya menggunakan ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa Rasulullah malah memasukkan jin dalam tubuh seseorang dan membuatnya sakit? Dan dari mana dalilnya orang yang terlihat sadar secara lahiriyah sesungguhnya sehat secara psikis dan orang yang “sadar” dalam dirinya pasti tidak ada syaithannya?

Ruqyah yang Mengusir Jin

Ubay ibn Ka’ab berkata: Ketika aku berada di dekat Rasulullah, datanglah seorang Arab Badui menemui beliau seraya berkata: “Wahai nabi Allah! Sesungguhnya saudaraku sedang sakit. ”Apa sakitnya” balas Beliau. Ia menjawab, ”Ia kerasukan Jin, wahai nabi Allah.” Kata Rasulullah lagi, ”Bawa saudaramu itu kesini!” Maka Rasulullah meminta perlindungan dan penyembuhan kepada Allah untuk diri saudaranya itu dengan  membacakan surah Al-Fatihah, 4 ayat pertama dari surah Al-Baqarah, 2 ayat pertengahan darinya, yaitu ayat yang ke-163 dan ke-164, ayat Kursi, dan 3 ayat yang terakhir dari surat Al-Baqarah tersebut. Kemudian ayat yang ke-18 dari surah Ali ‘Imram, ayat yang ke-54 dari surah al-A’araf, ayat yang ke-116 dari surah al-Mu’minun, ayat yang ke-3 dari surah al-Jin, 10 ayat pertama dari surah ash-Shaffat, ayat yang ke-18 dari surah Ali ‘Imran, 3 ayat terakhir dari surah al-Hasyr, surah al-Ikhlas, dan mu’awwidzatain hingga orang tersebut sehat sedia kala.

Dalil di atas menunjukkan dengan jelas bahwa Rasulullah malah mengusir jin dalam tubuh seseorang bukan malah memasukkannya. Namun jika ruqyah yang anda maksudkan  banyak mengandung unsur syirik, bid’ah dan khurafat  maka jelas dibantu syaithan dan akan dimasuki syaithan.

Al-Quran Sebagai Obat Penyakit  Fisik, Psikis dan Gangguan Jin

Ada banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an dapat menyembuhkan penyakit fisik dan psikis dan dapat membersihkan hatinya dari syaithan walau dia terlihat sehat secara fisik (lihat QS.Fushshilat:44, QS.Yuunus:57).

Dalam kitab-kitab ruqyah syar’iyyah banyak sekali yang menjelaskan bahwa jika ada unsur syaithan atau penyakit fisik dan psikis dalam tubuh pasien (walaupun tidak mengalami kesurupan) setelah dibacakan Al-Qur’an dan Doa-doa baik secara pribadi atau massal akan menunjukkan baik reaksi keras atau lembut sebagai efek dari penyembuhan dari penyakit ataupun sebagai efek pembersihan dari kotoran-kotoran syaithaniyah.

Jika saudara Muhammad Lufhti Ghozali mencemooh adanya orang yang muntah sewaktu diruqyah dengan dikatakan ruqyah hanyalah membuat orang sadar menjadi tidak sadar dengan muntah-muntah. Dan ruqyah dilakukan menimbulkan reaksi muntah dianggapnya bukan merupakan proses penyembuhan melainkan malah membuat orang sakit.

Tidaklah dia membaca dan menela’ah hadits dibawah ini, dimana Rasulullah meruqyah seorang anak yang menyebabkan keluarnya penyakit dari dalam tubuh anak tersebut melalui muntahannya hingga anak tersebut sehat kembali. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seorang wanita datang membawa anaknya kepada rasulullah saw seraya berkata:”Wahai rasulullah, anakku terkena suatu penyakit gila, sebabnya ketika kami makan dia mengambil semua makanan kami lalu merusaknya “. Kemudian Rasulullah saw mengusap dadanya dan meruqyah untuknya, lalu anak itu muntah dan keluar dari mulutnya sesosok binatang aneh yang langsung pergi menghilang[5].

Maka saya harap saudara Muhammad Lufhti Ghozali berhati-hati dalam beropini tanpa dasar dalil yang syar’i. Jangan malah menimbulkan kesalahpahaman pada masyarakat hingga menyamaratakan semua ruqyah adalah sesat dan menyuburkan kembali praktek perdukunan yang banyak ditentang para praktisi ruqyah syar’iyyah. Sebab konsekuensi ucapan dan kebodohan saudara dalam membedakan ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirkiyyah akan dipertanggung jawabkan didunia dan akhirat.

Semoga bantahan dan tanggapan kami yang akan kami bahas lebih lanjut dalam buku ini, atas penyesatan akidah yang dibuat saudara Muhammad Lufhti Ghozali pada bukunya yang berjudul “Ruqyah, Dampak dan Bahayanya” bisa menjadi sarana hidayah bagi Muhammad Lufhti Ghozali dan menjadikan para pembaca bisa membedakan ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirkiyyah dan menjadikan para pembaca untuk berhati-hati dengan khalthatu fikrah (penyesatan fikiran) yang dihembuskan para ahli bid’ah untuk menghentikan da’wah tauhid.

Terimakasih kepada para ustadz “pejuang tauhid” yang memberikan dukungan, bimbingan selama penulisan artikel bantahan ini. Terutama sekali kepada (Al-Hafidz) Ustadz Hafi Suyanto Lc yang juga ikut memberikan kontribusi pemikiran dan ilmu beliau dari semua materi penjelasan, bantahan yang ikut juga beliau tulis dalam blog ini. Juga kepada Ustadz Ja’far Umar Thalib[6], Ustadz Abu Sa’ad[7] dan  Ustadz Fadhlan Abu Yasir Lc[8] yang telah memberi support dan dukungannya.

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan memberi balasan yang setimpal.


[1] No. 04/13-26 februari 2006

[2] (Riwayat Bukhari di dalam Kitab Pengobatan hadits nomor 5295, Riwayat Muslim di dalam Kitab Salam hadits nomor 4080, Riwayat Tirmidzi di dalam Kitab Sholat hadis nomor 1989.)

[3] (dalam Shira’Bainal Haq wal Bathil halaman 147)

[4] (Fathul Bari:10/206)

[5] Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ad Darami, 1/12. Al haitsani berkata: Didalam sanadnya ada Faraq As Subkti, dia dinyatakan tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Ma’in dan Al-Ajla

[6] Pimpinan Ponpres Salafy “Ihya’assunnah”, Yogyakarta

[7] Pengasuh di Ponpres Salafy “Jamilurrahman”, Yogyakarta

[8] Pimpinan Ponpres Salafy Al-Hikmah, Boyolali

5 Tanggapan

  1. assalamualakum yai.niki rencang2 sangking meteseh

  2. Assalamu’alaikum Wr.Wb

    Saya sebagai salah satu pelaku metode ruqyah yang justru sangat murni. Tidak saya tambahkan hadist sama sekali. Maaf, saya yakin hadist banyak yang palsu…..Mueskipun ditulis shohih sekalipun di buku2. Ayat kursi, Al-Ikhlas, Al-Falaq, Annas…dan surat penting…..Boleh juga dibilang bukan ruqyah, cuman doa.

    Hal sangat mendasar yang menjadi kekurangan metode ruqyah adalah:
    1. Kemampuan ruqyah hanya 25 %, 75 % kembali kepada diri pribadi.
    2. Peruqyah tidak distandarkan mana yang benar- benar capable dan mana yang tidak. Kadang, hanya karena bacaannya bagus saja. Sedangkan keikhlasan hati….Hanya Allah yang tahu.
    3. Penanganan pasien sesungguhnya ada yang harus diruqyah 100%, ada yang tidak. Tergantung tingkat sakitnya pasien.
    4. Kesalahan pemahaman bahwa ruqyah hanya untuk gangguan jin saja. Padahal bisa untuk sakit yang lain.
    5. Peruqyah sama sekali tidak bisa merasakan ada gangguan jin atau tidak.

    Berdasarkan hal ini, ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:
    1. Kemampuan (keikhlasan peruqyah ditingkatkan). tapi jujur, saya pesimis. Dari 100 peruqyah….Saya menemukan hanya satu yang tidak mau dibayar dan jujur dengan kelemahan mereka.
    2. Qt dirikan balai ruqyah yang disahkan DEPAG dengan kredibilitas tinggi.
    3. Kerjasama dengan rumah sakit islam, karena ruqyah juga bisa digunakan untuk pengobatan. Dalam hal ini ada ruqyahnya, tetapi juga tetap ada obat yang diberikan. Misalnya obat penjaga stamina,dll
    4. Ditingkatkan pemahaman tentang keberadaan jin. Bukan tentang melihat. Bisa tentang merasakan….Hati bergetar sakit,….Beberapa peruqyah bilang ada wangi2an, ada suara gemuruh di atap, dsb.
    5. Sesungguhnya Muhammad Luthfi Ghozali hampir sama dengan saya, menyayangkan peruqyah palsu……Yang merusak citra ruqyah adalah mereka. Jadi, jangan salahkan beliau. Ruqyah yang marak sekarang ini penuh kepalsuan. Bukan ruqyah yang seharusnya. Mungkin juga qt harus mulai berbenah……sebagai muslim jangan mudah menyalahkan apalagi mengkafirkan orang…..Manusia ada kekurangan dan kelebihannya. Jangan pernah menilai seseorang…yang dinilai adalah tindakannya. Itupun harus dikaji dulu kebenarannya……Sekarang misalkan anda saya tanya……Adakah salah satu sunnah yang anda yakini kebenarannya? Benar dari Rasulullah dan benar bunyinya persis seperti itu? Relevan dengan kehidupan sekarang? Bukan hanya hasil budaya Arab zaman Rasulullah. Maaf, saya hanya khawatir ada hadist yang salah ikut dimasukkan. Bukankah akhlak Rasulullah adalah Alquran?….Hanya dengan Bismillahirrahman nirrahiim, dunia bisa bergoncang. Tidak perlu runtutan bacaan yang seperti itu, hanya perlu keikhlasan hati pembacanya. Hanya alquran yang dijaga kemurniannya.
    5. Saran saya….Kembalikan ruqyah hanya bacaan ayat suci alquran

    Wallahu a’lam bish shawab
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb

  3. Terlalu gegabah jika sdr Arief tidak percaya sama sekali dengan hadits dan ini sangat berbahaya…. bagaimana mgkn sdr Arief bisa melaksanakan shalat bila tdk percaya hadits…krn perintah shalat dalam al qur’an tehnisnya diajarkan Nabi melalui hadits yg kita terima dari pada ahli hadits yg dg sangat teliti telah memilih dan memilah mana yg shohih dan mana yg tidak… termasuk dalam hal do’a-do’a ruqyah yg diajarkan Nabi. Memang, tdk dipungkiri byknya hadits2 palsu… tapi itu tdk berarti bhw kita bisa mengabaikan hadits… justru para ahli hadits dg kehati2an yg sgt tinggi telah menyampaikan kpd kita mengenai hadits yg shohih dan yg tidak…. wallaahu a’lam.

  4. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Robi’ah Al Adawiyah seorang sufi wanita (maaf saya tidak ingin berdebat masalah sufi), yang sedang berpuasa berkata kepada pembantunya “Siapkanlah makanan untuk berbuka”. Tetapi pembantunya yang setia menjawab “Wahai tuanku, sesungguhnya tidak ada apa-apa lagi padaku, hanya gandum inilah yang tersisa”. Lalu Sang Sufi menjawab “ Seandainya saja Tuhanku memberiku bawang, acar dan minyak zaitun sebagai pelengkap roti yang engkau buat”
    Tak berapa lama datang seekor burung yang masuk rumah dan menjatuhkan bawang, acar dan minyak zaitun. Berkata sang pembantu “Wahai tuanku sesungguhnya Allah telah mengabulkan do’amu”. Tetapi Sang Sufiyah malah menangis tersedu-sedu. Berkata sang pembantu “ Wahai tuanku mengapa Engkau menangis seperti itu”. Jawab Sang Sufiyah “Wahai pembantuku yang setia, darimana aku tahu bahwa ini pemberian Allah, bagaimana seandainya ini adalah pemberian setan yang ingin melenakan aku?”.
    Semoga cerita ini bisa menjadi bahan renungan.
    Wa’alaikum salam wr. Wb.

    • Orang berdebat tentang agama, tentang pengobatan, dan tentang semua hal… mereka menganggap sesat satu dg yang lainnya.. menganggap yg lain sebagai musyrik dan dirinya sebagai muslim…
      Bagi saya itu cuma omong kosong… muslim apanya?? kebohongan besar… muslim itu sangat egaliter.. masa’ muslim bersikap sempit dan kaku….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: